Kediri – Ibarat pagar yang mengelilingi rumah besar, ratusan personel dari badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) disiapkan untuk menjaga pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri. Panitia menerapkan pola pengamanan berlapis agar seluruh rangkaian agenda berjalan aman, tertib, dan nyaman bagi para ulama serta peserta yang hadir.
Persiapan pengamanan dilakukan dengan melibatkan sekitar 400 personel internal dari berbagai unsur Banom NU. Sistem empat ring pengamanan diterapkan di kawasan kegiatan dengan dukungan koordinasi bersama TNI, Polri, Satuan Polisi Pamong Praja, serta Dinas Perhubungan. Langkah tersebut dilakukan mengingat forum strategis organisasi ini diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Wakil Koordinator Seksi Keamanan Munas-Konbes NU 2026, Muchamad Nabil Haroen, menjelaskan bahwa konsep pengamanan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada aspek pengawasan, tetapi juga memberikan pelayanan terbaik kepada para kiai, ulama, dan tamu undangan.
“Dari unsur internal NU akan diterjunkan sekitar 400 personel pengamanan,” kata Nabil saat ditemui wartawan, Jumat (19/6/2026).
Personel tersebut berasal dari sejumlah badan otonom NU, seperti GP Ansor, Banser, Pagar Nusa, Pasukan Inti, Corps Brigade Pembangunan (CBP) IPNU, Korps Pelajar Putri (KPP) IPPNU, Garda Fatayat, dan unsur lainnya. Seluruh personel akan bekerja dalam satu sistem komando dengan mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis.
Selain menempatkan ratusan personel, panitia juga menerapkan mekanisme pemeriksaan akses melalui kartu identitas resmi yang wajib dimiliki setiap peserta, peninjau, maupun tamu undangan. Sistem tersebut menjadi bagian dari proses penyaringan untuk memastikan keamanan area kegiatan.
“Semua peserta akan dibekali ID card resmi yang dikeluarkan oleh panitia penyelenggara. Itu menjadi bagian dari proses screening saat memasuki lokasi kegiatan,” ujarnya.
Panitia juga telah menjalin koordinasi intensif dengan aparat keamanan dan instansi terkait untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu jalannya acara. Pengaturan lalu lintas menjadi perhatian khusus karena lokasi Pondok Pesantren Al-Falah Ploso memiliki akses jalan yang terbatas sehingga diperlukan pengelolaan mobilitas peserta secara optimal.
Menurut Nabil, hingga saat ini belum ditemukan indikasi gangguan yang berpotensi menghambat penyelenggaraan Munas dan Konbes. Meski demikian, berbagai langkah antisipasi tetap disiapkan untuk menghadapi situasi yang tidak diinginkan.
“Karena lokasinya tidak terfokus satu tempat, kita menyediakan 16 pos pengamanan, ini agar semua kegiatan berjalan dengan baik,” katanya.
Sebanyak 16 pos pengamanan akan ditempatkan di sejumlah titik strategis yang menjadi lokasi pelaksanaan agenda. Pos tersebut akan dijaga personel Banom NU bersama aparat terkait, termasuk saat berlangsungnya acara yang melibatkan pejabat pemerintah pada pembukaan maupun penutupan kegiatan.
Di sisi lain, forum Munas dan Konbes NU 2026 diperkirakan akan membahas sejumlah isu penting terkait masa depan organisasi. Salah satu usulan yang diprediksi menjadi perhatian peserta adalah wacana pemberian hak suara kepada badan otonom NU dalam pelaksanaan muktamar mendatang.
Munas dan Konbes NU merupakan forum permusyawaratan yang menjadi ruang pembahasan berbagai rekomendasi strategis sebelum dibawa ke tingkat muktamar. Hingga rapat koordinasi terakhir, sebanyak 30 dari total 38 pengurus wilayah NU di seluruh Indonesia telah mendaftarkan delegasinya.
“Sampai kemaren sudah 30 pengurus wilayah NU telah mendaftar, harapannya pada hari H semua terdaftar dari total 38 pengurus wilayah NU,” pungkasnya.
Dengan dukungan pengamanan berlapis dan keterlibatan berbagai unsur, panitia optimistis penyelenggaraan Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dapat berlangsung lancar serta menghasilkan berbagai rekomendasi penting bagi perjalanan organisasi ke depan.
