Cinta sejati itu menuntut kesungguhan. Rasulullah SAW bersabda,
“Seseorang akan dikumpulkan bersama dengan siapa yang ia cintai.” (HR Bukhari dan Muslim)
Jika kita benar mencintai Rasulullah, tentu ada jejak beliau yang kita teladani. Bukan hanya dalam ibadah sunnah dan adab keseharian, tapi juga dalam perjuangan yang beliau wariskan. Salah satu jejak agung yang tak bisa dilepaskan dari perjuangan Nabi adalah Baitul Maqdis.
Hari ini, dunia mengenal wilayah itu sebagai Palestina yang terpecah antara Gaza dan Tepi Barat, dan terus dicabik oleh penjajahan Zionis. Namun dahulu, di masa Rasulullah, wilayah ini dikenal utuh dengan nama Baitul Maqdis. Sebutan ini bukan sekadar nama geografis — melainkan simbol keimanan, saksi perjuangan para nabi, dan tempat yang sangat istimewa di hati Rasulullah SAW.
Baitul Maqdis adalah bagian dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj, tempat Rasulullah memimpin shalat seluruh nabi sebelum naik ke langit menerima perintah shalat. Peristiwa ini bukan hanya sejarah, tapi penegasan posisi spiritual Baitul Maqdis dalam Islam.
Bukan kebetulan jika Allah memilih Baitul Maqdis sebagai titik temu langit dan bumi. Dan bukan tanpa makna jika Rasulullah memulai dakwahnya di Mekkah dengan fondasi aqidah, lalu menyebut dan merindukan tanah yang jauh — Baitul Maqdis — sebagai bagian dari misi risalahnya.
Hari ini, bukti cinta kepada Rasulullah bukan hanya dengan bershalawat, tapi juga dengan peduli pada apa yang beliau perjuangkan. Ketika Baitul Maqdis disakiti, dihina, dan dicabik oleh penjajah, lalu umat Islam memilih diam — itu adalah bentuk cinta yang belum selesai.
Mengurai lembaran sejarah Baitul Maqdis adalah bentuk kesungguhan kita dalam mencintai Rasulullah. Kita sedang menelusuri sejauh mana tempat ini berada di hati beliau, agar tumbuh pula di hati kita cinta yang serupa.
Karena mencintai Rasulullah tak cukup hanya dengan kata, tapi harus disertai perhatian pada setiap bagian dari perjuangannya. Dan Baitul Maqdis adalah salah satunya.
