Jember – Dari halaman SMP Negeri 1 Balung, semangat perubahan pendidikan bergema. Di tengah riuh tepuk tangan siswa dan guru, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, meresmikan revitalisasi 124 satuan pendidikan di Kabupaten Jember, Sabtu (21/02/2026). Momen ini disebut sebagai capaian terbesar sepanjang sejarah program perbaikan sekolah di daerah tersebut.
Peresmian ini menjadi tonggak penting bagi dunia pendidikan Jember setelah pada 2025 pemerintah pusat mengucurkan bantuan revitalisasi dalam jumlah signifikan. Program tersebut menyasar ratusan gedung sekolah yang sebelumnya mengalami kerusakan berat, bahkan ada yang hampir roboh.
Dalam sambutannya, Bupati Jember mengungkapkan kondisi pendidikan saat dirinya pertama kali menjabat. Ia menyebut Jember sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Jawa Timur, namun memiliki persoalan serius di bidang kemiskinan.
“Lapor Pak Menteri, saat pertama kali saya diangkat menjadi Bupati Jember, kami adalah kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di Jawa Timur. Tapi kami punya masalah besar. Angka kemiskinan absolut kami nomor dua terbanyak se-Jawa Timur, dan kemiskinan ekstrem atau bahasa pesantrennya ‘kaum parkir’ terbanyak ada di Jember,” ujarnya.
Ia menjelaskan, evaluasi menyeluruh dilakukan dengan mengacu pada data pendidikan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hasilnya cukup mengejutkan, terdapat 1.532 gedung sekolah dalam kondisi rusak berat. Jumlah itu belum termasuk kerusakan ringan dan sedang.
“Jumlah gedung sekolah rusak berat di Kabupaten Jember ada 1.532 unit. Saya kaget, yang rusak berat saja 1.532, belum yang rusak ringan dan sedang. Bahkan ada yang hampir roboh dan pernah roboh,” tegasnya.
Persoalan lain muncul dari ketidaksesuaian data dalam sistem Dapodik. Pemerintah daerah menemukan perbedaan antara data administrasi dan kondisi riil di lapangan. Setelah dilakukan pembaruan dan validasi, data tersebut kemudian diajukan kembali ke Kementerian Pendidikan.
Hasilnya, pada 2025 sebanyak 124 sekolah di Jember memperoleh program revitalisasi dari pemerintah pusat. Angka tersebut jauh melampaui bantuan tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya berkisar Rp5–6 miliar.
“Biasanya Jember hanya mendapatkan bantuan di kisaran Rp5–6 miliar. Tapi di era Presiden Prabowo tahun 2025, Jember mendapatkan revitalisasi terbesar. Kalau ditanya perbaikan sekolah terbesar, itu diberikan kepada Kabupaten Jember,” katanya.
Meski bersyukur atas capaian tersebut, Pemkab Jember belum berhenti. Untuk tahun 2026, pemerintah daerah kembali mengajukan sekitar 300 sekolah yang masih dalam kondisi rusak berat agar mendapatkan program serupa.
“Tahun 2026 kami mengajukan kembali sekitar 300 sekolah yang masih rusak berat. Kami pasrahkan sepenuhnya kepada Pak Menteri. Kalau tahun ini 124 sekolah diberi bantuan, mudah-mudahan 300 lebih tahun ini bisa diberi bantuan,” ujarnya penuh harap.
Bupati menegaskan, revitalisasi sekolah bukan sekadar membangun ulang gedung. Lebih dari itu, langkah ini menjadi strategi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menekan angka kemiskinan ekstrem di Jember.
“Ujung dari pendidikan adalah cara jangka panjang untuk mengentaskan kemiskinan. Harapan kami, dengan perbaikan sekolah ini, kualitas pendidikan Jember semakin baik, IPM meningkat, dan kemiskinan, terutama kemiskinan ekstrem, bisa jauh berkurang ke depan,” pungkasnya.
Acara peresmian berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran pejabat kementerian, kepala OPD, kepala sekolah, guru, serta perwakilan siswa se-Kabupaten Jember. Revitalisasi ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi generasi muda Jember menuju masa depan yang lebih cerah. (ADV).
