Malang – Belajar tentang perikanan tidak lagi cukup hanya dari ruang kelas. Perubahan teknologi, persoalan kesehatan ikan, tuntutan efisiensi budidaya, hingga keberlanjutan sumber daya membutuhkan calon-calon ahli perikanan yang mampu memahami persoalan secara langsung sekaligus bekerja melampaui batas negara. Semangat inilah yang dibawa dalam program inbound antara Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) dan Universiti Malaysia Sabah (UMS) yang berlangsung pada 25 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Program ini mempertemukan mahasiswa Indonesia dan Malaysia dalam rangkaian pembelajaran lintas budaya yang menggabungkan perkuliahan, diskusi ilmiah, demonstrasi penelitian, kunjungan laboratorium, hingga pembelajaran langsung di lapangan. Tidak hanya berinteraksi dengan akademisi, peserta juga memperoleh kesempatan belajar dari pemerintah dan praktisi untuk melihat bagaimana ilmu perikanan diterapkan dalam menghadapi persoalan nyata.
Selama program berlangsung, mahasiswa mendalami berbagai aspek penting dalam pengembangan perikanan modern, mulai dari pakan ikan, produksi budidaya, reproduksi, hingga penyakit dan kesehatan ikan. Para akademisi FPIK UB membagikan pengetahuan mengenai peningkatan produktivitas dan efisiensi budidaya, pengelolaan kesehatan organisme perairan, serta berbagai tantangan dalam mewujudkan sistem perikanan yang berkelanjutan.
Pertemuan mahasiswa dari dua negara turut membuka ruang diskusi mengenai karakteristik dan tantangan sektor perikanan di Indonesia dan Malaysia. Perbedaan kondisi lingkungan, komoditas, hingga praktik pengelolaan menjadi bahan pembelajaran yang memperkaya perspektif peserta dalam memahami bahwa tidak ada satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk seluruh persoalan perikanan.
Pembelajaran kemudian bergerak dari teori menuju praktik. Melalui kunjungan ke sejumlah laboratorium FPIK UB dan Laboratorium Sumberpasir, mahasiswa melihat secara langsung proses penelitian, fasilitas, serta pemanfaatan teknologi yang mendukung pengembangan ilmu dan produksi perikanan.
Pengalaman tersebut dilanjutkan melalui kegiatan lapang bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur di Punten. Di lokasi ini, peserta memperoleh gambaran langsung mengenai penerapan teknologi budidaya, proses pembenihan ikan, hingga pengelolaan fasilitas perikanan.
Pendekatan pembelajaran dari ruang kelas, laboratorium, hingga lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa. Pengetahuan akademik tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi dihubungkan dengan proses penelitian, inovasi teknologi, serta kebutuhan sektor perikanan di masyarakat.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, program inbound FPIK UB–UMS juga memberikan pengalaman internasional yang memungkinkan mahasiswa membangun kemampuan komunikasi lintas budaya, beradaptasi dengan lingkungan baru, bertukar gagasan, serta melihat persoalan perikanan dari perspektif yang lebih luas.
Interaksi tersebut menjadi semakin relevan karena Indonesia dan Malaysia sama-sama memiliki sumber daya perikanan yang besar dan menghadapi sejumlah tantangan serupa. Persoalan produktivitas, kesehatan ikan, keberlanjutan budidaya, pemanfaatan teknologi, hingga tekanan terhadap sumber daya perairan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga mampu membangun jejaring dan bekerja secara kolaboratif.
Bagi FPIK Universitas Brawijaya, program ini menjadi bagian dari penguatan internasionalisasi pendidikan dengan menghadirkan pengalaman belajar global secara langsung di lingkungan kampus. Kehadiran mahasiswa UMS sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan budaya yang memperkaya atmosfer akademik bagi mahasiswa FPIK UB.

Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada program inbound, tetapi berkembang menjadi berbagai kerja sama yang lebih luas, mulai dari pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, publikasi ilmiah, hingga program akademik kolaboratif yang dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan sektor perikanan di kawasan Asia Tenggara.
Program FPIK UB dan UMS tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan pengalaman pendidikan internasional dan pembelajaran berbasis praktik, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengenalan teknologi dan inovasi perikanan, serta SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan pengetahuan mengenai pengelolaan sumber daya dan perikanan yang bertanggung jawab.
Kolaborasi lintas negara yang turut melibatkan akademisi, pemerintah, dan praktisi juga menjadi implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam membangun kemitraan untuk menjawab tantangan perikanan secara bersama-sama.
Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa Indonesia dan Malaysia tidak hanya belajar bagaimana mengelola perikanan hari ini, tetapi juga dipersiapkan menjadi generasi yang mampu menentukan arah perikanan masa depan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi lintas negara.
