Tempat berlabuh para utusan Allah, itulah Baitul Maqdis. Sebuah kawasan suci yang disebut dalam banyak riwayat sebagai tempat aman dan sakral bagi para nabi dan rasul. Dimulai dari Nabi Adam AS, manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi dan kemudian datang ke Baitul Maqdis, tempat ini terus menjadi saksi sejarah peradaban tauhid.
Nabi Ibrahim AS lahir di Mesopotamia dan kemudian hijrah ke Syam. Setelah sempat tinggal di Mesir, beliau kembali lagi ke negeri Syam. Di sinilah, di sekitar Baitul Maqdis, Allah memberikan karunia berupa kelahiran anak-anaknya, termasuk Ismail dan Ishaq.
Ismail kemudian dibawa ke Jazirah Arab oleh ibunya, Hajar, sesuai perintah Allah. Di sana, bersama Ismail, Nabi Ibrahim membangun kembali fondasi Ka’bah. Namun, hubungan beliau dengan Syam tak terputus. Nabi Ibrahim juga membangun kembali Masjidil Aqsha bersama putranya, Ishaq, sebelum akhirnya wafat di Baitul Maqdis.
Nabi Ishaq lahir dan wafat di Baitul Maqdis. Anaknya, Nabi Yaqub, juga tinggal di sana sebelum sempat hijrah ke Mesir. Namun, akhir hayatnya tetap kembali ke Baitul Maqdis, dimakamkan bersama ayah dan kakeknya. Begitu pula Nabi Yusuf AS—anak kesayangan Nabi Yaqub—yang juga dimakamkan di Baitul Maqdis setelah melalui perjalanan hidup yang penuh ujian di Mesir.
Ketika keturunan Nabi Yaqub menetap di Mesir, mereka mengalami penindasan di bawah kepemimpinan Firaun. Allah pun mengutus Nabi Musa AS untuk membebaskan Bani Israil dari tirani tersebut. Bersama saudaranya, Nabi Harun, Musa membawa umatnya keluar dari Mesir dan menuju tanah suci Baitul Maqdis.
Setelah Nabi Musa dan Harun wafat, tongkat estafet kepemimpinan berpindah ke Nabi Yusya bin Nun. Ia melanjutkan perjuangan dakwah dan kepemimpinan Bani Israil di sekitar kawasan Baitul Maqdis.
Baitul Maqdis bukan hanya lokasi suci, tetapi juga pusat sejarah perjuangan para nabi. Tempat ini menyimpan jejak kaki mereka, menjadi saksi atas keteguhan iman dan cinta pada Allah.
Hingga kini, Baitul Maqdis tetap menjadi magnet spiritual bagi umat Islam. Setiap jengkal tanahnya seolah menyimpan cerita para kekasih Allah yang hidup dan wafat di dalamnya.
