Malang – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor perikanan budidaya Indonesia, mulai dari degradasi lingkungan pesisir, penurunan kualitas air, hingga dampak perubahan iklim, Prof. Dr. Ir. Muhammad Musa, M.S. memilih menempuh jalan yang berbeda. Baginya, peningkatan produksi tambak tidak harus dilakukan dengan mengorbankan ekosistem. Sebaliknya, alam justru harus menjadi bagian dari solusi. Gagasan inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu akademisi yang konsisten mengembangkan konsep silvofishery dan ecogreen aquaculture di Indonesia.
Perjalanan ilmiahnya tidak dimulai dari ruang kuliah, melainkan dari tambak. Sejak menyelesaikan pendidikan sarjana, Prof. Musa telah terjun langsung di kawasan pertambakan udang windu di Situbondo. Pengalaman lapangan tersebut menjadi fondasi yang membentuk cara pandangnya terhadap sistem budidaya perikanan.
Ketertarikannya semakin berkembang saat menempuh pendidikan doktor dengan fokus penelitian budidaya bandeng di Sidoarjo, hingga akhirnya mengabdikan diri sebagai akademisi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB).
Salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya terjadi ketika dipercaya memimpin laboratorium lapang FPIK UB di Probolinggo selama kurang lebih 13 tahun. Laboratorium tersebut memiliki kawasan tambak seluas sekitar lima hektare, dengan sekitar 1,5 hektare di antaranya telah ditumbuhi mangrove secara alami.
Karena kawasan tersebut telah masuk sebagai wilayah konservasi, mangrove tidak diperbolehkan ditebang. Kondisi itu sempat menjadi tantangan bagi pengelolaan tambak, tetapi justru membuka ruang lahirnya sebuah inovasi.
Alih-alih memandang mangrove sebagai penghambat budidaya, Prof. Musa melihat potensi besar untuk mengintegrasikan ekosistem mangrove dengan kegiatan pertambakan melalui sistem silvofishery. Dari sinilah perjalanan panjang penelitian silvofishery dimulai.
Menurutnya, pembangunan tambak tidak seharusnya hanya mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi juga harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan agar produktivitas dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
Dalam berbagai penelitian dan praktik lapangan, Prof. Musa banyak mengembangkan sistem silvofishery dengan model komplangan maupun empang parit. Di kawasan Probolinggo, sistem komplangan dinilai lebih sesuai untuk budidaya udang karena memudahkan proses pemanenan sekaligus tetap mempertahankan fungsi ekologis mangrove.
Pengalaman tersebut bahkan mengacu pada praktik silvofishery yang pernah dikembangkan di kawasan pertambakan Pasenan, Lampung Timur, salah satu kawasan tambak terbesar di Asia Tenggara pada masanya.
Bagi Prof. Musa, mangrove memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi nursery ground bagi berbagai biota perairan. Melalui pengamatannya selama bertahun-tahun, ia menemukan bahwa keberadaan mangrove turut memengaruhi dinamika ekosistem tambak, termasuk memperbaiki kualitas air dan mengendalikan komposisi pakan alami.
Di kawasan tambak Probolinggo yang mendapat tekanan aktivitas manusia cukup tinggi, keberadaan mangrove mampu menekan dominasi blue-green algae dan mendorong berkembangnya diatom yang lebih sesuai sebagai pakan alami bagi organisme budidaya.
Hasil tersebut menjadi salah satu dasar lahirnya konsep ecogreen aquaculture, sebuah pendekatan budidaya yang mengintegrasikan produktivitas dengan pemulihan ekosistem pesisir.
Menurut Prof. Musa, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh teknologi maupun intensifikasi produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Berbagai implementasi silvofishery yang dikembangkannya menunjukkan hasil yang menjanjikan. Pada salah satu sistem komplangan yang dikelola, budidaya udang mampu berlangsung hingga sepuluh siklus dalam kurun empat tahun tanpa mengalami kegagalan panen.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa konservasi mangrove dan peningkatan produktivitas tambak bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan apabila dirancang berdasarkan prinsip ekologi.
Meski demikian, tantangan tidak pernah berhenti. Pada pertengahan 2024, kawasan tambak yang menjadi lokasi pengembangan silvofishery terdampak banjir rob yang menyebabkan kerusakan pada sebagian tanggul tambak.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim menuntut sistem budidaya yang semakin adaptif, tangguh, dan berbasis pada pengelolaan lingkungan yang baik.
Komitmen Prof. Musa dalam mengembangkan akuakultur berkelanjutan juga tercermin dari rekam jejak akademiknya. Berbagai publikasi ilmiah yang dihasilkannya dalam jurnal internasional bereputasi membahas beragam isu strategis, mulai dari kualitas perairan, plankton, mikroalga, budidaya udang vaname, daya dukung lingkungan tambak, hingga pengelolaan ekosistem pesisir.
Penelitiannya juga mencakup isu-isu aktual, seperti kontaminasi mikroplastik pada tambak udang di Probolinggo, analisis beban limbah dan daya dukung tambak intensif, bioindikator kualitas air, dinamika plankton di kawasan estuari, serta inovasi pengembangan nanovaksin berbasis Chlorella vulgaris untuk meningkatkan kesehatan ikan budidaya.
Konsistensi tersebut menunjukkan kiprah Prof. Musa sebagai akademisi yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis riset untuk menjawab tantangan sektor akuakultur Indonesia.
Selama puluhan tahun berkarya, Prof. Muhammad Musa membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih, melainkan dapat berawal dari persoalan nyata yang ditemui di lapangan.
Dari sebuah tambak di Probolinggo yang sebagian lahannya ditumbuhi mangrove, lahir gagasan yang kini menjadi rujukan dalam pengembangan budidaya perikanan berkelanjutan.
Melalui silvofishery dan ecogreen aquaculture, pemikiran tersebut sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals atau SDGs, khususnya SDG 2: Zero Hunger melalui peningkatan produktivitas pangan berbasis perikanan, SDG 13: Climate Action melalui pengembangan sistem budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim, SDG 14: Life Below Water melalui pelestarian ekosistem pesisir dan peningkatan kualitas perairan, serta SDG 15: Life on Land melalui konservasi dan pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan.
Melalui dedikasinya sebagai peneliti dan pendidik di FPIK UB, Prof. Musa terus menunjukkan bahwa produktivitas perikanan dan kelestarian lingkungan bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan fondasi yang harus berjalan beriringan demi masa depan akuakultur Indonesia.
Dari sebuah tambak di Probolinggo yang sebagian lahannya ditumbuhi mangrove, lahir gagasan yang kini menjadi rujukan dalam pengembangan budidaya perikanan berkelanjutan. Melalui silvofishery dan ecogreen aquaculture, ia terus menggaungkan bahwa masa depan perikanan Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa besar hasil panen yang diperoleh, tetapi juga pada kemampuan menjaga ekosistem pesisir agar tetap lestari bagi generasi yang akan datang.
