Malang – Biopori umumnya dibuat menggunakan pipa paralon. Namun, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menghadirkan pendekatan berbeda. Melalui inovasi SI OPAL (Sistem Pengolahan Sampah Biopori Alam Lestari), mereka memanfaatkan toples plastik bekas sebagai media biopori yang tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga mendorong masyarakat mengolah sampah organik sejak dari rumah tangga.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh 17 mahasiswa Kelompok 8 Bakti Akademisi untuk Negeri (BAHARI) 2026 FPIK UB dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pagedangan, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Di bawah bimbingan Attabik Mukhammad Amirillah, S.Pi., M.Si., dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), mahasiswa mengajak masyarakat melihat bahwa barang bekas yang sering dianggap tidak bernilai dapat disulap menjadi solusi sederhana untuk menjaga kualitas lingkungan.
Berbeda dengan biopori konvensional yang menggunakan pipa PVC atau paralon, SI OPAL memanfaatkan toples plastik bekas yang dimodifikasi sebagai wadah pengolahan sampah organik. Sampah dapur yang sebelumnya berpotensi menumpuk dan mencemari lingkungan dimasukkan ke dalam biopori untuk terurai secara alami menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanah.
Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, tim BAHARI memandang pengelolaan sampah daratan memiliki hubungan erat dengan kesehatan ekosistem perairan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menghasilkan air lindi atau leachate maupun mikroplastik yang akhirnya terbawa aliran air menuju sungai dan badan perairan.
Melalui SI OPAL, mahasiswa memperkenalkan konsep pengelolaan lingkungan dari hulu ke hilir. Pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga menjadi langkah preventif untuk mengurangi pencemaran perairan sekaligus meningkatkan daya resap tanah melalui pembentukan kompos alami. Pendekatan ini juga mengusung konsep waste to wealth, yaitu mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Program tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Pagedangan. Sebanyak 58 peserta yang terdiri atas kepala desa beserta perangkat desa dan para kader penggerak mengikuti kegiatan yang berlangsung di Pos 11 RT 3/RW 1 dengan penuh antusias.
Suasana penyuluhan dibuat interaktif melalui demonstrasi pembuatan SI OPAL, diskusi, hingga kuis berhadiah yang mendorong partisipasi aktif peserta. Bahkan, para kader desa turut berkolaborasi membuat konten edukasi di media sosial sebagai upaya memperluas penyebaran informasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga.
Selain berfokus pada aspek lingkungan, program ini juga mendorong pemberdayaan perempuan sebagai pengelola utama sampah domestik. Melalui pelatihan tersebut, ibu-ibu kader didorong menjadi agen perubahan dalam membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah organik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Sebagai bentuk komitmen keberlanjutan, mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Toples biopori SI OPAL yang telah dimodifikasi langsung dipasang di salah satu rumah kader yang berada di kawasan Pos 11 sebagai pilot project. Percontohan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi warga lain untuk mereplikasi sistem serupa sehingga pengelolaan sampah organik dapat dilakukan secara mandiri di tingkat rumah tangga.
Dosen pembimbing kegiatan, Attabik Mukhammad Amirillah, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa inovasi sederhana seperti SI OPAL menunjukkan bagaimana ilmu yang dipelajari mahasiswa dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Pengelolaan sampah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kualitas lingkungan perairan. Melalui inovasi sederhana yang mudah diterapkan masyarakat, mahasiswa belajar bahwa konservasi tidak selalu harus dilakukan dengan teknologi yang rumit, tetapi dapat dimulai dari solusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Melalui SI OPAL, mahasiswa FPIK UB tidak hanya mengajak masyarakat mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membangun kesadaran bahwa menjaga kualitas lingkungan harus dimulai dari rumah. Inovasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas mahasiswa mampu menghadirkan solusi yang sederhana, murah, dan mudah direplikasi untuk mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Program ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui penguatan peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pengurangan sampah, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan emisi dari sampah organik, serta SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya mencegah pencemaran yang berasal dari daratan menuju ekosistem sungai dan perairan.
