Jember – Ratusan perwakilan pedagang Pasar Tanjung bersama perwakilan mahasiswa duduk bareng dengan Bupati Jember Muhammad Fawait di Pendopo Wahyawibawagraha, Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut dari kunjungan mendadak Bupati yang akrab disapa Gus Fawait ke Pasar Tanjung beberapa waktu lalu. Dalam kunjungan itu, Bupati mendengarkan langsung berbagai persoalan dan aspirasi pedagang yang berjualan di dalam pasar maupun di area luar pasar.
Dalam forum tersebut, para pedagang diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan berdiskusi secara terbuka. Perwakilan pedagang yang berjualan di bagian atas maupun bawah pasar turut menyampaikan pandangan masing-masing, disaksikan perwakilan mahasiswa.
Diskusi berlangsung cukup panjang. Namun, pertemuan akhirnya menemukan titik temu. Para perwakilan pedagang dan mahasiswa menyatakan kesepakatan terhadap sejumlah opsi yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten Jember untuk penataan dan keberlanjutan Pasar Tanjung.
Rencananya, opsi tersebut mulai diterapkan pada Rabu (23/9/2026). Pelaksanaannya akan dicermati dan diawasi bersama. Jika dalam penerapannya ditemukan kekurangan, pemerintah akan melakukan evaluasi dan perbaikan.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, pertemuan tersebut merupakan bentuk komitmennya untuk menindaklanjuti persoalan Pasar Tanjung setelah dirinya turun langsung ke lapangan.
“Yang pertama memenuhi janji saya seminggu yang lalu. Saya datang ke Pasar Tanjung dan akan menindaklanjuti apa-apa yang menjadi solusi untuk keberlanjutan Pasar Tanjung. Dan tentunya nanti bukan hanya Pasar Tanjung, tapi pasar-pasar yang lain,” ujar Gus Fawait seusai diskusi.
Menurutnya, pertemuan tersebut juga menjadi momentum penting karena pedagang dari berbagai sisi Pasar Tanjung dapat duduk bersama dalam satu forum untuk membicarakan masa depan pasar.
“Insyaallah tadi disampaikan, dalam sejarah baru sekarang para pedagang diajak berdiskusi, baik yang di atas maupun yang di bawah, di satu tempat, satu forum, dan tempatnya pendopo,” katanya.
Gus Fawait mengapresiasi sikap para pedagang yang dinilainya mampu menyampaikan perbedaan pendapat secara demokratis. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak harus berujung pada konflik.
“Boleh beda pendapat, tapi mereka sama-sama menjaga kerukunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah solusi yang ditawarkan Pemkab Jember telah mendapatkan persetujuan dalam forum tersebut. Kebijakan itu akan mulai dicoba dan dievaluasi secara berkala.
“Tidak mungkin kita bikin kebijakan langsung sempurna. Tidak mungkin kita bikin kebijakan langsung bagus. Tapi kita hari ini mencoba berikhtiar untuk menindaklanjuti apa yang menjadi kebutuhan dari para pedagang,” jelasnya.
Gus Fawait juga menegaskan bahwa seluruh masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi. Karena itu, dalam forum tersebut semua pihak diberikan kesempatan berbicara, termasuk mereka yang menyampaikan kritik dengan nada keras.
“Semua saya kasih kesempatan bicara. Ada yang agak keras, ada yang santai. Karena semua rakyat saya. Saya yakin niat beliau-beliau adalah untuk mencari solusi, bukan untuk menambahi masalah,” katanya.
Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah keberadaan pedagang dari luar Kabupaten Jember. Gus Fawait menyampaikan bahwa pemerintah akan memprioritaskan warga Jember terlebih dahulu dalam penataan yang dilakukan.
“Kita prioritaskan untuk warga yang di dalam Kabupaten Jember. Baru nanti setelahnya kita pikirkan yang dari luar daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, yang paling penting saat ini adalah mencegah kembali munculnya konflik antara pedagang yang berada di dalam pasar dengan pedagang yang berjualan di luar atau di sekitar jalan.
“Yang penting sekarang tidak boleh lagi ada konflik antara pedagang yang di atas sama yang di bawah, yang di pasar maupun yang di jalan. Ini sudah mulai ada titik temu,” tegasnya.
Sementara terkait rencana rehabilitasi atau pembongkaran total Pasar Tanjung, Gus Fawait menyebut persoalan tersebut merupakan konteks berbeda yang akan dibahas lebih lanjut.
Sebab, dalam forum tersebut muncul berbagai aspirasi. Ada pihak yang sebelumnya menyetujui pembongkaran setelah Ramadan, sementara sebagian lainnya mengusulkan agar pasar tidak dibongkar total melainkan direhabilitasi.
“Sekarang ada yang mengatakan kalau bisa jangan dibongkar tapi direhab. Itu bagian dari demokrasi dan nanti kita cari titik temu bersama,” kata Gus Fawait.
Ia menegaskan, apa pun pilihan teknis nantinya, semangat utama pemerintah tetap sama, yakni memperbaiki kondisi pasar tradisional agar lebih baik dan mampu memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun masyarakat.
“Mau dibongkar, mau direhab, itu menjadi hal yang lain, urusan teknis,” pungkasnya.
Pertemuan antara pedagang, mahasiswa dan Pemkab Jember tersebut berlangsung tertib hingga selesai. Seluruh pihak sepakat mengawal pelaksanaan opsi yang telah disepakati bersama mulai besok, sekaligus membuka ruang evaluasi apabila dalam pelaksanaannya masih ditemukan persoalan.
