Malang – Ibarat perpustakaan kehidupan bawah air, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) terus memperkokoh fondasi riset biodiversitas perairan melalui Depositorium Ichthyologicum Brawijaya (DIB). Kehadiran fasilitas tersebut menjadi jawaban atas tantangan besar dalam mengenali keragaman spesies ikan yang sangat melimpah di Indonesia.
Pengembangan DIB dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Dewa Gede Raka Wiadnya, M.Sc. melalui sistem kurasi dan penyimpanan spesimen berbasis teknologi. Pusat koleksi tersebut dirancang sebagai rujukan identifikasi spesies ikan di Indonesia dengan memadukan empat pendekatan ilmiah, yakni morfologi eksternal, osteo-staining, analisis otolith atau tulang telinga ikan, serta DNA barcoding. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan ketepatan identifikasi spesies di tengah tingginya keanekaragaman hayati perairan nasional.
“Ikan adalah kelompok vertebrata dengan jumlah spesies terbesar di dunia, sementara Indonesia menjadi salah satu negara dengan kekayaan spesies ikan tertinggi. Karena itu, proses identifikasi membutuhkan metode yang kuat dan saling melengkapi,” ujar Prof. Dewa Gede.
Menurutnya, kekeliruan dalam mengidentifikasi spesies masih kerap ditemukan dalam berbagai penelitian maupun kegiatan eksplorasi sumber daya perikanan. Karena itu, keberadaan deposit spesimen yang terdokumentasi secara baik menjadi bagian penting dalam mendukung proses verifikasi dan perbandingan antarspesies.
“Deposit spesimen morfologi, osteo-staining, otolith, dan DNA yang dapat diakses secara terbuka akan membantu proses validasi spesies serta menjadi referensi bagi penelitian berikutnya,” jelasnya.
Melalui platform digital yang dikembangkan, DIB menyediakan data lengkap setiap spesimen beserta kode aksesi khusus yang dapat ditelusuri oleh para peneliti. Hingga saat ini, ratusan koleksi spesimen morfologi telah dimasukkan ke dalam basis data ikan dunia. Selain itu, ratusan sekuens DNA juga telah tercatat di GenBank sebagai bagian dari penguatan dokumentasi biodiversitas perairan Indonesia di tingkat internasional.
Keberadaan DIB tidak hanya mendukung kegiatan akademik, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam upaya pelestarian sumber daya laut. Pengembangan pusat dokumentasi tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 14 yang menitikberatkan pada konservasi dan pengelolaan ekosistem laut berbasis ilmu pengetahuan.

Di sisi lain, FPIK UB juga mengarahkan DIB menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Saat ini, konsep mini museum spesimen ikan tengah disiapkan agar dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa, pelajar, peneliti, hingga masyarakat umum. Program tersebut mendukung SDGs poin 4 mengenai pendidikan berkualitas melalui pemanfaatan koleksi ilmiah sebagai sumber pembelajaran.
“Saya menyatakan bahwa empat teknologi sebagai penciri spesies untuk mendapatkan kepastian adalah morfologi eksternal, osteo-staining, bentuk tulang telinga, dan konfirmasi melalui DNA barcode,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kombinasi berbagai teknologi tersebut akan menghasilkan identifikasi spesies yang lebih akurat sekaligus memperkuat basis data biodiversitas Indonesia di panggung global.
Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berfokus pada bidang perikanan dan kelautan, FPIK UB terus mendorong kolaborasi riset dan inovasi berbasis sumber daya laut. Kehadiran Depositorium Ichthyologicum Brawijaya diharapkan mampu menjadi salah satu pusat referensi biodiversitas ikan Indonesia serta memperluas jejaring penelitian nasional maupun internasional. Upaya tersebut juga sejalan dengan SDGs poin 17 yang menekankan pentingnya kemitraan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Pada akhirnya, penguatan DIB menjadi langkah strategis dalam memperkaya dokumentasi biodiversitas perairan Indonesia sekaligus mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
