Jember – Seperti nadi yang tersumbat lumpur, infrastruktur di Kabupaten Jember terengah usai dua kali diterjang banjir. Di tengah status tanggap darurat yang masih berlaku, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Dody Hanggodo, turun langsung meninjau kerusakan, Minggu (22/2/2026), memastikan percepatan penanganan segera dilakukan.
Kunjungan tersebut dilakukan menyusul penetapan Jember sebagai daerah tanggap darurat akibat banjir yang terjadi sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Didampingi Bupati Jember, Muhammad Fawait, Dody meninjau sejumlah titik terdampak, termasuk jembatan ambruk di Kecamatan Pakusari. Pemerintah pusat ingin memastikan langkah darurat berjalan efektif serta intervensi teknis dapat segera diterapkan.
“Terus terang saya cukup terkejut mendengar Jember dalam kondisi tanggap darurat. Karena sebelumnya saya belum mendapat laporan secara langsung,” ujar Dody.
Ia menegaskan, kehadiran Kementerian PU bukan sekadar seremonial, melainkan untuk melihat langsung kondisi lapangan dan mempercepat koordinasi lintas sektor.
“Kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan dan memastikan apa yang bisa segera kami intervensi,” tegasnya.
Saat meninjau jembatan yang runtuh di Pakusari, Dody juga memberikan catatan teknis agar desain akses jalan menuju jembatan baru dibuat lebih landai. Menurutnya, aspek keselamatan dan kenyamanan warga harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan ulang.
“Jangan sampai masyarakat kesulitan karena konstruksi jalan terlalu curam,” katanya.
Sementara itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat. Ia menyebut kunjungan tersebut sebagai momentum penting untuk mempercepat perbaikan infrastruktur strategis yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
“Harapan kami, akses masuk Jember bisa lebih lebar dan nyaman, sehingga pertumbuhan ekonomi juga semakin cepat,” ujarnya.
Fawait mengungkapkan bahwa sejak awal masa jabatannya, sejumlah infrastruktur vital belum berfungsi optimal. Selain kondisi bandara yang belum maksimal, akses jalan utama menuju pusat kota juga kerap mengalami kepadatan. Waktu tempuh dari Kecamatan Tanggul ke pusat kota, misalnya, bisa mencapai satu hingga satu setengah jam, terutama saat terjadi kemacetan di wilayah Rambipuji dan Mangli.
Data pemerintah daerah mencatat, sepanjang Desember 2025 hingga awal 2026, banjir telah dua kali melanda Jember. Selain merenggut satu korban jiwa di Kecamatan Panti, bencana tersebut merusak sejumlah jembatan, bendungan, serta jaringan irigasi yang menjadi penopang aktivitas pertanian dan mobilitas warga.
Kerusakan infrastruktur ini berdampak langsung pada distribusi barang, aktivitas pendidikan, hingga layanan kesehatan. Pemerintah daerah pun berupaya melakukan penanganan darurat sembari menunggu dukungan teknis dan anggaran dari pemerintah pusat.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, percepatan rehabilitasi infrastruktur diharapkan tidak hanya memulihkan kondisi pascabanjir, tetapi juga memperkuat ketahanan terhadap potensi bencana serupa di masa mendatang. Upaya rekonstruksi ini menjadi langkah penting agar Jember tidak lagi tersendat ketika alam kembali menguji.
