Samarinda – Kongres XXXIX Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang digelar di Kota Samarinda sejak 16 Mei 2025 dipenuhi dinamika khas forum mahasiswa. Ratusan kader dari seluruh Indonesia memadati Convention Hall Samarinda untuk mengikuti agenda nasional organisasi ini, yang dijadwalkan berlangsung hingga 21 Mei, dengan kemungkinan diperpanjang tergantung situasi sidang.
Ketua Harian Panitia Kongres, Paulinus Dugis, dalam konferensi pers yang digelar Senin (20/5/2025), mengakui bahwa sempat terjadi kericuhan ringan dalam salah satu sesi sidang. Namun ia menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan bagian dari dinamika yang wajar dalam sebuah kongres besar, terlebih dalam forum yang melibatkan banyak pemikiran dan perbedaan pandangan.
“Apa yang terjadi tadi malam mungkin terlihat sedikit chaos, tapi itu hal biasa saja dalam forum mahasiswa. Bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan,” ujar Paulinus.
Menurutnya, kongres sekelas GMKI yang melibatkan lebih dari 500 peserta dari 120 cabang se-Indonesia pasti tidak terlepas dari dinamika, terutama dalam pembahasan-pembahasan penting terkait tata tertib dan pemilihan pimpinan organisasi. Ia menyebut bahwa media sosial dan pemberitaan media massa kadang melebih-lebihkan situasi yang sesungguhnya dapat diselesaikan dengan dialog.
“Kami, panitia, terus berupaya maksimal memberikan yang terbaik kepada pengurus pusat, peserta dari cabang-cabang, dan para peninjau. Semangat kami satu, ingin melihat GMKI ke depan lebih baik,” katanya.
Tegaskan Netralitas Panitia
Menanggapi berbagai tuduhan yang menyebut panitia berpihak pada kandidat tertentu, Paulinus dengan tegas membantah hal tersebut. Ia menegaskan bahwa panitia menjunjung tinggi prinsip independensi dan hanya bertugas memastikan jalannya kongres secara demokratis.
“Kami belum mengetahui berapa jumlah calon yang akan maju dalam kongres ini. Informasi yang berkembang menyebutkan bisa empat, bisa juga lebih, tergantung dinamika persidangan selanjutnya. Tapi yang pasti, panitia tidak berpihak kepada siapa pun,” tegasnya.
Sikap serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua Harian Panitia, Saiduani Nyuk. Ia menyebut bahwa tudingan adanya keberpihakan panitia adalah hal yang tidak berdasar dan cenderung provokatif.
“Panitia tidak dalam kapasitas memenangkan kandidat. Kami hanya bertanggung jawab memastikan kongres berjalan baik, aman, dan selesai sesuai agenda,” ujarnya.
Saiduani menambahkan bahwa panitia telah mengakomodir seluruh cabang dari Indonesia. Walaupun tidak semua kader bisa masuk ke ruang sidang karena keterbatasan ruang, keterwakilan dari masing-masing cabang telah diatur dan dihargai secara adil.
Upaya Menjaga Kondusivitas
Peristiwa pelemparan kursi yang sempat terjadi di tengah persidangan menjadi perhatian publik. Namun Paulinus dan Saiduani sepakat bahwa insiden itu tidak mencerminkan keseluruhan proses kongres, melainkan sekadar ekspresi spontan dari peserta yang merasa pendapatnya belum diakomodir.
“Dalam forum mahasiswa yang penuh semangat, dinamika seperti itu bisa terjadi. Itu adalah bentuk keberanian dalam menyampaikan pendapat. Kami pastikan koordinasi keamanan akan terus ditingkatkan agar hal seperti itu tidak terulang,” ujar Paulinus.
Saiduani juga meminta seluruh civitas GMKI untuk ikut menjaga keamanan dan ketertiban, mengingat kongres ini tidak hanya menjadi perhatian internal organisasi, tetapi juga menyita perhatian masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur secara umum.
“Kami mengimbau kepada semua peserta dan kader agar tidak terprovokasi. GMKI adalah anak kandung gereja, yang harus mengedepankan prinsip iman, kasih, dan kebijaksanaan,” katanya.
Proses Kongres Terus Berjalan
Meski sempat mengalami keterlambatan dalam pelaksanaan sesi-sesi sidang, panitia memastikan bahwa proses kongres tetap berlangsung. Hingga Senin (20/5), persidangan telah masuk pada tahap pembahasan tata tertib sidang.
“Roll call peserta sudah dilakukan di setiap sesi, walaupun memang ada keterlambatan dari beberapa pihak. Tapi proses tetap berjalan,” ujar Saiduani.
Ia berharap agar kongres ini bisa segera rampung, sehingga para mahasiswa dapat kembali ke daerah masing-masing dan melanjutkan agenda organisasi di tingkat lokal.
“Kami ingin proses ini selesai lebih cepat, agar hasilnya bisa segera diterapkan. Kita ingin kongres ini melahirkan pikiran-pikiran besar untuk membangun bangsa,” tegasnya.
Apresiasi untuk Pemerintah dan Keamanan
Panitia juga menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung jalannya kongres. Paulinus menyebut bahwa kehadiran sejumlah pejabat tinggi negara menjadi bukti perhatian besar terhadap GMKI.
“Bapak Kapolri, Menteri ESDM, dan Menteri Pemuda dan Olahraga hadir langsung dalam pembukaan kongres ini. Ini menunjukkan bahwa GMKI tetap menjadi mitra strategis dalam pembangunan bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kalimantan Timur, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Samarinda, serta jajaran Pemprov dan Pemkot yang telah memberikan dukungan logistik dan fasilitas kepada panitia.
“Kami juga sangat berterima kasih kepada aparat keamanan, khususnya Polres Samarinda, yang siang malam menjaga kondusivitas dan kelancaran kongres ini,” kata Paulinus.
Kongres GMKI XXXIX di Samarinda menjadi bukti betapa tingginya semangat kader-kader muda untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, intelektualitas, dan iman dalam satu kesatuan gerakan. Meski dinamika sempat muncul, panitia memastikan bahwa semua tetap terkendali dan berada dalam koridor musyawarah.
Dengan lebih dari 500 peserta yang hadir dari seluruh Indonesia, kongres ini diharapkan tidak hanya melahirkan pemimpin baru GMKI, tetapi juga gagasan besar untuk peran mahasiswa Kristen dalam membangun negeri. Kongres masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dan semua mata kini tertuju pada bagaimana dinamika ini akan berakhir dengan solusi dan kesepakatan yang mempersatukan.
