Tanggal 29 Juni selalu diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Momen ini bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa keluarga adalah pondasi utama dalam membentuk masyarakat yang sehat, aman, dan sejahtera.
Namun, di balik semangat peringatan tersebut, Kalimantan Timur justru dihadapkan pada sejumlah fakta yang cukup mengkhawatirkan. Angka perceraian terus meningkat, kasus kekerasan terhadap anak masih tinggi, penyalahgunaan narkoba semakin meluas, hingga kenakalan remaja yang terus menjadi sorotan.
Semua persoalan itu mungkin terlihat berbeda-beda. Namun jika ditarik benang merahnya, hampir semuanya bermuara pada satu hal yang sama, yaitu ketahanan keluarga.
Rumah memang masih berdiri kokoh. Anggota keluarga masih tinggal dalam satu atap. Tetapi apakah hubungan di dalamnya masih benar-benar hangat? Pertanyaan itulah yang layak direnungkan pada Hari Keluarga Nasional tahun ini.
Ketika Angka Perceraian, Kekerasan Anak, dan Narkoba Menjadi Alarm bagi Keluarga Kaltim
Data memang tidak pernah berbohong. Angka-angka yang dirilis berbagai instansi menunjukkan bahwa keluarga di Kalimantan Timur sedang menghadapi tantangan yang tidak bisa dianggap sepele.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, sepanjang tahun 2024 tercatat 6.216 kasus perceraian. Angka tersebut menempatkan Kalimantan Timur sebagai provinsi dengan jumlah perceraian tertinggi kedua di Pulau Kalimantan.
Yang menarik perhatian, sebagian besar perceraian merupakan cerai gugat atau gugatan yang diajukan oleh pihak istri. Jumlahnya mencapai 4.698 kasus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak perempuan memilih mengakhiri rumah tangga karena merasa persoalan yang dihadapi sudah tidak lagi dapat diselesaikan. Tren tersebut bahkan belum menunjukkan tanda-tanda menurun.
Pengadilan Tinggi Agama Samarinda mencatat jumlah cerai gugat meningkat dari 5.835 kasus pada 2024 menjadi 6.559 kasus pada 2025. Jika dibandingkan dengan jumlah pernikahan yang mencapai 20.940 pasangan pada 2024, maka hampir satu dari tiga pernikahan di Kalimantan Timur berakhir dengan perceraian.
Angka tersebut tentu menjadi sinyal serius. Panitera Pengadilan Tinggi Agama Samarinda menyebutkan tiga penyebab yang paling dominan, yaitu persoalan ekonomi, pertengkaran yang berlangsung terus-menerus, serta maraknya praktik judi online yang ikut menghancurkan keharmonisan rumah tangga.
Tidak sedikit keluarga yang awalnya terlihat baik-baik saja, namun perlahan retak karena tekanan ekonomi dan kecanduan judi digital yang semakin mudah diakses. Sayangnya, ketika sebuah rumah tangga runtuh, bukan hanya pasangan yang merasakan dampaknya. Anak-anak sering kali menjadi pihak yang paling terluka.
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Timur menunjukkan hingga pertengahan 2025 terdapat 662 kasus kekerasan yang dilaporkan. Dari jumlah tersebut, 454 korban merupakan anak-anak, atau sekitar 63 persen dari seluruh korban kekerasan.
Kasus yang paling banyak terjadi adalah kekerasan seksual, disusul kekerasan fisik dan kekerasan psikis. Kepala DP3A Kalimantan Timur, Anik Nurul Aini, bahkan mengingatkan bahwa angka tersebut masih bersifat fluktuatif dan berpotensi terus meningkat apabila tidak dilakukan langkah pencegahan secara serius.
Sebelumnya, sepanjang tahun 2024 saja tercatat 1.108 kasus kekerasan di Kalimantan Timur. Situasi serupa juga terlihat di Kota Samarinda. Polresta Samarinda mencatat kasus kejahatan terhadap anak meningkat dari 71 kasus pada 2024 menjadi 106 kasus sepanjang 2025.
Menurut kepolisian, fenomena tersebut menjadi alarm serius karena semakin banyak anak yang terlibat dalam tindak pidana, baik sebagai korban maupun pelaku.
Faktor utama yang paling sering ditemukan adalah lemahnya pengawasan keluarga dan pengaruh lingkungan pergaulan. Kasus yang sempat menggemparkan publik juga terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara pada awal 2024.
Seorang remaja berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku kelas tiga SMK membunuh lima orang dalam satu keluarga setelah pesta minuman keras. Peristiwa tragis tersebut bukan sekadar kasus kriminal biasa.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ketika pengawasan keluarga melemah dan lingkungan negatif semakin mudah diakses, risiko terjadinya tindakan ekstrem ikut meningkat.
Ancaman Narkoba Makin Nyata, Keluarga Menjadi Benteng Pertama yang Tidak Boleh Runtuh
Selain persoalan perceraian dan kekerasan terhadap anak, Kalimantan Timur juga menghadapi tantangan besar dalam perang melawan narkoba.
Data Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur menunjukkan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat dari 1,7 persen pada 2021 menjadi 2,11 persen pada 2025. Kepala BNNP Kalimantan Timur Brigjen Pol. Rudi Hartono menyebut kenaikan tersebut tergolong signifikan.
