“Barangsiapa yang tidak menghormati gurunya, maka tidak akan berhasil ilmunya.” H. Hasyim Asy’ari, Adabul ‘Alim wal Muta’allim
Dalam tayangan di Trans7 yang mengangkat kehidupan pesantren, menimbulkan reaksi keras dari kalangan pesantren dengan aksi boikot dan respons lainnya.
Lalu seperti apakah esensi fundamental dari kehidupan dan pendidikan di pesantren itu?.
KH. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan: “Seyogyanya seorang pelajar mencintai gurunya, memuliakan, dan menghormatinya, baik ketika masih hidup maupun sesudah wafatnya.”
Prinsip inilah yang menjadi jiwa dari hubungan santri-kiai, namun kerap hilang dalam berbagai penyajian yang ada.
Relasi santri dan kiai bukan sekadar hubungan edukatif, melainkan ikatan spiritual yang dalam. Mbah Hasyim menggarisbawahi: “Hendaknya seorang pelajar berkeyakinan bahwa gurunya adalah bapak rohaninya, karena dialah yang menghidupkan hati dengan cahaya ilmu dan hikmah, setelah hati itu mati karena kebodohan.”
Keyakinan inilah yang membedakan pendidikan pesantren dari sekadar transfer pengetahuan biasa.
Dalam tata cara menuntut ilmu, Mbah Hasyim merinci dengan sangat detail: “Hendaknya pelajar tidak berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat duduknya, tidak memulai pembicaraan di hadapannya kecuali dengan izinnya, tidak banyak bicara di hadapannya, dan tidak bertanya sesuatu padanya ketika guru sedang lelah.” Setiap etika ini mengandung makna spiritual yang dalam, yang sayangnya sering disederhanakan menjadi sekadar formalitas dalam berbagai narasi yang beredar.
Lebih lanjut, Mbah Hasyim menekankan: “Jangan sekali-kali menyakiti hati guru, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Barangsiapa menyakiti hati gurunya, maka terputuslah ilmunya dan terhalang manfaatnya.” Peringatan ini menunjukkan betapa sensitif dan sucinya hubungan antara santri dengan gurunya, yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.
Dalam hal penerimaan ilmu, Mbah Hasyim mengingatkan: “Hendaknya pelajar menerima segala petuah dan nasihat gurunya dengan lapang dada, tidak membantah, dan tidak menentang, meskipun menurut sangkaan pelajar itu bertentangan dengan pendapatnya.” Sikap pasrah dan tunduk inilah yang membuka pintu keberkahan ilmu, sesuatu yang sulit dijelaskan melalui tayangan yang terbatas.
Mbah Hasyim juga menekankan pentingnya menjaga wibawa guru: “Jangan memanggil guru dengan namanya saja, tetapi panggillah dengan panggilan yang menunjukkan penghormatan, seperti ‘Tuan Guru’ atau ‘Syaikh’.” Penghormatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari pengakuan akan kedudukan spiritual guru.
Dalam konteks yang lebih luas, Mbah Hasyim mengingatkan: “Ilmu itu didapatkan dengan cara menghormati guru, mendengarkan dengan seksama, dan mengamalkannya.”Trilogi inilah yang menjadi pondasi pendidikan pesantren – penghormatan, pendengaran, dan pengamalan – yang sayangnya sering terfragmentasi dalam berbagai penyajian.
Yang paling mendasar, Mbah Hasyim menegaskan: “Barangsiapa tidak menghormati guru, maka ilmunya tidak berkah, tidak bermanfaat, dan tidak membawa kebaikan.” Inilah hakikat yang sering terlewatkan ketika kamera hanya menangkap permukaan tanpa mampu menyelami makna terdalam dari pendidikan pesantren.
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk memahami bahwa hubungan santri-kiai dalam pesantren adalah hubungan spiritual yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar tontonan. Sebagaimana pesan Mbah Hasyim: “Hendaknya pelajar memandang guru dengan pandangan penghormatan dan pengagungan, dan meyakini kesempurnaannya.”Keyakinan inilah yang menjadi kunci keberkahan ilmu dalam tradisi pesantren.(*)
