Tasikmalaya – Menjelang azan Magrib, deretan lapak takjil di Kota Tasikmalaya dipenuhi warga yang berburu hidangan berbuka puasa. Di tengah ramainya antrean kolak, gorengan, es buah, dan aneka minuman segar, tampak pemandangan yang mencuri perhatian. Mahasiswa dari berbagai latar belakang agama berbaur menikmati suasana Ramadan, menjadikan tradisi war takjil bukan sekadar kegiatan berburu makanan, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan.
Fenomena tersebut terlihat di sejumlah pusat jajanan Ramadan, seperti kawasan Dadaha, sekitar Universitas Siliwangi (Unsil), hingga kawasan BTH. Sejak sore hari, para pedagang disibukkan melayani pembeli yang datang silih berganti. Di antara keramaian itu, mahasiswa non-Muslim tampak ikut memilih takjil bersama teman-teman Muslim mereka, kemudian menunggu waktu berbuka sambil bercengkerama.
Bagi sebagian mahasiswa, tradisi itu telah menjadi kebiasaan setiap Ramadan. Momen berburu takjil dianggap sebagai kesempatan untuk berkumpul tanpa memandang perbedaan keyakinan. Suasana hangat yang tercipta membuat Ramadan tidak hanya dirasakan oleh umat Islam yang menjalankan ibadah puasa, tetapi juga oleh teman-teman dari agama lain yang ikut menikmati kebersamaannya.
“Tiap tahun saya ajak mereka buat cari takjil. Bahkan kadang jajanan mereka lebih banyak dari kita yang Muslim,” ujar Saddam Ilham sambil tersenyum di Kota Tasikmalaya, Senin (23/2/26).
Menurut Saddam, Ramadan menghadirkan ruang perjumpaan yang alami bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Tidak ada sekat yang terasa ketika mereka menghabiskan waktu bersama di pusat jajanan menjelang berbuka. Yang terlihat justru canda, kebersamaan, dan saling menghargai di tengah antrean panjang pembeli.
Pengalaman serupa dirasakan Hizkia, mahasiswa non-Muslim yang mengaku selalu antusias ketika diajak teman-temannya berburu takjil.
“Seru saja. Walaupun saya nggak puasa, tapi suasana Ramadan itu terasa hangat. Kebersamaannya yang bikin beda,” kata Hizkia di Kota Tasikmalaya, Senin (23/2/26).
Ia mengaku sering kali tetap menemani teman-temannya hingga waktu berbuka tiba. Baginya, menghormati teman yang sedang berpuasa merupakan bentuk sederhana dari sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita saling menghargai. Mereka puasa, saya ikut nunggu sampai buka. Kadang sekalian nongkrong bareng. Nggak ada rasa canggung,” tambah Hizkia.
Hal senada disampaikan Fikri. Menurutnya, kehadiran teman-teman non-Muslim dalam tradisi berburu takjil menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk membangun hubungan yang harmonis.
“Justru ini bentuk toleransi. Kita nggak lihat perbedaan. Ramadan jadi momen mempererat persaudaraan,” ujarnya di Kota Tasikmalaya, Senin (23/2/26).
Tidak hanya mahasiswa yang merasakan suasana tersebut. Para pedagang juga menikmati meningkatnya jumlah pembeli yang datang dari berbagai kalangan. Salah seorang penjual kolak pisang di kawasan Dadaha, Lina, mengatakan Ramadan selalu membawa berkah bagi usahanya karena pembeli berasal dari berbagai latar belakang.
“Alhamdulillah semua beli, nggak lihat agama. Yang penting dagangan laris dan suasana rukun,” tutur Lina saat melayani pembeli di kawasan Dadaha, Kota Tasikmalaya, Senin (23/2/26).
Tradisi berburu takjil telah berkembang menjadi bagian dari budaya Ramadan di banyak daerah, termasuk Tasikmalaya. Selain menggerakkan ekonomi pelaku UMKM dan pedagang musiman, kegiatan tersebut juga menciptakan ruang interaksi sosial yang mempertemukan masyarakat dari berbagai usia, profesi, dan keyakinan dalam suasana yang hangat.
Bagi generasi muda, pengalaman seperti ini menjadi pembelajaran bahwa toleransi tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan formal. Menghormati teman yang berpuasa, berbagi waktu menjelang berbuka, hingga menikmati kebersamaan tanpa mempersoalkan perbedaan merupakan praktik nyata hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.
Fenomena war takjil lintas agama di Kota Tasikmalaya memperlihatkan bahwa Ramadan tidak hanya menghadirkan semangat ibadah, tetapi juga memperkuat ikatan sosial. Dari antrean sederhana di depan lapak jajanan, tumbuh nilai saling menghormati, gotong royong, dan persaudaraan yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.
