Kampung di tepi Mahakam seperti Kampung Melayu, Kampung Bugis, dan Samarinda Seberang bukan sekadar nama. Ia adalah jejak peradaban dan pertemuan budaya. Di sanalah, gelombang migrasi orang-orang Melayu dan Bugis membawa serta satu hal yang mengakar kuat hingga kini: Islam.
Jika pengislaman Kutai Kartanegara di abad ke-17 menjadi tonggak awal, maka migrasi Melayu dan Bugis menjadi fase penguatan. Mereka datang bukan sebagai penjajah, tapi sebagai perantau, pedagang, dan guru agama. Keberadaan mereka memperkaya corak Islam di Kutai, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Mahakam.
Gelombang Melayu bermula dari keguncangan politik dan ekonomi di Selat Malaka. Runtuhnya Malaka menyebabkan para pedagang Muslim menyebar ke berbagai penjuru, termasuk Kalimantan Timur. Kutai menjadi tempat persinggahan ideal karena sudah mengenal Islam dan memiliki potensi ekonomi.
Mereka menetap di tepi sungai dan mendirikan “kampung Melayu”. Surau dibangun, anak-anak diajari Al-Qur’an, dan adat Melayu yang sarat nuansa Islam mulai tumbuh di Mahakam. Islam pun tampil lebih kuat dalam bentuk budaya: tulisan Jawi, pakaian adat, hingga tradisi keagamaan.
Di sisi lain, arus Bugis datang dari laut selatan dan tenggara. Mereka pelaut ulung, membawa Islam yang sudah lama hidup di kerajaan Sulawesi. Para perantau Bugis mendirikan kampung, pelabuhan kecil, dan masjid. Mereka bukan hanya berdagang, tapi juga mengajar, menikah, dan membentuk komunitas Muslim yang mapan.
“Mereka bukan menaklukkan, tapi menyatu. Islam hadir sebagai bagian dari hidup, bukan tekanan dari luar,” ungkap Samsir dalam Jurnal Ri’ayah (2018).
Tiga jalur utama memperkuat pengaruh mereka:
- Niaga – Pedagang Muslim menunjukkan etika bisnis Islami: jujur, amanah, tidak menipu.
- Nikah – Perkawinan campuran menggabungkan adat dan menurunkan generasi Muslim berbudaya.
- Ulama – Perantau yang jadi guru agama, mengajar di langgar dan mendidik santri lokal.
Lewat cara ini, Islam di Kutai tidak hanya tinggal di istana, tapi masuk ke rumah, dapur, pasar, dan ladang masyarakat.
Kini, warisan itu masih terasa. Bahasa, pakaian adat, kuliner, hingga upacara keagamaan di Kutai adalah hasil dari pertemuan harmonis Kutai, Melayu, dan Bugis. Mereka membuktikan bahwa dakwah tak selalu butuh mimbar besar. Cukup bekal iman, niat merantau, dan semangat menyatu.
