Surabaya – Seolah tubuh manusia berbicara tanpa suara, goresan kanvas menjadi medium sunyi yang penuh makna dalam pameran tunggal bertajuk “Tubuh-Tubuh Spiritual”. Karya perupa Welldo Wnophringgo ini menghadirkan tafsir unik tentang tubuh, gerak, dan dimensi batin yang tak kasatmata.
Pameran resmi dibuka pada Rabu (15/04/2026) sore di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Genteng Kali No. 85, Surabaya, dan akan berlangsung hingga [21 April 2026]. Acara pembukaan dilakukan oleh Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Haryono, serta dikuratori oleh perupa dan penulis seni rupa Agus “Koecink” Sukamto. Selain pameran lukisan, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan performance art dari Welldo sendiri serta hiburan seni sulap oleh Mbah Gimbal Sang Putra Alam.
Sejumlah tokoh budaya turut hadir dalam pembukaan tersebut, termasuk budayawan Jawa Timur Taufik Hidayat yang dikenal sebagai Taufik Monyong, serta komunitas lintas budaya Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog. Kehadiran mereka menambah nuansa kultural yang kental dalam perhelatan seni ini.
“Pelukis atau perupa bukan hanya sekedar menciptakan karya yang tertuang dalam goresan kanvas, melainkan juga mengekspresikan pesan dan keresahan jiwa yang dirasakan oleh sang pelukis tersebut,” ujar Agus Koecink dalam narasinya.
Menurutnya, perjalanan seorang seniman tidak berhenti pada penguasaan teknik, tetapi merupakan proses panjang evolusi batin yang tercermin dalam visual karya. Ia menilai, karya-karya Welldo menunjukkan bahwa seni merupakan bagian dari laku hidup yang tidak bisa dibatasi oleh medium fisik semata.
“Tangan atau tubuh seorang pelukis bukan lagi hanya sekedar memegang kuas, melainkan sebagai sarana kritik sosial terhadap ketimpangan di masyarakat khususnya kaum marjinal,” tambahnya.
Welldo sendiri menegaskan bahwa karyanya bukan sekadar menghadirkan estetika visual, melainkan juga sebagai refleksi realitas sosial. Ia memposisikan dirinya sebagai pengamat sekaligus pengkritik berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya.
“Saya memposisikan diri saya sebagai saksi sekaligus pengritik realitas, isu-isu kemanusian dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat,” ungkapnya.
Namun, dalam fase terbaru karyanya, Welldo mengaku mengalami pergeseran pendekatan. Ia mulai meninggalkan ekspresi yang bersifat eksternal menuju eksplorasi yang lebih kontemplatif dan spiritual.
“Ini adalah fase dimana spiritualisme menjadi kompas utama dalam lukisan-lukisan saya, dan tidak lagi (berteriak) menuntut perubahan sistem, melainkan berbisik mengajak penyucian diri dan kesadaran akan eksistensi yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Secara visual, lukisan-lukisan Welldo menampilkan anatomi tubuh manusia dengan bentuk yang tidak konvensional, penuh elastisitas dan dinamika gerak. Tubuh digambarkan seolah menyatu dengan ritme alam, menghadirkan kesan keseimbangan sekaligus keteraturan yang harmonis.
Pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni rupa, tetapi juga wadah refleksi bagi pengunjung untuk memahami hubungan antara tubuh, jiwa, dan realitas sosial. Dalam setiap goresan, tersimpan pesan bahwa seni dapat menjadi jembatan antara kegelisahan manusia dan pencarian makna yang lebih dalam.
