Panggung pertemuan sosial ini hadir di Mojokerto era kolonial. Meski dikenal sebagai kota kecil, Mojokerto menjadi miniatur kehidupan multikultural Hindia Belanda: tempat pribumi, Tionghoa, dan Eropa hidup berdampingan dalam batasan sosial yang ketat namun saling berinteraksi dalam keseharian.
Kota ini terbagi dalam zona sosial khas masa kolonial: kampung pribumi, kawasan Pecinan, dan wijk Eropa. Masing-masing memiliki ciri khas: rumah kayu dan gang sempit di kampung pribumi; rumah toko, kelenteng, dan aktivitas perdagangan di Pecinan; serta rumah bergaya Indis lengkap dengan taman dan pagar tinggi di kawasan Eropa.
Struktur ini mencerminkan sistem kolonial yang hierarkis. Akses terhadap pendidikan, fasilitas kesehatan, dan layanan publik sangat tergantung dari ras dan kelas sosial. Namun, semua kelompok tetap saling terhubung lewat ekonomi dan kegiatan sehari-hari.
“Pasar menjadi titik temu lintas kelas dan etnis, tempat barang dan informasi bertukar cepat,”
terang sejarawan lokal dalam diskusi sejarah kota-kota kolonial Jawa Timur.
Industri gula dan jaringan dagang menjadi tulang punggung ekonomi Mojokerto saat itu. Orang Tionghoa banyak bergerak sebagai pedagang dan perantara, sementara warga pribumi menjadi buruh dan petani penghasil komoditas. Peran kereta api dan jalan raya ke Surabaya membuat aktivitas niaga makin hidup.
Jejak kehidupan sosial juga terlihat dalam lembaga keagamaan dan pendidikan:
- Sekolah rakyat untuk pribumi, sekolah Tionghoa, dan sekolah Belanda untuk anak-anak Eropa.
- Masjid dan langgar di kampung Muslim.
- Kelenteng sebagai pusat spiritual Tionghoa.
- Gereja untuk komunitas Eropa dan pribumi Kristen.
Meskipun kolonialisme menciptakan sekat, ada ruang untuk kerja sama: dalam perdagangan, pendidikan, bahkan gerakan sosial menjelang kemerdekaan. Kota ini bukan hanya lokasi diskriminasi, tapi juga tempat negosiasi identitas dan solidaritas yang berkembang diam-diam.
Sampai kini, sisa-sisa kehidupan multikultural itu masih bisa dikenali di Mojokerto: bangunan tua, pola permukiman, serta ingatan masyarakat. Kampung tua, bekas Pecinan, dan rumah kolonial menjadi bukti bahwa kota ini pernah menjadi titik temu dunia yang berbeda.
Mojokerto mengajarkan kita bahwa kehidupan sosial masa lalu, sekompleks apa pun, membentuk identitas hari ini. Ia bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang hidup yang dibangun dari dialog, perbedaan, dan pertemuan.
