Cirebon – “Tidur larut, bangun pagi, tapi justru lebih seru daripada di rumah,” begitulah kesan mendalam yang dirasakan oleh para finalis Jaka Rara Cirebon selama menjalani masa karantina. Tiga hari dua malam, dari 16 hingga 18 Mei 2025, menjadi momen penuh pelajaran dan kebersamaan bagi 22 pemuda-pemudi terpilih yang siap menorehkan prestasi untuk kota mereka.
Karantina yang digelar di Hotel Grage Cirebon itu tak sekadar menjadi wadah persiapan teknis menjelang malam puncak pemilihan Jaka Rara. Di balik rutinitas padat dan waktu istirahat yang terbatas, para finalis justru mendapatkan pengalaman berharga dalam pembentukan karakter dan keterampilan pribadi.
Setiap hari dimulai sejak pagi buta, diwarnai dengan sesi-sesi intensif, baik latihan panggung seperti opening dance dan penyambutan tamu undangan, hingga pembekalan materi dari para alumni Jaka Rara yang kini telah sukses di bidangnya masing-masing.
“Saat itu kita dibekali materi dari Kang Ferri Rahman Hakim yang memberikan semangat dan motivasi melalui pelatihan public speaking,” ungkap Michelin Harosan Syadida, Finalis 6 Besar Jaka Rara 2025 yang akrab dipanggil Kelin saat diwawancarai pada Rabu malam (20/5/2025). Materi ini menjadi dasar penting dalam membentuk kemampuan komunikasi para peserta, yang kelak diharapkan menjadi representasi Cirebon di berbagai forum.
Tak hanya itu, Panji Slamet Hutomo turut hadir memberikan materi penting mengenai etika dan kepribadian, termasuk table manner atau tata krama makan. Hal ini menjadi bekal penting dalam menumbuhkan sikap santun dan berkelas di berbagai situasi sosial dan profesional.
Sesi lain yang tak kalah penting adalah pembahasan tentang kesehatan mental, yang disampaikan oleh dokter dari Rumah Sakit Medimas—dulu dikenal sebagai rumah sakit khusus, kini telah menjadi rumah sakit umum. Materi ini membuka wawasan para finalis mengenai pentingnya menjaga kestabilan emosi dan psikologis di tengah tekanan kompetisi dan kehidupan sosial modern.
“Kita belajar banyak di sana, walau tidurnya larut. Tapi karena kita bareng-bareng terus, jadi semua terasa lebih mudah dan menyenangkan,” kenang Kelin Ia juga menyebut bahwa agenda karantina yang padat membuat mereka merasa lebih produktif, bahkan lebih antusias daripada saat berada di rumah.
Dengan semangat kebersamaan, para finalis membentuk ikatan yang erat, menjadikan masa karantina bukan hanya sebagai tahap seleksi, tapi juga proses pembentukan pribadi unggul.
Karantina ini menjadi fondasi penting untuk menyaring figur muda Cirebon yang tidak hanya cerdas, tapi juga berbudi, memiliki etika, dan tangguh secara mental.
