Jember – Trofi bergilir kembali pulang ke Jember. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember kembali menyandang gelar juara umum lomba logistik dan peralatan BPBD tingkat Jawa Timur pada 2026. Prestasi untuk kedua kalinya secara berturut-turut itu menjadi pelecut bagi jajaran BPBD untuk semakin memperkuat kesiapsiagaan menghadapi beragam ancaman bencana di wilayah Jember.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo menjelaskan, keberhasilan tersebut diraih setelah timnya mencatat hasil terbaik dalam sejumlah kategori perlombaan. Predikat juara umum 2026 sekaligus mempertahankan pencapaian serupa yang telah diperoleh pada 2025. Menurutnya, kompetisi bukan semata ajang mengejar penghargaan, melainkan sarana mengukur kesiapan personel, pengelolaan logistik, serta kemampuan operasional ketika menghadapi situasi darurat.
“Alhamdulillah kami mendapatkan predikat sebagai juara umum dan berhak membawa pulang trofi bergilir. Tahun 2025 kami juga mendapatkan juara umum, dan tahun 2026 ini kembali mendapatkan juara umum,” ujar Edy, Kamis (13/8/2026).
Dalam perlombaan tersebut, BPBD Jember berhasil meraih juara pertama kategori manajemen pergudangan. Selain itu, tim juga menempati posisi kedua dalam lomba marathon residence serta peringkat keempat pada kategori push dal off. Capaian itu dinilai menjadi gambaran kemampuan personel dalam mengelola berbagai unsur pendukung penanggulangan bencana.
Edy menekankan bahwa keberhasilan di arena perlombaan harus berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, terutama pada saat terjadi kondisi darurat yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.
“Semangatnya bukan hanya menjadi yang terbaik dalam lomba, tetapi juga terbaik dalam pelayanan. Ini menjadi motivasi agar kami semakin semangat dan tangguh dalam melaksanakan antisipasi maupun penanganan bencana,” katanya.
Prestasi tersebut juga membuka peluang bagi BPBD Jember mendapatkan tambahan sarana pendukung berupa mobil MCU dan mobil dapur. Pada 2025, gelar juara umum yang diraih sebelumnya telah menghasilkan bantuan satu unit mobil truk. Penambahan armada dinilai penting karena mobilitas menjadi salah satu kebutuhan utama dalam distribusi bantuan maupun penanganan korban di lokasi bencana.
Menurut Edy, keberhasilan BPBD Jember tidak terlepas dari kontribusi relawan dan berbagai pihak yang selama ini aktif mendukung kegiatan penanggulangan bencana. Kolaborasi tersebut mencakup relawan yang tergabung langsung dengan BPBD maupun kelompok masyarakat di luar kelembagaan pemerintah.
“Semua berkat dukungan para relawan. Kami bisa seperti ini karena relawan, baik yang tergabung langsung di BPBD maupun relawan di luar sana. Termasuk rekan-rekan jurnalis yang selama ini membantu memberikan pemberitaan positif terkait kebencanaan,” tuturnya.
Di tengah prestasi tersebut, BPBD Jember masih menghadapi persoalan kekeringan di sejumlah wilayah. Hingga Rabu (12/8/2026), tujuh kecamatan dilaporkan terdampak kekeringan. Enam kecamatan di antaranya telah menjalani asesmen dan memperoleh bantuan distribusi air bersih.
Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, menjadi salah satu wilayah yang lebih awal mendapat penanganan. Kekeringan di kawasan tersebut berlangsung sejak 2 Juli 2026. BPBD Jember telah mengirimkan air bersih menggunakan truk tangki sebanyak 20 kali, dengan kapasitas 5.000 liter dalam setiap pengiriman.
Distribusi air juga dilakukan ke Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat, serta Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Di Mulyorejo yang berada di kawasan dataran tinggi, sedikitnya sekitar 75 kepala keluarga terdampak kekurangan air bersih.
“Di Mulyorejo kami melakukan pengiriman air setiap dua hari sekali. Kemudian di Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, baru sekali kami kirim dan selanjutnya akan dikirim setiap tiga hari sekali,” jelas Edy.
