Kerinci di tengah arus perubahan zaman yang terus bergerak cepat, masyarakat Desa Mukai Tinggi, Kecamatan Siulak Mukai, masih menjaga ruang belajar adat yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Tradisi itu kembali mendapat perhatian dari Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK) melalui kunjungan Sekretaris Jenderalnya, Safwandi, Dpt., pada Minggu (21/6/26).
Kehadiran Safwandi dalam pengajian adat desa tersebut menjadi bagian dari upaya LAM-SAK memperkuat pelestarian nilai-nilai Adat Lamo Pasko Usang. Kegiatan yang berlangsung rutin itu dimanfaatkan untuk menggali kembali sejarah, tambo, petuah adat, serta kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur masyarakat Kerinci.
Menurut Safwandi, pengajian adat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan pengetahuan tradisional di tengah masyarakat. Ia menilai proses pewarisan adat tidak boleh terhenti hanya karena adanya keterbatasan dukungan, termasuk dari sisi pembiayaan.
“Jangan sampai karena belum adanya dukungan anggaran dari pemerintah desa, semangat pengajian adat menjadi hilang. Jika kegiatan seperti ini berhenti, lalu bagaimana generasi berikutnya mengenal dan memahami pedoman adat yang telah diwariskan oleh para pendahulu,” ujar Safwandi saat menghadiri pengajian adat di Desa Mukai Tinggi, Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Minggu (21/6/26).
Ia menjelaskan bahwa masih banyak nilai luhur dan petuah adat yang perlu terus digali serta dipelajari bersama. Menurutnya, perkembangan zaman tidak boleh memutus mata rantai pengetahuan yang selama ini menjadi pedoman kehidupan masyarakat Kerinci.
Safwandi juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan seluruh unsur masyarakat desa agar upaya pelestarian adat mendapat dukungan bersama. Keterlibatan tokoh masyarakat, generasi muda, hingga pemerintah desa dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.
Bagi masyarakat Kerinci, Adat Lamo Pasko Usang bukan sekadar kumpulan aturan turun-temurun, melainkan warisan pengetahuan yang memuat nilai kehidupan, hubungan sosial, serta penghormatan terhadap alam dan sesama. Pengajian adat menjadi salah satu cara agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan dipahami oleh generasi penerus.
Ketua Pengajian “Menggali Tambo Alam Mukai Tinggi”, Logi Vlora, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas perhatian yang diberikan oleh jajaran LAM-SAK. Menurutnya, kehadiran pengurus lembaga adat tersebut memberikan semangat baru bagi para pengurus dan peserta pengajian.
“Kami sangat berterima kasih karena LAM-SAK berkenan datang memberikan arahan dan masukan untuk kemajuan pengajian adat kami ke depan,” kata Logi Vlora saat kegiatan pengajian adat di Desa Mukai Tinggi, Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Minggu (21/6/26).
Logi menjelaskan bahwa pengajian adat “Menggali Tambo Alam Mukai Tinggi” telah berlangsung sejak tahun 2015. Hingga kini, kegiatan tersebut tetap dilaksanakan secara rutin setiap malam Senin sebagai wadah untuk mempelajari sejarah kampung, tambo, serta berbagai nilai adat yang hidup di tengah masyarakat.
Keberlangsungan pengajian adat selama lebih dari sepuluh tahun menjadi bukti bahwa masyarakat Mukai Tinggi masih memiliki kepedulian kuat terhadap pelestarian budaya. Di tengah semakin terbukanya akses informasi modern, ruang belajar berbasis tradisi tersebut justru menjadi benteng untuk menjaga identitas daerah.
Selain menjadi sarana pendidikan budaya, pengajian adat juga berfungsi mempererat hubungan antargenerasi. Para tetua adat dapat mewariskan pengetahuan kepada kalangan muda secara langsung, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keberadaan pengajian adat yang masih aktif di Kecamatan Siulak Mukai menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu bergantung pada program besar. Konsistensi masyarakat dan semangat untuk terus belajar menjadi modal penting agar warisan leluhur tetap bertahan.
Di tengah tantangan modernisasi, langkah kecil yang dilakukan masyarakat Mukai Tinggi melalui pengajian adat menjadi pengingat bahwa kebudayaan akan tetap hidup selama masih ada generasi yang mau mempelajari dan merawatnya.
