Mojokerto – Di tengah gempuran camilan modern yang terus bermunculan, aroma manis ladu tradisional masih mengepul dari dapur sederhana di Dusun Sawo. Kudapan khas berbahan dasar sederhana ini menjadi bukti bahwa warisan kuliner lama tetap mampu bertahan di tengah perubahan selera masyarakat.
Di Dusun Sawo, Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ladu tradisional masih terus berjalan hingga kini. Salah satu pelaku usaha, Wiwik (48), tetap konsisten memproduksi ladu dengan resep turun-temurun yang telah dijaga selama bertahun-tahun. Produksi dilakukan setiap hari dari rumahnya, dengan jumlah mencapai sekitar 30 hingga 50 bungkus per hari.
“Resepnya masih sama seperti dulu, pakai bahan sederhana dan tanpa pengawet. Yang penting rasa tetap asli,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (17/2/2026).
Produk ladu buatan Wiwik dipasarkan ke warung-warung sekitar serta dititipkan di beberapa toko kecil di wilayah Jetis. Meski belum dipasarkan secara besar-besaran, produk ini tetap memiliki pelanggan setia yang sudah terbiasa dengan cita rasanya. Keberadaan ladu tradisional ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang masih menyukai camilan khas daerah.
Menurut Wiwik, permintaan ladu biasanya meningkat pada momen tertentu seperti hari besar keagamaan dan acara hajatan warga. Pada periode tersebut, produksi bisa meningkat untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih tinggi dibanding hari biasa.
Untuk mengikuti perkembangan zaman, Wiwik mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Langkah ini dilakukan agar produk ladunya dapat dikenal lebih luas, terutama oleh generasi muda yang lebih akrab dengan platform digital.
Meski demikian, ia mengakui bahwa menjalankan usaha tradisional tidak lepas dari berbagai tantangan. Kenaikan harga bahan baku serta persaingan dengan camilan modern menjadi kendala yang harus dihadapi. Namun, ia tetap optimis usahanya dapat terus bertahan selama kualitas produk tetap dijaga.
“Alhamdulillah pelanggan tetap ada. Selama kualitas dijaga, saya yakin ladu tetap diminati,” katanya.
Keberadaan UMKM ladu tradisional di Dusun Sawo juga mendapat perhatian dari pemerintah desa setempat. Pelaku usaha didorong untuk tetap mempertahankan kualitas rasa sekaligus melakukan inovasi, terutama dalam hal kemasan, agar produk lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah perubahan tren konsumsi, makanan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Dengan menjaga cita rasa dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, UMKM seperti milik Wiwik diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari penguatan ekonomi lokal.
