Mojokerto – Di tengah derasnya arus modernisasi, warga Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal tetap menjaga satu tradisi khas yang menyatukan hati: ketupat lebaran. Setiap Idulfitri, aroma ketupat yang direbus meresap ke sudut-sudut kampung, menandai momen kemenangan penuh rasa syukur dan kebersamaan yang mendalam.
Pembuatan ketupat di desa ini sudah menjadi kegiatan sakral turun-temurun. Sejak beberapa hari sebelum hari raya, warga mulai sibuk mempersiapkan daun kelapa muda yang akan dianyam menjadi selongsong ketupat. Prosesnya bukan sekadar rutinitas, melainkan juga bagian dari ritual kekeluargaan. Anak-anak turut diajak merangkai anyaman, sementara para ibu menyiapkan beras dan rempah. Ketupat yang telah matang kemudian disantap bersama dengan hidangan khas seperti opor ayam dan sambal goreng ati.
“Ketupat sudah menjadi tradisi di keluarga kami. Meskipun zaman sudah modern, kami tetap menjaga kebiasaan ini,” tutur Siti Nurkholifah, warga setempat, saat tengah menyiapkan ketupat di halaman rumahnya.
Tak sekadar makanan, ketupat menjadi simbol keberhasilan menuntaskan ibadah puasa dan perekat silaturahmi. Usai dimasak, ketupat dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk saling menghargai dan menjalin keakraban antarwarga. Suasana kampung pun dipenuhi dengan kehangatan dan canda tawa.
“Kami biasa membuat ketupat bersama-sama, sambil berbincang-bincang dan bercanda. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun,” ungkap Agus, warga lain yang juga aktif dalam tradisi ini.
Menjelang malam takbiran, ketupat mulai menghiasi meja-meja warga sebagai suguhan utama bagi tamu yang bersilaturahmi. Ini menjadi simbol bahwa Desa Kedunguneng tidak hanya mempertahankan nilai kuliner, tapi juga makna sosial yang mendalam.
Meskipun zaman berubah dan teknologi berkembang, warga Desa Kedunguneng tetap teguh melestarikan warisan budaya ini. Mereka yakin bahwa ketupat bukan sekadar kuliner Lebaran, tetapi juga lambang kekuatan tradisi yang mempersatukan lintas generasi.
“Ketupat sudah menjadi bagian dari identitas kami, dan kami berharap tradisi ini akan terus ada di masa yang akan datang,” ucap Nasikah, warga setempat, penuh harapan.
Tradisi ketupat lebaran di Mojokerto menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap budaya tetap hidup, bahkan di tengah zaman yang terus bergerak maju.
