Mojokerto – Peringatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi momentum refleksi yang sarat makna bagi kader dan pengurus organisasi. Di tengah semangat perayaan bertema “Khidmat HMI untuk Indonesia”, HMI Cabang Mojokerto justru mengangkat kegelisahan sosial yang dinilai semakin mengkhawatirkan, yakni maraknya pembukaan outlet minuman beralkohol di wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto yang dinilai meresahkan masyarakat.
Bagi Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Mojokerto, Dies Natalis bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Momentum ini dimaknai sebagai ruang evaluasi dan penguatan komitmen pengabdian kepada umat dan bangsa. Sikap kritis terhadap kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat luas dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab moral HMI dalam menjaga nilai sosial, keadilan, dan kemaslahatan bersama.
HMI Cabang Mojokerto menilai menjamurnya outlet minuman beralkohol telah memicu kekhawatiran serius, khususnya di kalangan orang tua. Kemudahan akses terhadap minuman beralkohol dikhawatirkan membuka peluang bagi anak-anak dan remaja untuk terpapar sejak dini. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketertiban lingkungan, meningkatkan risiko kenakalan remaja, serta mendorong degradasi moral generasi muda di Mojokerto.
Ketua Umum HMI Cabang Mojokerto Ambang Muchammad Irawanmenegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari sudut pandang ekonomi dan peningkatan investasi daerah. Menurutnya, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memastikan setiap kebijakan yang diambil mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.
“Dalam semangat Dies Natalis HMI dan tema Khidmat HMI untuk Indonesia, kami menegaskan bahwa keberpihakan kepada masyarakat dan perlindungan generasi muda adalah bagian dari pengabdian HMI kepada bangsa. Pemerintah daerah harus memikirkan lebih dari sekadar pemasukan, tetapi juga keselamatan moral dan sosial masyarakat,” tegasnya dalam pernyataan sikap.
Lebih lanjut, HMI Cabang Mojokerto mempertanyakan transparansi dan dasar kajian yang digunakan pemerintah daerah dalam menerbitkan izin operasional outlet minuman beralkohol. Lemahnya pengawasan dinilai berpotensi membuka ruang bagi peredaran minuman beralkohol kepada anak di bawah umur, yang mencerminkan belum optimalnya fungsi perlindungan negara terhadap warganya.
Isu ini dinilai semakin krusial karena kebijakan tersebut muncul menjelang bulan suci Ramadan. Menurut HMI Cabang Mojokerto, pemerintah daerah seharusnya mampu menciptakan suasana yang aman, tertib, dan religius, sejalan dengan nilai-nilai kesakralan Ramadan serta kearifan lokal masyarakat Mojokerto yang menjunjung tinggi norma sosial dan keagamaan.
“Kami tidak anti investasi, namun investasi harus beretika, berkeadilan, dan selaras dengan nilai sosial serta budaya masyarakat. Jika kebijakan ini terus dibiarkan tanpa evaluasi, maka HMI Cabang Mojokerto akan berdiri bersama masyarakat sebagai bagian dari khidmat HMI untuk Indonesia,” lanjut Ketua Umum HMI Cabang Mojokerto.
Sebagai penutup, dalam semangat Dies Natalis HMI, HMI Cabang Mojokerto mendesak Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Mojokerto untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perizinan outlet minuman beralkohol. Selain itu, mereka meminta pengawasan diperketat serta kebijakan publik diarahkan pada perlindungan generasi muda dan ketenteraman masyarakat. Sikap tersebut ditegaskan sebagai wujud nyata khidmat HMI dalam menjaga masa depan bangsa dari ancaman degradasi moral dan sosial.
