Kediri – Dari lahan seluas 300 meter persegi, Lapas Kelas IIA Kediri berhasil menorehkan prestasi dalam program ketahanan pangan lewat budidaya terong. Selama tiga bulan terakhir, para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang terlibat di dalam program pembinaan kerja SAE Lakuli telah memanen terong sebanyak 12 kali, dengan total hasil mencapai 18 kuintal.
Panen rutin ini menjadi simbol keberhasilan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan sekaligus menunjukkan kemampuan Lapas Kediri dalam memaksimalkan potensi pertanian. Setiap kali panen, WBP berhasil menghasilkan sekitar 1,5 kuintal terong, yang kemudian didistribusikan kepada penyedia bahan makanan dan sebagian lainnya disalurkan ke masyarakat sekitar.
Kegiatan ini melibatkan empat WBP yang aktif dalam setiap tahapan proses, mulai dari pembibitan, pemupukan, penyemprotan hama hingga panen. Pemupukan dilakukan pasca panen dan pengendalian hama dilakukan sebulan sekali demi menjaga kualitas hasil. Melalui kegiatan ini, mereka mendapatkan pengalaman dan keahlian praktis dalam pertanian yang diharapkan berguna pasca bebas nanti.
“Program ini bukan hanya fokus pada ketahanan pangan, tetapi juga sebagai media pembinaan dan pelatihan keterampilan yang dapat dimanfaatkan para WBP setelah keluar dari lapas,” ujar Kalapas Kediri, Solichin.
Menurut Solichin, keberhasilan panen ini merupakan hasil implementasi arahan dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan yang menekankan pentingnya peran lapas dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga mampu membentuk kepercayaan masyarakat terhadap lapas sebagai institusi yang tidak hanya bersifat hukuman, tetapi juga rehabilitatif.
“Melalui pelatihan ini, WBP bisa belajar keterampilan nyata yang meningkatkan peluang mereka untuk hidup mandiri dan lebih baik di masa depan,” jelasnya.
Dengan capaian panen yang produktif ini, Lapas Kediri menyatakan komitmennya untuk terus memperluas program keterampilan serupa guna mendukung proses reintegrasi sosial bagi WBP. Program pertanian ini menjadi contoh nyata pendekatan pemasyarakatan yang lebih humanis, menciptakan manfaat langsung bagi narapidana dan lingkungan sekitarnya.
