Mojokerto – Kehadiran puluhan Biksu Thudong dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia di Balai Kota Mojokerto menjadi momen istimewa bagi masyarakat setempat. Singgah dalam rangkaian Indonesia Walk for Peace 2026, Minggu (17/5), perjalanan spiritual ini sekaligus menjadi simbol toleransi dan kerukunan menjelang perayaan Hari Raya Waisak.
Rombongan biksu yang berjalan kaki melintasi berbagai daerah di Pulau Jawa diterima langsung oleh Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, bersama jajaran Forkopimda. Suasana penyambutan berlangsung hangat, dengan antusiasme warga yang ingin menyaksikan langsung kedatangan para biksu sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju titik berikutnya.
“Ini sebagai wujud kebinekaan bahwa Indonesia adalah bangsa yang plural,” ujar Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto. Ia menambahkan, kedatangan para Bhikkhu Thudong menunjukkan semangat toleransi yang menjadi ciri khas Kota Mojokerto, yang telah menerima penghargaan sebagai Kota Harmoni dan Kota Toleran.
Menurut Ning Ita, momen ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga memperkuat nilai persaudaraan antarwarga. “Kami sangat berbahagia dan bangga menyambut para Bhikkhu Thudong yang bermalam di Kota Mojokerto. Ini menjadi representasi bahwa masyarakat menerima keberagaman dengan suka cita,” ungkapnya. Wali Kota juga mendoakan agar seluruh rombongan diberikan kesehatan dan kelancaran selama perjalanan menuju Borobudur.
Koordinator Walk for Peace 2026 Jawa Timur, Irwan, mengungkapkan bahwa rombongan berjumlah 57 orang, terdiri dari 43 Biksu asal Thailand, empat dari Malaysia, tiga dari Laos, dan tujuh Bhikkhu Indonesia. Perjalanan mereka di Jawa Timur melintasi 10 kabupaten/kota, ditempuh selama 11 hari sebelum tiba di Candi Borobudur. Rombongan dijadwalkan mencapai Borobudur pada 28 Mei 2026 untuk mengikuti rangkaian perayaan Waisak hingga puncaknya pada 31 Mei.
“Keramahan masyarakat dan dukungan semua pihak sepanjang perjalanan menjadi potret keharmonisan bangsa Indonesia,” kata Irwan. Ia menekankan bahwa perjalanan spiritual ini juga mengingatkan pentingnya toleransi dan persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.
Selain menjadi simbol persatuan, kunjungan Biksu Thudong ini diharapkan memperkuat semangat keberagaman dan kerukunan umat beragama di Kota Mojokerto. Pemerintah daerah pun menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan yang mempromosikan toleransi dan kedamaian di masyarakat.
Dengan hadirnya para biksu dari empat negara, Kota Mojokerto kembali menunjukkan bahwa keberagaman dapat dirayakan dengan rasa hormat, sukacita, dan semangat kebersamaan.
