Jombang – Di sebuah rumah sederhana yang berdampingan dengan Masjid Tanggungan, deretan lukisan kaligrafi memikat mata siapa pun yang melintas. Goresan tinta emas dan warna-warna hangat membentuk untaian ayat-ayat suci Al-Qur’an yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menggetarkan hati. Rumah itu bukan galeri seni biasa. Di sanalah tinggal Lukmanul Hakim—akrab disapa Cak Luk—seorang seniman kaligrafi yang telah mencurahkan hidupnya selama tujuh tahun terakhir untuk misi suci: melukis 30 juz Al-Qur’an secara utuh.
Dari Denanyar ke Dunia Kaligrafi
Pria kelahiran 12 Juli 1972 ini bukan sekadar pelukis. Ia adalah lulusan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, salah satu pesantren ternama di Jombang yang dikenal sebagai kawah candradimuka para santri dan tokoh agama. Sebelumnya, ia juga menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Jombang dan SD Negeri 1 Bandung, Jombang. Kombinasi antara pendidikan formal dan religius ini membentuk pribadi yang tidak hanya terampil secara artistik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
Minatnya terhadap seni kaligrafi sudah muncul sejak masa remaja. Saat duduk di bangku SMA, Cak Luk mulai tertarik dengan keindahan seni menulis Arab yang sarat makna itu. Selepas lulus, pesanan kaligrafi pertamanya datang—sepuluh lukisan sekaligus. “Usai lulus SMA, saya mendapatkan orderan lukisan kaligrafi sebanyak 10 buah,” kenangnya sambil tersenyum saat ditemui di kediamannya, Kamis (27/3/2025).
Namun, perjalanan menjadi pelukis kaligrafi penuh waktu bukanlah jalan yang langsung terbentang. Ia sempat menjajal berbagai gaya melukis seperti realisme dan naturalisme, menggambar potret dan pemandangan. Tapi ada sesuatu yang lain dalam kaligrafi—sebuah kedalaman, ketenangan, dan resonansi spiritual yang tidak ia temukan dalam gaya lain. “Saya sering kali mendapatkan apresiasi dan dikoleksi ketika melukis kaligrafi,” ujarnya.
Titik Balik: Ketika Ayat Menjadi Goresan
Tahun 2016 menjadi titik balik penting dalam karier seninya. Ia menerima pesanan membuat kaligrafi dalam ukuran besar, 3 x 2 meter. Tapi permintaan itu hanya mencakup potongan dari satu surat Al-Qur’an. Di sinilah Cak Luk mulai merasa, mengapa hanya sebagian? Mengapa tidak utuh satu surat?
“Tidak semua surat, saya mendapatkan inspirasinya di situ, eman kalau cuma potong-potongannya saja. Kalau memang satu surat ya satu surat saja,” ujarnya, mantap.
Itulah momen di mana tekad untuk melukis seluruh isi Al-Qur’an tumbuh. Ia tidak memulai dari Juz 1 seperti dalam mushaf biasa. Ia memilih surat-surat yang sudah akrab di telinga umat Islam Indonesia—Surat Yasin, Al-Waqi’ah, dan Ar-Rahman. “Dulu itu memang saya mulai dari surat-surat familiar orang faham seperti Surat Yasin dan Waqiah,” jelasnya.
Menerjemahkan Makna Menjadi Imaji
Apa yang membedakan lukisan kaligrafi Cak Luk dari karya lain adalah kemampuannya menerjemahkan makna surat ke dalam visualisasi yang mendalam. Kaligrafi tidak hanya menjadi teks indah, tapi juga karya seni naratif yang merepresentasikan pesan spiritual dari tiap ayat.
Dalam menggambar Surat Al-Kahfi, misalnya, Cak Luk menghadirkan elemen goa, tanaman, dan suasana gua tempat para pemuda Ashabul Kahfi bersembunyi dari kekejaman penguasa. Ia tidak sekadar menulis ayat, tetapi juga membangkitkan imajinasi pembaca terhadap konteks kisahnya. “Menjadi inspirasi sebuah lukisan. Misalkan Al-Kahfi surat tentang goa, ada tanaman,” tuturnya.
