Mojokerto – Gelapnya ruang bioskop kini bukan sekadar latar, melainkan daya tarik utama bagi generasi muda. Film horor lokal berhasil mencuri perhatian dan mendominasi pilihan hiburan anak muda di CGV Cinemas Mojokerto, menandai perubahan tren tontonan yang semakin mengarah pada genre penuh ketegangan.
Sejak pertengahan tahun 2022 hingga awal 2026, minat terhadap film horor Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan. Hal ini terlihat dari tingginya jumlah penonton di CGV Mojokerto pada Selasa (17/2/2026), yang mayoritas didominasi kalangan usia 17 hingga 30 tahun. Dibandingkan genre lain seperti komedi, aksi, dan drama, film horor kini menjadi pilihan utama bagi sebagian besar pengunjung bioskop.
Pihak manajemen CGV Mojokerto menyebutkan bahwa sekitar 70 persen pengunjung lebih memilih menonton film horor. Bahkan pada akhir pekan, tingkat keterisian kursi dapat mencapai hingga 80 persen ketika film horor lokal sedang tayang. Tingginya minat ini juga berdampak pada penambahan jadwal tayang untuk memenuhi kebutuhan penonton.
“Setiap tahun selalu bertambah peminatnya. Bahkan saat akhir pekan, sekitar 80 persen kursi hampir selalu terisi jika film horor lokal sedang tayang,” ujar staf CGV Mojokerto berinisial FW (22).
Ia juga menambahkan bahwa tingginya animo penonton membuat pihak bioskop memberikan porsi jadwal lebih banyak untuk film horor dibandingkan genre lainnya. Kondisi ini terlihat dari suasana studio yang hampir selalu dipenuhi penonton, terutama pada jam-jam favorit di sore hingga malam hari.
Salah satu film horor lokal yang menarik perhatian penonton adalah Alas Roban. Film ini menjadi salah satu tontonan favorit yang mampu menghadirkan suasana tegang sekaligus penasaran bagi penonton muda. Antusiasme tersebut juga berdampak pada meningkatnya penjualan makanan dan minuman di area bioskop.
“Penjualan food and beverage ikut meningkat secara tidak langsung ketika film horor ramai penonton,” tambahnya.
Dari sisi penonton, meningkatnya minat terhadap film horor tidak lepas dari kualitas cerita yang dinilai semakin baik. Seorang mahasiswa berinisial SN (24) mengaku telah beberapa kali menonton film horor di bioskop bersama teman-temannya.
“Karena alur ceritanya bagus dan bikin penasaran sama ending-nya. Lebih puas nonton di bioskop karena layar lebar dan sound effect-nya terasa lebih nyata. Selain itu, film baru bisa langsung ditonton tanpa harus menunggu seperti di platform streaming,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa waktu menonton yang paling sering dipilih adalah sore atau malam hari, setelah menyelesaikan aktivitas perkuliahan. Bagi kalangan mahasiswa, menonton film horor menjadi salah satu cara untuk melepas penat sekaligus bersosialisasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa film horor lokal tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga mencerminkan perkembangan kualitas industri perfilman Indonesia. Dengan cerita yang semakin kuat dan produksi yang lebih matang, film horor kini mampu bersaing dan bahkan mendominasi pasar anak muda, khususnya di Mojokerto.
