Semarang – Lautan pesilat memenuhi jantung Kota Semarang, membawa satu pesan yang melampaui arena pertandingan: pencak silat bukan sekadar adu ketangkasan, tetapi juga jalan untuk merawat persaudaraan. Sekitar 11.000 pesilat dan peserta dari berbagai wilayah Indonesia serta lima negara hadir dalam Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di kawasan Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026). Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pun menyerukan agar nilai-nilai bela diri terus menjadi perekat persatuan bangsa.
Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah menjadi forum permusyawaratan organisasi sekaligus ruang konsolidasi bagi ribuan kader dan pesilat. Selain peserta dari berbagai daerah di Indonesia, kegiatan tersebut dihadiri delegasi dari Belanda, Singapura, Kazakhstan, Nigeria, dan Aljazair. Kehadiran peserta internasional menunjukkan semakin luasnya jejaring Tapak Suci sekaligus memperkuat posisi pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia yang dikenal hingga mancanegara.
Ahmad Luthfi menilai pencak silat memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar olahraga maupun kemampuan mempertahankan diri. Proses latihan yang dijalani seorang pesilat, menurutnya, mengandung pendidikan kedisiplinan, keberanian, kerja sama, kebersamaan, hingga pembentukan karakter.
“Seni bela diri merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Seni bela diri akan membentuk karakter, kerja sama, dan kebersamaan,” ujar Luthfi.
Ia menilai nilai-nilai tersebut perlu terus ditanamkan, terutama kepada generasi muda. Selain mendukung kesehatan dan kebugaran tubuh, pencak silat dapat menjadi sarana pendidikan mental serta memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat yang semakin dinamis.
“Namun, yang tidak kalah penting adalah perannya dalam menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan serta membangun karakter bangsa,” katanya.
Luthfi juga menyampaikan penghargaan atas dipilihnya Jawa Tengah sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap forum tersebut tidak sebatas menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu memperkuat organisasi dan memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan segenap masyarakat Jawa Tengah, saya mengucapkan terima kasih atas diselenggarakannya Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Semoga Muktamar ini menghasilkan keputusan-keputusan yang konstruktif bagi organisasi,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan bahwa pembinaan seorang pesilat harus berjalan seimbang antara kekuatan jasmani, kematangan spiritual, dan keluhuran akhlak. Menurutnya, kemampuan bela diri semestinya melahirkan pribadi berjiwa kesatria yang berpihak pada kebenaran serta memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
“Tapak Suci bersama seluruh kelompok bela diri di Indonesia melatih fisik untuk membentuk jiwa kesatria, jiwa futuwwah, yang selalu berdiri tegak di atas kebenaran, kebaikan, dan keluhuran, serta membela kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Haedar.
Haedar berpandangan pembangunan bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada kemajuan fisik. Kekuatan jiwa dan kesehatan raga harus bertumbuh beriringan. Prinsip itu, menurutnya, selaras dengan pesan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya mengenai pentingnya membangun jiwa sekaligus badan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang yang mendukung penyelenggaraan muktamar tersebut.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo turut menghadiri kegiatan dan menerima penganugerahan sebagai anggota kehormatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Ia berharap hubungan antara Polri dan Tapak Suci dapat berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam pembinaan masyarakat, khususnya generasi muda. Salah satu gagasan yang disampaikan ialah pengembangan cabang latihan Tapak Suci di lingkungan kepolisian serta pelaksanaan program bersama.
“Kita bersama-sama menjaga kesejukan melalui cooling system, serta menjaga agar masyarakat dan generasi muda tidak terpengaruh disinformasi dan misinformasi, terjerumus dalam bahaya narkoba dan judi daring,” ujar Listyo Sigit.
Menurut Kapolri, filosofi pendekar yang membela kebenaran dan melindungi pihak yang lemah memiliki kesesuaian dengan semangat tugas kepolisian dalam melindungi, mengayomi, serta melayani masyarakat. Disiplin, ketekunan, kerja keras, dan keuletan dalam latihan bela diri juga dinilai penting sebagai bekal generasi muda menghadapi kompetisi serta perubahan global.
Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah secara resmi dibuka Haedar Nashir melalui prosesi penancapan senjata Segu. Forum ini menjadi momentum untuk membahas regenerasi kepemimpinan, memperkuat kaderisasi, meningkatkan pembinaan atlet, mengembangkan organisasi, serta memperluas kontribusi Tapak Suci di tengah masyarakat.
Berkumpulnya sekitar 11.000 peserta dari Indonesia dan lima negara memperlihatkan bahwa pencak silat terus berkembang sebagai olahraga, warisan budaya, sekaligus sarana pembentukan manusia berkarakter. Di tengah tantangan narkoba, judi daring, disinformasi, dan persoalan sosial lainnya, nilai persaudaraan, tanggung jawab, keberanian, serta kedisiplinan yang tumbuh melalui pencak silat diharapkan menjadi benteng bagi generasi muda sekaligus memperkokoh persatuan bangsa.
