Langgar dan halaqah bukan sekadar istilah lama. Di Kutai Kartanegara, keduanya adalah warisan penting dari masa awal Islamisasi yang masih hidup hingga kini. Sejak abad ke-17, langgar—tempat ibadah sederhana—menjadi pusat pembelajaran Islam bagi masyarakat. Di situlah halaqah, atau majelis ilmu melingkar, rutin diadakan untuk mengajarkan Al-Qur’an, fiqih, hingga akhlak.
Tradisi ini bermula dari inisiatif kerajaan setelah Raja Mahkota memeluk Islam pada 1607 M. Masjid-masjid dan langgar dibangun tak hanya untuk shalat, tapi juga untuk menghidupkan budaya belajar. Ulama yang datang dari luar daerah, seperti Tuan Tunggang Parangan, membuka halaqah pertama yang terbuka untuk siapa saja, termasuk rakyat jelata.
“Langgar dan halaqah adalah jantung pendidikan Islam Kutai. Di sanalah benih keilmuan Islam ditanam,” tulis Samsir dalam jurnal Masuk dan Berkembangnya Islam di Kerajaan Kutai Kartanegara.
Sistem belajar kala itu bersifat informal tapi intensif. Murid duduk melingkar di lantai, menghafal ayat, mendengar tafsir, dan berdiskusi. Pendekatan ini membuat dakwah terasa akrab dan menyentuh. Tak heran, banyak ulama lokal lahir dari langgar-langgar kecil di tepian Mahakam.
Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat belajar masyarakat sangat tinggi. Tidak ada sekat usia atau status sosial. Siapa pun boleh belajar, asalkan memiliki niat dan adab. Halaqah pun menjadi ruang pembentukan karakter dan spiritualitas, bukan sekadar transmisi ilmu.
Tradisi ini kemudian menyebar ke daerah lain di Kalimantan Timur. Bahkan hingga kini, langgar dan halaqah masih eksis, terutama di daerah pedalaman dan pesisir. Fungsinya tetap sama: menyambung warisan keilmuan Islam dari masa lalu ke generasi sekarang.
Kekuatan metode ini ada pada kedekatan emosional antara guru dan murid. Relasi mereka lebih dari sekadar pengajar dan pelajar, tapi seperti orang tua dan anak. Inilah yang membuat ilmu itu membekas dan diwariskan dari hati ke hati.
Dalam era digital saat ini, langgar dan halaqah mungkin tak semewah institusi formal. Tapi nilai yang dibawanya tetap relevan: kesederhanaan, keikhlasan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu.
Jika hari ini pendidikan Islam di Kutai masih kuat, maka akar sejarahnya dapat ditelusuri kembali ke langgar kecil dan halaqah tenang di masa lalu.
