Malam khusyuk itu dimulai dengan secangkir teh hangat di meja kerja, laptop menyala, dan tab baru yang menampilkan sesi live shopping. Host tersenyum sambil berkata, “Langsung check-out bareng saya, stok terbatas, jangan sampai ketinggalan!”.
Anda menonton dengan antusias, ikut komentar, bahkan tak sadar menekan tombol “Beli” dalam hitungan detik senang karena ikut momen seru, sedikit tergoda oleh diskon kilat dan rayuan host yang terdengar meyakinkan.
Namun beberapa hari kemudian, Anda membuka paket yang datang dan mendapati barangnya jauh dari ekspektasi: bahan kurang bagus, ukuran tidak sesuai, atau warnanya tidak seperti di layar. Rasa senang itu pun berganti kecewa. Dalam hati, mungkin Anda bertanya: “Kenapa aku terburu-buru beli?”
Mengapa Live Shopping Digemari?
Fenomena ini kini menjadi pemandangan umum di era digital, terutama di kalangan pengguna aktif media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Social commerce dan live shopping sedang naik daun di Indonesia. Social commerce sendiri adalah aktivitas jual-beli yang berlangsung langsung di dalam platform media sosial, tanpa harus berpindah ke situs e-commerce lain.
Sementara live shopping adalah bagian dari social commerce, yaitu aktivitas jual-beli yang dilakukan secara langsung (live streaming), biasanya disertai promosi interaktif dan tombol pembelian instan. Format ini menggabungkan hiburan, interaksi sosial, dan transaksi dalam satu sesi, sehingga terasa lebih menarik daripada sekadar belanja online biasa.
Popularitas live shopping di Indonesia didorong oleh banyak faktor: tingginya jumlah pengguna media sosial, dominasi Gen Z dan milenial yang lebih nyaman dengan format video, serta kemudahan bertransaksi langsung tanpa harus berpindah platform.
Tak heran jika berbagai brand, pelaku UMKM, hingga influencer kini berlomba-lomba mengadakan live shopping setiap malam, terutama saat prime time antara pukul 19.00 hingga 22.00. Namun, di balik keseruannya, muncul berbagai tantangan terkait transparansi dan etika. Banyak konsumen merasa “tertipu halus” karena testimoni yang terdengar bombastis, padahal tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Etika & Transparansi: Masalah yang Sering Diabaikan
Salah satu isu utama adalah minimnya transparansi soal hubungan antara penjual/influencer dengan brand. Tidak semua host menyampaikan dengan jelas apakah mereka sedang melakukan endorsement, menerima komisi sebagai affiliate, atau hanya memberi ulasan sukarela.
Konsumen pun sulit menilai apakah pujian yang disampaikan benar-benar murni dari pengalaman pribadi atau karena ada kontrak di balik layar. Di sisi lain, taktik promosi seperti “beli sekarang atau nyesel” juga kerap digunakan secara berlebihan. Penonton ditekan dengan kata-kata seperti “stok terbatas!”, “promo hanya malam ini!”, atau “diskon hanya untuk 10 pembeli pertama!”, yang mendorong pembelian impulsif.
Bahaya lain yang patut diwaspadai adalah testimoni palsu atau testimoni yang sudah disetting. Tidak sedikit host yang menyebut produk “paling bagus”, “terbaik di dunia”, atau “pasti cocok untuk semua jenis kulit” tanpa menjelaskan secara objektif kondisi produk.
Padahal, testimoni yang jujur seharusnya menyampaikan kelebihan sekaligus kekurangannya. Misalnya, menyebut bahwa produk ini hanya cocok untuk kulit normal, atau bahwa ukurannya cenderung kecil sehingga kurang pas untuk pengguna tertentu. Ketika kekurangan tidak disebutkan, ekspektasi konsumen menjadi tidak realistis dan rasa kecewa pun muncul saat barang tiba.
Testimoni Jujur vs Testimoni Settingan
Testimoni yang jujur biasanya disampaikan dengan bahasa apa adanya. Host menyampaikan pengalaman pribadi, menunjukkan secara langsung kelebihan dan keterbatasan produk, serta terbuka soal status kerjasama.
Ciri lainnya adalah adanya interaksi nyata selama sesi live: penonton bertanya, host menjawab, dan produk didemonstrasikan secara langsung dalam berbagai kondisi. Sebaliknya, testimoni yang patut dicurigai biasanya terdengar terlalu muluk, semua kalimat terdengar seperti iklan, tidak ada penjelasan soal sponsor, dan hanya menonjolkan sisi positif tanpa menyebut risiko atau batasan produk.
Dampak dari testimoni yang tidak jujur sangat besar. Bagi konsumen, mereka akan kehilangan kepercayaan, bukan hanya pada satu penjual, tapi juga pada seluruh ekosistem live shopping. Bagi penjual dan influencer, praktik overclaim bisa menghancurkan reputasi, mengurangi engagement, dan menurunkan loyalitas audiens. Bahkan untuk brand, kepercayaan konsumen bisa runtuh dan sulit dibangun kembali, apalagi di era digital saat ulasan negatif menyebar cepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat banyak contoh nyata. Seorang pengguna TikTok membeli blouse yang saat live disebut “fit to size” dan berbahan adem. Namun saat sampai, ukurannya ternyata kecil dan bahannya panas.
Di lain waktu, ada konsumen yang membeli serum wajah dengan janji “menghilangkan flek hitam dalam tujuh hari”. Namun setelah dua minggu pemakaian, tak ada perubahan berarti. Kekecewaan semacam ini bisa dicegah jika testimoni disampaikan dengan jujur dan tanpa tekanan emosional.
Tips untuk Konsumen dan Kreator
Bagi kamu yang suka menonton live shopping, penting untuk lebih kritis dan selektif dalam menyaring informasi. Jangan langsung percaya testimoni tanpa konfirmasi. Tanyakan hal-hal teknis seperti ukuran, bahan, fungsi, dan garansi.
Bandingkan informasi dengan review dari pengguna lain di luar sesi live. Jangan terburu-buru membeli hanya karena takut kehabisan. Jika memang tidak puas setelah membeli, berani komplain dan tinggalkan review jujur di platform yang tersedia. Ini akan membantu konsumen lain dan menumbuhkan budaya belanja yang sehat.
Untuk kamu yang menjadi kreator, host, atau penjual, kejujuran adalah aset utama. Jaga integritas dengan tidak menyembunyikan status endorsement. Hindari overclaim, dan tampilkan demonstrasi produk secara realistis. Jika ada kekurangan, sampaikan dengan bahasa yang empatik dan berikan solusi. Ingat, membangun hubungan jangka panjang dengan audiens lebih penting daripada mengejar penjualan instan.
Di era social commerce, kita semua baik konsumen maupun penjual punya tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan. Kejujuran dan transparansi bukan sekadar nilai moral, tapi juga strategi jangka panjang untuk keberlangsungan bisnis digital. Mari kita jadikan setiap “check out” saat live shopping bukan hanya momen impulsif, tapi juga keputusan yang cerdas dan memuaskan.