Peningkatan prevalensi juga sejalan dengan bertambahnya jumlah pelaku yang berhasil diamankan aparat. Sepanjang tahun 2024, BNNP Kalimantan Timur bersama jajarannya menangani 528 tersangka kasus narkoba, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 433 tersangka.
Mayoritas pelaku berasal dari kelompok usia 15 hingga 35 tahun, yaitu kelompok usia pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda yang seharusnya menjadi generasi produktif. Di Kabupaten Kutai Timur, situasinya juga tidak kalah memprihatinkan.
Polres Kutai Timur berhasil mengungkap 247 kasus narkoba hanya dalam sembilan bulan pertama tahun 2025. Posisi geografis Kalimantan Timur yang berada di jalur pelayaran internasional membuat wilayah ini cukup rawan dimanfaatkan sebagai jalur masuk dan distribusi narkotika antarpulau.
Namun para ahli menilai persoalan narkoba tidak hanya berkaitan dengan faktor geografis. Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa lemahnya kontrol sosial dalam keluarga menjadi salah satu penyebab utama remaja mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
Ketika komunikasi di rumah mulai renggang, orang tua terlalu sibuk bekerja, atau anak merasa tidak lagi memiliki tempat bercerita, mereka cenderung mencari pelarian di luar rumah.
Sayangnya, tidak semua lingkungan mampu memberikan pengaruh yang positif. Di sinilah keluarga memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga benteng pertama yang melindungi anak dari berbagai pengaruh negatif.
Hari Keluarga Nasional Jadi Momentum Memperbaiki Hubungan, Bukan Sekadar Seremonial
Melihat berbagai persoalan tersebut, Hari Keluarga Nasional seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali hubungan antaranggota keluarga. Tidak perlu menunggu kondisi menjadi sempurna.
Langkah sederhana justru sering kali memberikan dampak besar. Misalnya, membiasakan makan bersama tanpa gangguan gawai beberapa kali dalam seminggu. Kebiasaan kecil ini memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk saling bercerita, mendengarkan, dan memahami kondisi satu sama lain.
Orang tua juga perlu mulai membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak. Alih-alih langsung memarahi atau menghakimi, cobalah menjadi pendengar yang baik. Anak yang merasa didengar akan lebih mudah terbuka ketika menghadapi masalah.
Sebaliknya, anak yang merasa diabaikan cenderung mencari perhatian di luar rumah. Hubungan suami dan istri pun membutuhkan perhatian yang sama. Banyak perceraian sebenarnya berawal dari persoalan kecil yang dibiarkan menumpuk hingga akhirnya sulit diselesaikan.
Komunikasi mengenai kondisi ekonomi, pembagian tanggung jawab, hingga tekanan pekerjaan perlu dibangun secara jujur dan terbuka. Jika konflik sudah tidak mampu diselesaikan sendiri, tidak ada salahnya memanfaatkan layanan konseling keluarga.
Mencari bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk kepedulian untuk mempertahankan keluarga. Di sisi lain, pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan keluarga.
Layanan konseling keluarga, edukasi parenting, perlindungan perempuan dan anak, hingga pemberantasan narkoba harus terus diperkuat agar masyarakat memperoleh pendampingan yang memadai.
Pembangunan infrastruktur memang penting. Namun pembangunan manusia jauh lebih menentukan masa depan daerah. Sebab jalan yang mulus tidak akan berarti jika keluarga di dalamnya terus mengalami keretakan.
Gedung yang megah juga tidak akan mampu menggantikan kehangatan sebuah rumah. Hari Keluarga Nasional mengingatkan bahwa keluarga bukan hanya tempat seseorang pulang. Keluarga adalah tempat seseorang merasa aman, diterima, dan dicintai.
Data mengenai perceraian, kekerasan terhadap anak, kenakalan remaja, hingga penyalahgunaan narkoba seharusnya tidak hanya menjadi statistik yang dibaca setiap tahun.
Semua angka itu adalah pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan bersama. Membangun keluarga yang kuat memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun semuanya bisa dimulai dari langkah paling sederhana.
Luangkan waktu bersama. Kurangi kesibukan yang tidak perlu. Matikan gawai sejenak. Tatap mata pasangan dan anak-anak. Dengarkan cerita mereka tanpa menghakimi. Keluarga yang kuat bukan dibangun oleh kemewahan atau materi, melainkan oleh kehadiran, perhatian, dan kasih sayang yang terus dirawat setiap hari.
Selamat Hari Keluarga Nasional.
Semoga Kalimantan Timur tidak hanya dikenal sebagai daerah yang terus membangun infrastruktur, tetapi juga mampu melahirkan keluarga-keluarga yang tangguh, harmonis, dan menjadi pondasi kuat bagi masa depan generasi berikutnya.
Sumber data: BPS Kalimantan Timur (2024/2025), BNNP Kaltim, DP3A Kaltim, Pengadilan Tinggi Agama Samarinda, Polresta Samarinda, Polres Kutai Timur.
Oleh : Riyawan S,Hut
Pemerhati Sosial & Budaya