Pendekatannya ini memerlukan bukan hanya kemampuan melukis, tetapi juga pengetahuan tafsir dan sensitivitas spiritual. Setiap lukisan adalah hasil dari perenungan panjang, bukan sekadar kerja tangan, tetapi juga kerja hati dan pikiran.
Pameran dan Pengakuan
Perjalanan spiritual dan artistik ini membuahkan pengakuan publik. Ia pernah menggelar pameran tunggal di Balai Pemuda Surabaya, dan pameran tersebut masih berlangsung di Gedung 10 November. Karyanya menjadi perhatian tidak hanya komunitas seniman, tapi juga para pecinta Al-Qur’an yang melihat nilai lebih dari sekadar estetika.
“Sampai sekarang sudah 60 persen surat dalam Al-Qur’an yang saya lukis,” ungkapnya. Satu persatu, surat demi surat ia selesaikan. Ia memperkirakan butuh beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan semuanya. Setiap surat memiliki kompleksitasnya sendiri, tergantung pada panjang dan temanya. Surat Al-Baqarah, misalnya, ia bagi menjadi tiga lukisan besar karena panjangnya ayat-ayat dalam surat tersebut.
“Contoh seperti Surat Al-Baqarah sampai 3 lukisan,” ujarnya.
Seni yang Menumbuhkan Kerendahan Hati
Meski telah melukis puluhan surat dan ratusan ayat, Cak Luk justru merasa semakin kecil di hadapan ilmu. “Saya menemukan semakin bodoh dan terus belajar,” akunya dengan nada yang penuh ketulusan.
Melukis kaligrafi bukan hanya soal menata huruf, tapi memahami isinya. Tiap ayat yang ia goreskan menuntut penghayatan, membuka cakrawala batin, dan memperdalam hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Di sinilah seni menjadi jalan sufi, dan pelukis menjadi peziarah.
“Saya menikmati sekali, sangat menikmati,” katanya lirih namun penuh makna.
Kaligrafi sebagai Dakwah Visual
Dalam era digital dan visual seperti sekarang, pendekatan Cak Luk menjadi angin segar dalam menyampaikan pesan Al-Qur’an. Melalui warna dan bentuk, ia memperkenalkan kembali ayat-ayat suci kepada masyarakat dengan cara yang menyentuh emosi dan indra.
Kaligrafinya tidak hanya menghiasi masjid atau rumah, tetapi juga menggugah kesadaran. Ia berharap, lewat karyanya, orang-orang tidak hanya memandangi keindahan, tapi juga terdorong untuk membaca dan memahami maknanya.
“Ini aja bagian kecil yang saya dalami,” ucapnya dengan rendah hati.
Harapan dan Warisan
Dengan ketekunan dan tekad baja, Cak Luk berharap bisa menyelesaikan semua 30 juz dalam beberapa tahun ke depan. Ia menyadari bahwa ini bukan pekerjaan sehari dua hari. Ini adalah proyek hidup, semacam wasiat dalam bentuk seni yang kelak akan ia wariskan kepada generasi mendatang.
Ia juga bermimpi memiliki galeri kaligrafi sendiri di kampung halamannya, Dusun Tanggungan. Sebuah ruang untuk mendidik, menginspirasi, dan memperkenalkan seni kaligrafi sebagai bagian dari budaya Islam yang luhur.
“Saya ingin suatu saat nanti, lukisan ini bisa jadi media edukasi juga buat anak-anak muda,” tuturnya.
Menyulam Iman dalam Warna dan Huruf
Lukmanul Hakim bukan sekadar pelukis. Ia adalah penjaga ayat, penganyam makna, penyulam iman dalam warna dan huruf. Di tengah dunia yang serba cepat, ia memilih jalan lambat tapi pasti. Gores demi gores, lembar demi lembar, ia membangun jembatan antara teks suci dan jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian.
Di rumah kecilnya yang bersisian dengan masjid, karya-karyanya terus bertumbuh. Ia tidak mengejar ketenaran, tapi keberkahan. Ia tidak menggambar untuk dijual, tapi untuk dibagikan. Dan di setiap lukisan kaligrafi itu, ada jejak cinta, ilmu, dan doa yang tak henti mengalir.
