Bondowoso – Program Makan Bergizi Gratis atau MBG kini menjadi “jembatan gizi” yang menghubungkan kebutuhan kesehatan anak sejak masih berada dalam kandungan hingga memasuki bangku sekolah. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukosari Lor, Kabupaten Bondowoso, memperluas pelayanan dengan memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang tergabung dalam kelompok 3B.
Pada Selasa (4/8/2026), SPPG Sukosari Lor menyalurkan sebanyak 2.734 porsi makanan bergizi kepada penerima manfaat di wilayah pelayanannya. Dari keseluruhan makanan yang didistribusikan, 310 porsi diberikan kepada kelompok 3B, sedangkan 2.424 porsi lainnya disalurkan kepada peserta didik di sejumlah sekolah yang masuk dalam cakupan layanan unit tersebut.
Kepala SPPG Sukosari Lor, Muhammad Ferdo Syaifullah, S.E., mengatakan kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi. Menurutnya, masa kehamilan, menyusui, serta periode tumbuh kembang anak merupakan tahapan yang sangat menentukan kondisi kesehatan dan kualitas sumber daya manusia pada masa depan.
“Melalui pemberian makanan bergizi yang memenuhi kebutuhan nutrisi harian, program ini diharapkan mampu mendukung kesehatan ibu selama kehamilan, meningkatkan kualitas ASI bagi ibu menyusui, serta menunjang pertumbuhan dan perkembangan balita,” jelas Ferdo.
Ia menilai pemberian makanan dengan komposisi gizi yang terukur tidak hanya bertujuan mengatasi rasa lapar. Program tersebut juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh ibu maupun anak dalam menjalani fase pertumbuhan.
Dalam penyaluran kali ini, SPPG Sukosari Lor menyajikan chicken burger buatan sendiri yang dilengkapi buah semangka. Menu itu dirancang agar tetap menarik bagi penerima manfaat, tetapi tidak mengabaikan keseimbangan kandungan zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Untuk kategori porsi kecil, menu tersebut mengandung 53,1 gram karbohidrat, 23,5 gram protein, 12,2 gram lemak, serta 2,2 gram serat. Keseluruhan kandungan itu menghasilkan energi sekitar 414 kilokalori bagi penerima manfaat.
Sementara itu, porsi besar memiliki kandungan energi sekitar 659,9 kilokalori. Jumlah tersebut berasal dari 97,7 gram karbohidrat, 31,7 gram protein, 15,8 gram lemak, dan 3,6 gram serat. Perbedaan komposisi antara porsi kecil dan besar disesuaikan dengan kebutuhan serta kelompok usia penerima makanan.
Penyediaan menu yang beragam menjadi salah satu langkah untuk menjaga minat penerima manfaat terhadap makanan bergizi. Pengolahan makanan juga dilakukan dengan memperhatikan takaran bahan, kebersihan, kualitas sajian, serta kesesuaian nilai gizi agar makanan yang didistribusikan dapat memberikan manfaat secara optimal.
Perluasan sasaran program MBG kepada kelompok 3B menunjukkan bahwa pelayanan pemenuhan gizi tidak hanya berpusat di lingkungan sekolah. Intervensi gizi sejak masa kehamilan dinilai penting untuk mendukung kondisi ibu, perkembangan janin, kualitas air susu ibu, serta pertumbuhan anak pada masa awal kehidupan.
Periode sejak kehamilan hingga anak berusia balita merupakan fase yang membutuhkan perhatian serius. Kekurangan asupan gizi pada masa tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan kemampuan belajar anak ketika memasuki usia sekolah.
Melalui pelayanan yang menyentuh ibu dan anak sejak dini, SPPG Sukosari Lor turut mendukung upaya pencegahan permasalahan gizi, termasuk stunting. Program ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya makanan bergizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari.
Distribusi ribuan porsi makanan tersebut juga mencerminkan luasnya tanggung jawab pelayanan SPPG Sukosari Lor. Selain memastikan jumlah makanan mencukupi, petugas harus menjaga mutu, ketepatan waktu penyaluran, serta kesesuaian menu dengan kebutuhan penerima manfaat.
Dengan cakupan pelayanan yang terus diperkuat, program MBG di wilayah Sukosari Lor diharapkan memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat. Pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan peserta didik menjadi fondasi penting dalam membangun generasi Bondowoso yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas.
