Kemajuan hari ini sering kita ukur dari seberapa cepat teknologi berkembang, seberapa besar industri tumbuh, atau seberapa tinggi investasi masuk. Namun, ada satu pertanyaan yang kerap luput: apakah kemajuan itu benar-benar membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, atau justru meninggalkan kerusakan yang harus dibayar oleh alam dan generasi setelah kita?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pemaparan Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag., Ph.D. pada Advance Training (LK3) BADKO HMI JATIM di UPT Peningkatan Tenaga Kesejahteraan Malang, Kamis (6/8/2026). Beliau mengajak peserta melihat krisis ekologis bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai krisis moral dan spiritual.
Dalam pandangan teo-ekologis, manusia sebagai khalifah bukanlah pemilik bumi yang bebas mengambil apa saja, melainkan penjaga yang memiliki tanggung jawab untuk merawat dan memastikan kehidupan tetap berlanjut.
Gambaran paling dekat dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sampah plastik terus bertambah seiring gaya hidup konsumtif dan ketergantungan terhadap kemasan sekali pakai. Data SIPSN 2024 mencatat timbulan sampah mencapai 34 juta ton, dengan sekitar 19,48 persen berupa plastik. Persoalannya tidak berhenti pada tempat pembuangan akhir. Kebiasaan membeli, memakai sebentar, lalu membuang menunjukkan bahwa krisis lingkungan juga berakar pada cara kita menjalani kehidupan.
Dunia digital pun menghadirkan persoalan etis baru. Artificial intelligence (AI) yang seharusnya membantu manusia justru dapat digunakan untuk menciptakan deepfake, memalsukan identitas, menipu masyarakat, hingga memanipulasi informasi. Komdigi mencatat serangan deepfake meningkat drastis dari 2024 ke 2025. Artinya, perkembangan teknologi tanpa kedewasaan moral bisa menjadi ancaman baru bagi kepercayaan publik.
Permasalahan krisis air bersih lebih nyata lagi. Publikasi UNICEF pada Mei 2026 menyebut baru 30,45 persen rumah tangga Indonesia memiliki akses terhadap air minum aman. Di tengah perubahan iklim, kekeringan, banjir, pencemaran sungai, dan kerusakan daerah tangkapan air membuat persoalan ini semakin serius. Air bukan sekadar kebutuhan ekologis, tetapi menyangkut kesehatan, pendidikan, ekonomi, bahkan keberlangsungan kehidupan manusia.
Di sinilah gagasan teo-ekologis menemukan relevansinya. Kerusakan alam pada akhirnya selalu kembali kepada manusia. Ketika air tercemar, kesehatan terancam. Ketika hutan hilang, sumber penghidupan ikut lenyap. Ketika udara memburuk, kelompok masyarakat paling rentan menjadi pihak pertama yang menanggung akibatnya.
Prof. Triyo juga menegaskan bahwa kerusakan lingkungan dapat mengganggu tujuan-tujuan dasar kehidupan manusia dalam kerangka prinsip kemaslahatan dalam Islam.
Karena itu, kepemimpinan masa depan tidak cukup hanya cerdas dalam membaca peluang ekonomi. Pemimpin harus terbuka terhadap kritik, berpijak pada nilai, mampu berkolaborasi, serta mempunyai pandangan pembangunan berkelanjutan berbasis SDGs dan ICT. Teknologi harus membantu manusia mengambil keputusan yang lebih adil, bukan sekadar mempercepat eksploitasi.
Transisi menuju energi terbarukan menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Pada 2025, bauran energi terbarukan Indonesia masih sekitar 15,75 persen. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar dari tenaga surya, hidro, panas bumi, dan angin. RUPTL 2025–2034 telah membuka ruang lebih besar bagi energi baru terbarukan dan penyimpanan energi.
Tantangannya adalah memastikan target tersebut benar-benar diwujudkan, termasuk mendorong smelter nikel, kawasan industri, hingga pusat data beralih dari batu bara menuju sumber energi yang lebih bersih.
Bagi kader HMI, perjuangan ekologis berarti memastikan teknologi, industri, dan energi tunduk pada amanah kemanusiaan, bukan sebaliknya. Sebab, ukuran kemajuan bukanlah seberapa banyak yang mampu kita produksi hari ini, melainkan seberapa bijak kita memastikan bahwa pembangunan tidak merampas hak hidup orang lain dan generasi yang belum lahir.
Kemajuan yang kehilangan etika pada akhirnya bukan kemajuan, melainkan kemunduran yang dibungkus teknologi.
Oleh: Suji Khoirani
