Soppeng – Semangat kolaborasi dan dedikasi mahasiswa Universitas Hasanuddin kembali mencuat melalui keberhasilan Tim Sipatokkong UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Unhas yang mewakili Sulawesi Selatan di ajang nasional Abdidaya PPK Ormawa 2025. Bersama mitra dari Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, tim ini mengusung program revitalisasi kawasan wisata berbasis ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan.
Program unggulan bertajuk “Sipatokkong: Revitalisasi Kawasan Wisata Mattabulu melalui Collaborative Governance Eppa Sulapa terhadap Ekonomi Hijau dan Pariwisata Berkelanjutan Pasca Bencana” berhasil meloloskan tim dari seleksi ketat yang mencakup penilaian logbook, PKP (penilaian kemajuan pelaksanaan), serta visitasi internal dan nasional. Tim ini menjadi satu dari dua perwakilan perguruan tinggi di Sulawesi Selatan yang diundang hadir langsung di Malang.
“Alhamdulillah dengan adanya tim PPK Ormawa datang ke Desa Mattabulu ini tentunya sangat memberikan dampak yang luar biasa dalam upaya memulihkan kembali kawasan wisata setelah berhenti total akibat bencana longsor,” ujar Risqun SSTP MSi, Penjabat Kepala Desa Mattabulu.
Senada dengan itu, Ketua Pokdarwis Mattabulu, Endri Rosihin menyatakan bahwa kehadiran tim mahasiswa menjadi titik balik kebangkitan desa wisata. “Dengan adanya Tim PPK Ormawa ini, kami mulai bangkit kembali dan berjalan lagi. Alhamdulillah, setelah satu bulan perjuangan bersama tim, pengunjung kami sudah lebih dari 2000 orang,” ungkapnya.
Program ini menggandeng sejumlah mitra strategis, seperti Pemerintah Desa Mattabulu, Pokdarwis, BUMDes Pada Ati, serta komunitas seni dan pengrajin lokal. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana kolaborasi yang efektif mampu mendorong pemulihan desa terdampak bencana menuju pariwisata yang berkelanjutan dan mandiri.
Tim Sipatokkong terdiri dari 15 mahasiswa dari berbagai jurusan, didampingi oleh Dosen Sosiologi Unhas, Muh Adnan Kasogi SSos MSi. Keterlibatan mereka membuktikan peran aktif generasi muda dalam pemberdayaan desa dan implementasi nyata hasil riset keilmuan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan pencapaian ini, Sulawesi Selatan tak hanya diwakili oleh mahasiswa yang berprestasi, tapi juga oleh pemerintah desa yang visioner, menunjukkan model sinergi ideal antara kampus dan komunitas lokal.