BPBD juga menyalurkan bantuan ke Desa Panduman yang dihuni sekitar 102 kepala keluarga terdampak serta Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, dengan sekitar 50 kepala keluarga membutuhkan pasokan air. Laporan kekeringan terbaru juga diterima dari Desa Kaliwining dan langsung ditindaklanjuti Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD melalui asesmen lapangan.
“Hasil asesmen di lapangan menunjukkan sumur-sumur warga debit airnya sudah kecil, kemudian airnya agak bau dan warnanya kuning,” ungkapnya.
Mulai Kamis (13/8/2026), BPBD mengirim dua tandon air ke wilayah tersebut. Distribusi direncanakan berlangsung setiap dua hari sekali dengan volume sekitar 2.400 liter untuk membantu memenuhi kebutuhan sekitar 50 kepala keluarga.
Menghadapi kemungkinan meningkatnya kebutuhan saat puncak kemarau, sejumlah sumber air dengan debit dan kualitas yang masih memadai telah dipetakan. Titik tersebut antara lain berada di Garahan, Gantangan, JSG, Ibnu Katsir, SMK Balung, serta sumber air milik PDAM.
Penanganan kekeringan juga dibagi bersama sejumlah pemangku kepentingan agar distribusi lebih cepat. PMI, PDAM, dan BPBD memiliki wilayah pelayanan masing-masing dengan memanfaatkan anggaran dari setiap lembaga.
“Kami membuat grup tersendiri. Misalnya PMI menangani distribusi air di Pakusari dan Jelbuk, PDAM menangani Bangsalsari, sedangkan BPBD di Silo. Ini menggunakan anggaran masing-masing,” katanya.
Edy meminta masyarakat menggunakan air secara hemat selama musim kemarau. Pasokan air bersih diharapkan terlebih dahulu diprioritaskan untuk konsumsi dan memasak sebelum digunakan bagi kebutuhan lain.
“Kita harus bijak karena tidak tahu sampai kapan kondisi ini berlangsung,” imbaunya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jember juga berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur apabila kebutuhan air bersih terus meningkat dan kapasitas penanganan di tingkat kabupaten mulai terbatas.
Beban penanggulangan bencana di Jember sendiri terbilang tinggi. Sepanjang Januari hingga Selasa (30/6/2026), tercatat 345 kejadian bencana. Sebanyak 274 kasus merupakan bencana alam, termasuk banjir, tanah longsor, hujan dengan intensitas tinggi, angin yang mengakibatkan pohon tumbang, hingga rumah roboh. Kekeringan tercatat sebanyak 16 kejadian, sedangkan 71 kejadian lainnya masuk kategori bencana nonalam seperti kecelakaan laut, kecelakaan sungai, dan kebakaran rumah.
Untuk memperkuat mitigasi jangka panjang, BPBD Jember tengah mempersiapkan pengaktifan kembali Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) untuk periode 2026–2030. Masa kepengurusan sebelumnya telah berakhir pada Desember 2025, sementara draf pengaktifan forum baru telah disiapkan sesuai arahan Bupati Jember Muhammad Fawait.
“Anggota FPRB kurang lebih 55 orang. Tugasnya lebih banyak membantu pemerintah daerah memitigasi potensi-potensi bencana yang ada di Kabupaten Jember sehingga dapat meminimalisasi risiko terjadinya bencana,” papar Edy.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah, relawan, masyarakat, serta berbagai unsur lainnya melalui FPRB akan membantu memperkuat pencegahan dan mitigasi bencana di Kabupaten Jember.
“BNPB mengarahkan setiap daerah untuk mengoptimalkan peran FPRB. Dengan semakin banyak pihak yang terlibat, kita bisa mencari solusi paling efektif untuk kepentingan masyarakat dan mengurangi risiko bencana,” pungkasnya.
Prestasi juara umum dua tahun berturut-turut pada akhirnya menjadi modal sekaligus tanggung jawab bagi BPBD Jember. Di tengah ancaman kekeringan dan ratusan kejadian bencana yang telah tercatat sepanjang 2026, penguatan personel, sarana, kolaborasi, serta mitigasi menjadi kunci agar pelayanan kebencanaan kepada masyarakat semakin tangguh dan cepat.
