Majapahit dan Mojokerto adalah dua nama yang tak terpisahkan dalam peta sejarah Jawa Timur. Tak sekadar berdekatan secara geografis, Mojokerto—khususnya wilayah Trowulan—menyimpan sisa kejayaan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Dari sinilah kisah perpindahan pusat kekuasaan di lembah Brantas bermula.
Sebelum era Majapahit, kekuasaan di Jawa Timur berpusat di Daha (Kadiri) dan Singhasari. Dua kota kuno itu memanfaatkan sungai Brantas sebagai urat nadi ekonomi dan pertahanan. Ketika Raden Wijaya mendirikan Majapahit pada akhir abad ke-13, ia memilih kawasan yang kini masuk wilayah Mojokerto, karena lokasinya strategis dan lahan pertaniannya subur.
“Lembah Brantas adalah jalur vital. Di sinilah kerajaan bisa mengontrol jalur dagang dan membangun pusat pangan,” jelas arkeolog senior Irawan Prasetyo.
Tiga faktor utama membuat lembah Brantas menjadi lokasi ideal: tanah subur untuk pertanian padi, akses air menuju pelabuhan, dan bentang alam yang mendukung pertahanan. Dengan fondasi itu, Majapahit tumbuh menjadi kekuatan besar yang memengaruhi banyak wilayah di Nusantara.
Namun kejayaan itu tak abadi. Seiring runtuhnya Majapahit, kawasan pusat kerajaannya kembali menjadi desa, ladang, dan sawah. Struktur kota memudar, namun jejak sejarahnya tertanam dalam tanah. Di masa kolonial hingga Indonesia merdeka, wilayah ini ditetapkan sebagai bagian dari Kabupaten Mojokerto.
Narasi Mojokerto sebagai “pewaris tanah Majapahit” mulai berkembang. Bukan sebagai kerajaan baru, tapi sebagai kota yang memelihara ingatan sejarahnya. Nama Majapahit kini hidup dalam berbagai bentuk: nama sekolah, jalan, institusi, hingga bisnis lokal.
Trowulan pun menjelma jadi destinasi wisata sejarah. Reruntuhan istana, candi, kolam kuno, dan artefak ditemukan di berbagai titik. Wisatawan, peneliti, hingga pelajar datang untuk menapak tilas jejak kejayaan masa lalu.
Mojokerto hari ini mungkin kota kecil, namun berdiri di atas tanah yang dulu mengatur arah Nusantara. Di balik sawah dan jalan raya modernnya, tersimpan narasi besar tentang perpindahan kekuasaan dan ingatan kejayaan Majapahit.
