Pagi-pagi buta, saat sebagian besar warga Kota Barat masih terlelap di bawah derasnya hujan, Ahmad Setiawan sudah bersiap di pos kontrol Polder Kajana. Usianya 42 tahun, tubuhnya kurus berbalut jas hujan, namun matanya siaga penuh, menatap layar sensor tinggi muka air (TMA) dan panel pompa seolah membaca masa depan.
Pukul 02.30 dini hari menjadi awal dari rutinitas yang sunyi, namun penuh risiko. Di sinilah pertempuran sunyi melawan banjir dimulai, saat sebagian besar kota masih tidur.
Kerja Sunyi di Balik Derasnya Hujan
Pada puncak musim hujan di bulan November, sistem polder menjadi garda depan pengaman kawasan padat penduduk di wilayah layanan Polder Kajana. Dengan peralatan kunci seperti sensor TMA, pompa air otomatis, dan pintu klep pengatur aliran, Ahmad bekerja menjaga aliran tetap lancar dan genangan tidak menguasai jalan.
“Saya sudah terbiasa melihat langit gelap dan hujan deras datang tanpa pemberitahuan,” katanya sambil mengamati grafik naik turun air di layar. Ia mencatat setiap lonjakan, mengecek generator cadangan, dan kadang harus turun langsung ke lapangan saat alarm berbunyi.
“Kadang jam tiga pagi saya lari ke saluran utama sebelum warga sempat bangun,” ujarnya sambil tersenyum getir.
Dalam rentang pukul 02.30 hingga 08.00, Ahmad menjalani serangkaian tugas tetap: mengecek log curah hujan, mengaktifkan pompa bila perlu, memantau arus balik dari sungai, hingga berkoordinasi dengan mitra dari BPBD, Dinas PU, hingga RT setempat.
Saat TMA naik cepat, keputusan krusial harus diambil dalam hitungan menit, membuka atau menutup pintu air bisa menentukan nasib ratusan rumah di hilir. Tak jarang, Ahmad menginstruksikan pemasangan sandbag tambahan di titik rawan, bahkan menyiapkan evakuasi dini ke lantai dua rumah warga.
Bagaimana Sistem Polder Menyelamatkan Kota
Sistem polder sendiri bekerja dengan menyerap air hujan dari permukiman melalui saluran drainase yang mengarah ke kolam retensi (retarding basin).
Dari situ, air dipompa keluar ke sungai utama melalui pintu air atau outfall. Di sinilah keunikan polder, berbeda dari sistem drainase biasa, air tak bisa mengalir sendiri karena perbedaan elevasi, sehingga pompa dan pintu air harus bekerja secara aktif, terutama saat debit air tinggi dan sungai sedang pasang.
Ahmad paham betul risiko ketika sistem ini terganggu. Ia masih ingat betul banjir parah pada tahun 2017, saat pompa utama sempat rusak dan air menggenangi rumah hingga setinggi dada. “Saat banjir besar itu, saya melihat rumah-rumah tergenang sampai lantai dua.
Itu menjadi pelajaran besar,” kenangnya. Sejak saat itu, prosedur diperbaiki: saluran dibersihkan rutin, pompa diuji mingguan, dan simulasi banjir dilakukan bersama warga. Kini, komunitas RT sudah memiliki grup pantau banjir dan tahu format pelaporan genangan dengan titik koordinat yang akurat.
Kesigapan warga sangat menentukan. Berikut ini panduan sederhana untuk warga sekitar polder:
-
Bersihkan saluran depan rumah dari sampah dan lumpur.
-
Ketahui lokasi pompa dan pintu air terdekat.
-
Siapkan sandbag di garasi atau titik rawan air masuk.
-
Pastikan instalasi listrik rumah aman dari air.
-
Ketahui jalur evakuasi dan titik kumpul di lingkungan.
-
Simpan nomor kontak darurat: 112 dan kanal aduan BPBD setempat.
-
Ikut grup pantau banjir RT untuk berbagi update dan foto lokasi.
-
Tandai koordinat rumah (GPS) untuk pelaporan ke petugas.
-
Latih keluarga dalam simulasi evakuasi ringan.
-
Pindahkan barang penting dan kendaraan ke lokasi lebih tinggi saat hujan deras.
Tanda Bahaya dan Cara Melapor
Warga juga harus peka terhadap tiga tanda bahaya utama:
-
Bunyi alarm di pos pintu air.
-
Kenaikan TMA > 25 cm dalam 30 menit.
-
Adanya arus balik dari sungai ke kanal (backflow).
Saat salah satu tanda muncul, segera kirim laporan ke grup RT atau BPBD dengan format:
“Genangan RT05, koordinat S6.845 E107.64, ketinggian ~15 cm, aliran perlahan.”
Penjaga Pintu Air, Penjaga Harapan Kota
“Kadang lelah, tapi kalau air bisa saya kendalikan dan warga tetap tenang, saya merasa bangga,” ujar Ahmad saat mentari mulai muncul dari balik langit mendung. Satu shift berakhir, namun tugas melawan banjir tak pernah benar-benar selesai. Selalu ada hujan berikutnya, dan Ahmad siap menyambutnya.
Dengan teknologi, kesiapsiagaan komunitas, dan kerja keras petugas seperti Ahmad, sistem polder menjadi tembok pertahanan yang tak terlihat namun sangat vital. Kini, saat musim hujan datang, bukan hanya petugas yang harus waspada, tapi seluruh warga juga harus jadi bagian dari sistem mitigasi banjir ini.
