Malang – Selama ini ikan sapu-sapu identik dengan spesies invasif yang dianggap merusak ekosistem perairan Indonesia. Populasinya yang berkembang pesat bahkan sering memicu upaya pemberantasan di berbagai daerah. Namun, di balik stigma tersebut, ternyata tersimpan potensi yang selama ini jarang diketahui masyarakat.
Pandangan berbeda itu disampaikan oleh Prof. Ir. Sukoso, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), dalam program Let’s Talk Podcast UBTV. Sebagai dosen dan peneliti yang berkiprah pada bidang Teknologi Hasil Perikanan, Budidaya Perikanan, serta Bioteknologi Perikanan dan Kelautan, Prof. Sukoso mengajak masyarakat melihat ikan sapu-sapu secara lebih objektif melalui pendekatan ilmiah.
Menurutnya, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) bukanlah spesies asli Indonesia. Ikan ini berasal dari Amerika Latin dan awalnya diperkenalkan sebagai ikan hias akuarium karena kemampuannya membersihkan lumut dan alga. Namun, pelepasan ikan ke perairan umum menyebabkan populasinya berkembang pesat hingga mendominasi berbagai sungai di Indonesia.
“Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi sehingga mampu bertahan pada kondisi perairan yang kualitasnya sudah menurun,” jelas Prof. Sukoso.
Kemampuan tersebut memang membuat ikan sapu-sapu mampu bersaing dengan spesies lokal, tetapi di sisi lain juga memberikan informasi penting mengenai kondisi lingkungan. Menurut Prof. Sukoso, keberadaan ikan ini dalam jumlah besar dapat menjadi indikator biologis bahwa suatu badan air telah mengalami pencemaran atau penurunan kualitas lingkungan.
Alih-alih hanya dipandang sebagai ancaman, Prof. Sukoso menilai pendekatan pengelolaan berbasis riset dapat membuka peluang baru. Salah satunya melalui pengembangan budidaya secara terkontrol sehingga spesies ini dapat dimanfaatkan tanpa memperparah penyebarannya di alam.
“Ikan ini memiliki tingkat reproduksi yang sangat tinggi. Jika dikelola dengan sistem budidaya yang benar, justru berpotensi menjadi sumber protein alternatif yang bernilai ekonomi,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana ikan lele yang dahulu sempat dipandang sebelah mata kini berhasil berkembang menjadi salah satu komoditas budidaya unggulan di Indonesia. Menurutnya, perubahan persepsi tersebut lahir melalui riset, inovasi teknologi, dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Prof. Sukoso juga menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein yang cukup baik. Namun, ia mengingatkan bahwa pemanfaatannya sebagai bahan pangan tidak boleh berasal dari hasil tangkapan di sungai-sungai yang tercemar. Mengingat spesies ini mampu hidup di lingkungan yang terpapar limbah, terdapat potensi akumulasi logam berat maupun mikroplastik pada tubuh ikan.
Oleh karena itu, apabila akan dimanfaatkan sebagai sumber pangan, ikan sapu-sapu harus dibudidayakan dalam sistem yang terkontrol dengan kualitas air yang memenuhi standar keamanan pangan.
Lebih jauh, Prof. Sukoso menilai bahwa pengelolaan spesies invasif tidak selalu harus berorientasi pada pemusnahan. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan justru dapat menghasilkan solusi yang lebih efektif, yakni mengendalikan populasinya sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat melalui inovasi produk dan pengembangan ekonomi berbasis sumber daya perairan.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melepaskan ikan peliharaan ke sungai maupun badan air lainnya. Tindakan yang terlihat sederhana tersebut dapat menjadi awal penyebaran spesies asing invasif yang pada akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem perairan Indonesia.
Melalui diskusi ini, Prof. Sukoso mengajak masyarakat untuk membangun cara pandang yang lebih komprehensif terhadap spesies invasif. Menurutnya, tantangan lingkungan tidak selalu harus dijawab dengan pendekatan destruktif, tetapi dapat diubah menjadi peluang melalui riset, inovasi, dan tata kelola yang bertanggung jawab.
Komitmen Universitas Brawijaya dalam menghadirkan solusi berbasis sains terhadap berbagai persoalan lingkungan sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui eksplorasi sumber pangan alternatif yang aman dan berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan sumber daya hayati secara bertanggung jawab, SDG 14 (Life Below Water) melalui pengelolaan ekosistem perairan berbasis ilmu pengetahuan, serta SDG 15 (Life on Land) melalui upaya pengendalian spesies invasif yang mendukung kelestarian keanekaragaman hayati.
