Langkah yang berat itu dimulai dari Makkah menuju Thaif. Jaraknya sekitar 130 kilometer, lebih dari 24 jam perjalanan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Jika kini kita menaiki kereta gantung (telefric) yang melintasi perbukitan kasar dan batu-batu tajam, akan tampak betapa beratnya medan menuju kota ini. Apalagi bagi seorang lelaki berusia 50 tahun, yang tubuhnya sudah tak lagi sekuat muda.
Rasulullah SAW melangkah ke Thaif dengan satu harapan: agar penduduk kota itu mau menerima Islam. Namun, yang beliau temui justru sebaliknya. Mereka menolak, menghina, dan menyuruh anak-anak serta budak untuk melempari beliau dengan batu. Tubuh Rasulullah terluka parah, darah mengalir hingga membasahi kakinya.
Bayangkan, sosok yang kini begitu dicintai jutaan umat manusia di dunia, saat itu dihinakan sedemikian rupa. Namun apa balasan Rasulullah? Beliau tidak marah, tidak pula mendoakan keburukan.
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui,” demikian doa yang terucap dari bibir mulianya.
Inilah teladan akhlak tertinggi. Tidak semua luka harus dibalas dengan kemarahan. Terkadang, luka adalah jalan menuju cinta dan keberkahan. Peristiwa memilukan di Thaif inilah yang kemudian mengantarkan Rasulullah SAW pada perjalanan agung: Isra’ dan Mi’raj.
Dalam Surah Al-Isra ayat 1, Allah berfirman:
“Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
Perjalanan spiritual ini bukan hanya penghibur bagi Rasulullah, tapi juga penegasan bahwa setelah luka yang dalam, akan datang pelipur dari langit. Bahwa perjuangan yang tulus tidak akan dibiarkan sia-sia.
Thaif adalah saksi bahwa kelembutan hati Rasulullah lebih tajam dari luka batu. Dan Isra’ Mi’raj adalah bukti bahwa Allah selalu bersama orang yang bersabar.
Hari ini, Thaif dikenal sebagai kota sejuk dengan pemandangan yang menawan. Tapi dalam sejarah Islam, kota ini akan selalu dikenang sebagai tempat Rasulullah diuji dan dimuliakan.
