Mojokerto – Di tengah semarak seni tradisional dan semangat kebersamaan, Pemerintah Kabupaten Mojokerto bersama warga Desa Talunbrak menggelar tasyakuran dan sedekah bumi atas selesainya pembangunan Jembatan Talunbrak, Rabu (5/11/2025) malam. Kehadiran Bupati Mojokerto Muhammad Albarra dalam acara ini menegaskan komitmen pemerintah daerah membangun hingga ke wilayah paling terpencil.
Jembatan Talunbrak yang membentang 60 meter dengan lebar 6 meter ini dibangun menggunakan dana hibah rehabilitasi konstruksi dari BNPB senilai Rp 13,5 miliar lebih. Infrastruktur ini kini menjadi jalur vital bagi 94 kepala keluarga di Dusun Talunbrak, yang sebelumnya kerap terdampak banjir akibat struktur jembatan lama yang tidak ideal.
“Kami turut berbahagia karena Jembatan Talunbrak kini sudah selesai dan dapat digunakan. Ini bukti nyata bahwa Pemkab Mojokerto hadir untuk seluruh masyarakat, bahkan di ujung utara wilayah seperti Talunbrak,” ujar Bupati Albarra dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa desain jembatan kini lebih baik karena tanpa penyangga bawah, sehingga aliran air lebih lancar dan tidak menyebabkan luapan banjir seperti sebelumnya. Menurutnya, jembatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah banjir, tetapi juga memperpendek jarak tempuh menuju pusat kabupaten.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati yang akrab disapa Gus Bupati itu juga mengajak masyarakat menjaga fasilitas publik ini agar tetap awet dan bernilai estetika. “Kalau bisa, jembatan ini diberi lampu agar menjadi ikon Desa Talunbrak,” ucapnya.
Selain itu, Bupati Albarra menggarisbawahi bahwa pembangunan infrastruktur di desa terus berjalan melalui program Bantuan Keuangan (BK) Desa. Untuk tahun ini, 93 desa telah menerima BK Desa dengan total anggaran sekitar Rp 70 miliar, dan anggaran induk mendorong total menjadi Rp 113 miliar untuk hampir 200 desa di Kabupaten Mojokerto.
Kepala Desa Talunbrak, Anton Suprapto, turut mengekspresikan rasa syukur dan bahagianya. Ia menyebut pembangunan jembatan ini sebagai perjuangan panjang sejak 2019 yang akhirnya tuntas di masa kepemimpinannya yang ketiga.
“Ini pekerjaan besar yang sudah kami mulai sejak 2019 melalui program Inovasi Desa. Alhamdulillah, jembatan ini kini berdiri kokoh. Semoga ke depan desa kita makin berkembang,” ungkap Anton.
Ia berharap keberadaan jembatan dapat membuka peluang baru bagi desa, termasuk pengembangan sport center, rest area, hingga alun-alun yang bisa meningkatkan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
Rangkaian tasyakuran juga diisi dengan doa bersama serta pementasan seni ludruk Budhi Wijaya, yang menjadi hiburan khas warga sekaligus simbol pelestarian budaya lokal.
Acara malam itu menjadi wujud nyata dari kolaborasi erat antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus perayaan atas kemajuan pembangunan yang diharapkan membawa manfaat berkelanjutan bagi warga Desa Talunbrak dan sekitarnya.
