Jember – Dua permata wisata yang selama ini berdampingan namun berjalan sendiri-sendiri, kini resmi bersatu dalam satu manajemen. Pantai Watu Ulo dan Papuma memasuki babak baru pengelolaan terpadu yang digagas Pemerintah Kabupaten Jember sebagai strategi kebangkitan sektor pariwisata.
Kebijakan ini terealisasi di bawah kepemimpinan Bupati Jember, Muhamad Fawait. Untuk pertama kalinya sejak Kabupaten Jember berdiri, dua destinasi unggulan tersebut dikelola dalam satu sistem manajemen terintegrasi. Selama ini, meski hanya dipisahkan pintu masuk, Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma berjalan dengan tata kelola berbeda.
Pantai Watu Ulo dikenal dengan legenda batu memanjang menyerupai sisik ular raksasa yang membentang di pesisir selatan. Sementara Pantai Papuma atau Pasir Putih Malikan menawarkan panorama pasir putih eksotis dengan gugusan batu karang megah yang menjadi ikon wisata bahari Jember.
Melalui sistem satu pintu, harga tiket kini lebih terjangkau dan pola pelayanan menjadi lebih tertata. Kebijakan ini disebut-sebut sebagai salah satu program prioritas untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Jember, Boby Arisandi, menyampaikan bahwa dampak kebijakan tersebut sangat signifikan. Pernyataan itu ia sampaikan saat menunggu kedatangan Bupati Jember bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI di SMP Negeri 1 Balung, Jumat (21/2/2026).
“Yang jelas peningkatan kunjungan lebih besar, bisa dikatakan hampir 4 sampai 5 kali lipat. Ini memang dijadikan satu sasaran utama untuk peningkatan kunjungan,” jelasnya.
Berdasarkan data dashboard real time, pada momentum awal Januari 2026, jumlah wisatawan saat libur Tahun Baru menembus lebih dari 8.000 orang. Bahkan pada 4 Januari, angka kunjungan sempat menyentuh kisaran 9.000 hingga hampir 10.000 pengunjung. Lonjakan paling terasa terjadi setiap akhir pekan.
Selain integrasi tiket, pembenahan juga dilakukan pada sektor parkir dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Jember membentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) untuk mengelola parkir secara resmi. Dengan skema ini, tidak ada lagi pungutan liar di luar loket yang kerap dikeluhkan wisatawan.
“Tidak ada lagi penarikan parkir selain yang resmi di loket depan,” tegas Boby.
Penataan juga menyasar sektor kuliner. Disporabudpar mengajak pelaku UMKM dan pemilik warung menyepakati sistem paket makanan dengan harga pasti antara Rp50.000 hingga Rp55.000. Langkah ini diambil untuk menghapus kesan mahal yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
“Dengan adanya paket ini, wisatawan tidak perlu was-was. Sudah ada kepastian harga dan memudahkan branding,” tambahnya.
Sekitar 50 persen pelaku usaha telah menyatakan komitmen mengikuti skema paket tersebut. Pemerintah daerah pun berjanji membantu promosi dan penguatan citra positif kawasan wisata.
Tak berhenti di situ, pengelola tengah menyiapkan tambahan wahana, termasuk konsep wisata petualangan jeep dengan segmen adventure berbeda. Sejumlah spot café baru juga akan dikembangkan untuk menyasar wisatawan muda yang gemar berburu lokasi estetik.
Dengan manajemen terpadu Watu Ulo–Papuma, transparansi harga kuliner, penataan parkir, serta inovasi wahana, Pemkab Jember optimistis sektor pariwisata kembali menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Integrasi dua ikon wisata ini menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya meningkatkan daya saing pariwisata Jember di tingkat nasional maupun internasional. (ADV).
