Aceh – Seolah terlilit ironinya sendiri, warga di sejumlah wilayah Aceh kini harus mengangkat alis, bukan buku saat harga cabai, telur, dan BBM melesat tajam usai bencana. Jarak, longsor, dan banjir telah mempersempit jalur distribusi, membuat “sepaket nasi” berubah mahal di negeri yang dikenal subur.
Kenaikan harga barang-barang pokok di Aceh mendorong respons cepat dari pusat. Muhaimin yang akrab disapa Cak Imin menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan percepatan distribusi bantuan ke wilayah terdampak banjir dan longsor, termasuk di Aceh. Pernyataan itu disampaikan saat Cak Imin ditemui di TMII, Jakarta, Selasa (9/12/2025).
Menurut Cak Imin, keterlambatan pasokan menjadi akar masalah kenaikan harga. “Naiknya bahan pokok itu karena enggak ada stok, kan. Jadi kebutuhan tidak ada suplai,” ujarnya. Pemerintah pun disebut telah mengerahkan “semua helikopter, digerakkan untuk mempercepat distribusi dan pertolongan tanggap darurat.”
Sejumlah data dan laporan mendukung pernyataan tersebut. Di beberapa pasar di Aceh, cabai merah tercatat tembus hingga Rp 250.000 per kilogram, sementara bawang bombay naik ke sekitar Rp 40.000 per kilo, dan bawang merah sekitar Rp 50.000 per kilo. Kenaikan harga ini makin parah di daerah terisolir akibat longsor dan banjir, distribusi terganggu, stok menipis, sehingga barang pokok menjadi mahal.
Dampak langsung dari situasi ini cukup serius. Warga di beberapa kecamatan terdampak banjir termasuk di kabupaten yang akses jalannya rusak atau tertimbun longsor, terpaksa membeli bahan pokok dengan harga berkali lipat dari harga normal. Sekalipun ada bantuan, alur distribusi yang terganggu membuat suplai tak tepat waktu.
Kondisi ini membuat berbagai pihak menyerukan agar harga kebutuhan pokok tetap stabil meski dalam situasi darurat. Penekanan kembali dilakukan agar potensi penimbunan dan lonjakan harga tak diperparah oleh aksi spekulasi, terutama di tengah krisis distribusi.
Langkah cepat dari pemerintah dengan mengerahkan helikopter dan mempercepat distribusi dianggap satu-satunya jalan untuk meredam lonjakan harga dan kelangkaan bahan pokok.
Penanganan segera terhadap krisis distribusi dan stabilisasi harga dibutuhkan agar penderitaan warga Aceh tak berkepanjangan.
