Jombang – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang, Jawa Timur, kini melangkah maju dalam dunia medis dengan menghadirkan metode modern untuk pengobatan varises, yakni Endovenous Laser Ablation (EVLA). Teknologi ini dinilai lebih efektif, minim luka, serta memberikan waktu pemulihan yang jauh lebih singkat dibandingkan metode operasi konvensional.
Menurut penjelasan dr. Dimas Ria Balti, Sp.JP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Jombang, metode EVLA bekerja dengan memanfaatkan energi panas dari laser untuk menutup dan mengecilkan pembuluh darah vena yang rusak atau melebar. “Prosedur ini dilakukan secara minimal invasif dengan panduan ultrasound, menggunakan serat laser tipis yang dimasukkan ke dalam vena melalui sayatan kecil,” jelasnya, Rabu (5/11/2025).
Sebelum proses ablasi dimulai, dilakukan penyuntikan cairan tumescent di sekitar pembuluh darah target. Cairan ini berfungsi sebagai pelindung jaringan agar tidak mengalami luka akibat panas laser. “Pembuluh darah itu dipanaskan (diablasi), dan untuk mencegah jaringan di sekitarnya ikut rusak, diperlukan cairan tumescent agar hanya pembuluh darahnya saja yang terkena panas,” ujar dr. Balti.
Dengan metode EVLA, aliran darah akan secara alami dialihkan ke vena yang lebih sehat. Keunggulan lain dari prosedur ini adalah minimnya bekas luka dan risiko kekambuhan yang lebih rendah dibandingkan operasi biasa. “Hasil estetiknya juga jauh lebih baik karena sayatan kecil hampir tidak terlihat,” tambahnya.
Meski demikian, tindakan ini dapat menimbulkan sensasi nyeri bagi sebagian pasien, terutama saat memasukkan serat laser (fiber EVLA) dan menyuntikkan cairan tumescent. Untuk itu, RSUD Jombang menerapkan pembiusan lokal, namun pada pasien dengan sensitivitas tinggi dapat dilakukan anestesi regional atau pembiusan separuh badan. “Kalau pasien sangat sensitif, tidak cukup dengan pembiusan lokal. Kita lakukan seperti pembiusan pada ibu hamil, yakni separuh badan,” terang dr. Balti.
Proses EVLA di RSUD Jombang
Dalam pelaksanaannya, dokter akan memasukkan serat optik ke dalam vena yang mengalami varises. Melalui panduan ultrasound, dilakukan penyuntikan cairan pelindung berisi obat pereda nyeri dan pendingin jaringan sekitar. Setelah itu, vena yang rusak akan “dibakar” menggunakan energi laser hingga menutup sempurna.
Prosedur ini terdengar menegangkan, namun sejatinya sangat aman. “Pasien tidak perlu takut karena dilakukan dengan pengawasan ketat, anestesi lokal, dan alat modern,” kata dr. Balti. Hanya pada kasus tertentu, bila pembuluh darah terlalu besar atau letaknya dalam, digunakan anestesi lebih kuat.
Memahami Varises dan Penyebabnya
Varises adalah kondisi ketika pembuluh darah vena melebar dan menonjol akibat melemahnya katup vena, yang menyebabkan darah mengalir balik dan menumpuk. Vena sendiri berfungsi membawa darah dari seluruh tubuh kembali ke jantung. Ketika katup tidak berfungsi normal, darah mengendap dan menyebabkan pembengkakan.
“Varises bisa terjadi karena usia, hormon, kehamilan, maupun gaya hidup,” ujar dr. Balti. Ia menjelaskan bahwa elastisitas pembuluh darah menurun seiring bertambahnya usia. Pada perempuan, faktor hormonal dan kehamilan memperbesar risiko karena tekanan pada perut meningkat.
Selain itu, kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama, obesitas, kurang olahraga, hingga penggunaan sepatu hak tinggi juga berperan besar. “Sepatu heels memaksa otot betis bekerja tidak alami. Saat otot tidak aktif memompa, aliran darah vena terganggu dan muncullah varises,” jelasnya.
Meski identik dengan usia lanjut, kasus varises kini juga ditemukan pada kelompok usia muda. “Pasien saya ada yang masih usia 20-an akhir. Biasanya karena gaya hidup dan kebiasaan kerja yang kurang gerak,” tambahnya.
Gejala dan Risiko Bila Tidak Diobati
Tanda-tanda awal varises sering kali diabaikan. Gejala umumnya berupa pembengkakan kaki setelah duduk atau berdiri lama, disertai rasa berat dan nyeri. Jika dibiarkan, pembuluh darah akan makin menonjol seperti “cacing besar” di bawah kulit.
“Kalau tidak segera ditangani, bisa timbul perubahan warna kulit, menghitam, bahkan luka kronis di sekitar pergelangan kaki,” kata dr. Balti. Dalam kasus berat, pasien harus menjalani perawatan luka terlebih dahulu sebelum tindakan EVLA bisa dilakukan.
Selain mengganggu penampilan, varises juga dapat meningkatkan risiko trombosis vena dalam (DVT), yaitu penggumpalan darah berbahaya yang bisa berujung pada komplikasi serius.
RSUD Jombang Jadi Pusat Rujukan Pengobatan Varises Modern
Dengan kehadiran teknologi EVLA, RSUD Jombang kini menjadi salah satu rumah sakit daerah rujukan di Jawa Timur untuk pengobatan varises berbasis teknologi laser. Langkah ini menandai kemajuan signifikan layanan medis di tingkat daerah, sekaligus memberikan alternatif pengobatan modern yang lebih aman dan nyaman.
“Pasien tidak perlu takut menjalani tindakan ini. Hasilnya baik, pemulihan cepat, dan pasien bisa segera kembali beraktivitas tanpa rawat inap lama,” ujar dr. Balti optimis.
RSUD Jombang juga terus berkomitmen meningkatkan kualitas layanan vaskular melalui pelatihan tenaga medis dan investasi alat berteknologi tinggi. “Kami ingin masyarakat mendapatkan akses pengobatan modern tanpa harus pergi ke luar daerah,” imbuhnya.
Hadirnya metode EVLA menjadi bukti transformasi layanan kesehatan daerah yang semakin setara dengan rumah sakit besar di kota-kota besar. Dengan pendekatan minim invasif, cepat pulih, dan hasil estetis maksimal, teknologi ini membawa harapan baru bagi penderita varises di Jawa Timur. (ADV).
