Wajah pesisir kerap diwarnai cerita pasang-surut, bukan hanya ombak, tapi juga manusia. Bontang, kota kecil di pesisir Kalimantan Timur, punya nama yang menyimpan lebih dari sekadar arti harfiah. Ia adalah perpaduan antara legenda, sejarah, dan transformasi industri—dari kisah para pendatang hingga deru mesin kilang LNG terbesar di Asia.
Nama “Bontang” dipercaya berasal dari dua versi populer. Pertama, gabungan kata Belanda bond (ikatan) dan singkatan tang dari pendatang, menjadikannya “ikatan para pendatang”. Versi ini lebih dianggap sebagai etimologi rakyat, karena tidak ada bukti kamus Belanda yang valid.
Versi kedua lebih bernuansa lisan. Dalam cerita masyarakat lama Bontang Kuala, nama itu berasal dari frase Melayu “bebulang datang”, merujuk pada tiga pendatang berserban yang menepi di pesisir. Meski tidak tercatat resmi, cerita ini hidup dari generasi ke generasi.
Intinya, dua versi ini menyiratkan satu hal: Bontang adalah tempat datangnya orang-orang baru.
Nama itu kemudian bersambung dengan legenda lokal. Sosok Aji Pao, bangsawan dari Kesultanan Kutai, disebut sebagai pelopor pemukiman pertama di wilayah ini. Di masa itu, kawasan seperti Bontang Kuala hidup berdampingan dengan fenomena pasang-surut, yang membentuk hunian panggung dan ekonomi maritim khas daerah pesisir.
Bontang mulai tercatat secara administratif dalam arsip kolonial Belanda sebagai “Onder District van Bontang” pada 1920-an. Namun perubahan besar terjadi di era modern. Pada 1974, kilang Badak LNG berdiri menyusul penemuan cadangan gas alam besar. Ini menjadi tonggak penting transisi Bontang dari kampung nelayan ke kota energi.
Tiga tahun kemudian, Pupuk Kaltim mulai beroperasi dan memperkuat posisi Bontang sebagai simpul industri gas dan pupuk nasional. Kedua perusahaan ini bukan hanya mengubah lanskap ekonomi, tetapi juga memicu migrasi besar-besaran, menjadikan Bontang kota multietnis yang terbuka dan dinamis.
Status administratif pun berkembang. Pada 1989, Bontang resmi menjadi kota administratif, dan sepuluh tahun kemudian, tepatnya 12 Oktober 1999, ia ditetapkan sebagai kota otonom melalui UU No. 47 Tahun 1999.
Hingga hari ini, identitas “pelabuhan pendatang” masih kuat terasa di Bontang. Wajah industri dan laut berpadu: dari pemukiman panggung di Bontang Kuala hingga kilang LNG dan pabrik pupuk di daratan. Semua berpijak pada fondasi sejarah dan geografis yang unik—pasang-surut, baik secara harfiah maupun simbolik.
