Bontang – Membangun prestasi olahraga tidak bisa dilakukan secara instan. Layaknya menanam pohon yang memerlukan akar kuat sebelum tumbuh tinggi, pembinaan atlet futsal putri di Kota Bontang kini diarahkan melalui sistem regenerasi yang berjenjang agar mampu menjaga daya saing tim dalam jangka panjang.
Ketua Komisi C DPRD Kota Bontang, Alfin Rausan Fikry, menyampaikan bahwa pembinaan futsal putri akan dipusatkan pada atlet yang berada di tingkat sekolah menengah atas (SMA). Kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah strategis karena pemain pada jenjang tersebut dinilai telah memiliki kematangan fisik, pengalaman bertanding, serta kesiapan mental yang lebih baik untuk menghadapi kompetisi.
“Kalau untuk futsal putri di Porprov tidak ada batasan usia. Berbeda halnya dengan futsal putra yang ada batasan usianya,” ujar Alfin, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, ketentuan dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) memberikan keleluasaan bagi daerah untuk menentukan komposisi pemain futsal putri. Berbeda dengan kategori putra yang menerapkan batasan usia, sektor putri tidak memiliki aturan tersebut sehingga setiap daerah dapat memilih atlet terbaik sesuai kebutuhan tim dan strategi yang diterapkan.
Meski memiliki fleksibilitas dalam pemilihan pemain, Alfin menilai pembinaan tetap perlu diarahkan kepada atlet yang berada di tingkat SMA. Kelompok usia tersebut dianggap telah memasuki fase perkembangan yang lebih matang sehingga memiliki peluang lebih besar untuk tampil konsisten saat mengikuti kompetisi tingkat provinsi maupun kejuaraan lainnya.
“Standar yang kita targetkan paling tidak di tingkat SMA untuk futsal putri, karena sudah terbilang matang,” katanya.
Walaupun demikian, perhatian terhadap pembinaan atlet usia muda tidak lantas dikesampingkan. Alfin menegaskan bahwa pemain dari jenjang sekolah menengah pertama (SMP) tetap menjadi bagian penting dalam sistem pembinaan. Sejumlah atlet muda bahkan telah menunjukkan kemampuan yang dinilai layak untuk dipersiapkan sebagai tulang punggung tim Bontang pada masa mendatang.
“Bahkan kita melihat dari jenjang SMP juga ada yang memiliki potensi untuk Bontang. Ada juga pemain yang masih SMP tetapi kita ikutkan di ajang Porprov, karena dinilai memiliki kemampuan yang baik,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan atlet SMP dalam kompetisi yang lebih tinggi bukan semata untuk mengejar hasil pertandingan, melainkan juga menjadi sarana menambah pengalaman bertanding sejak dini. Dengan jam terbang yang lebih banyak, para pemain muda diharapkan mampu berkembang lebih cepat dan siap mengambil peran ketika memasuki usia yang lebih matang.
Pola pembinaan berjenjang dari SMP hingga SMA juga diyakini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan prestasi futsal putri Kota Bontang. Regenerasi yang berjalan secara konsisten akan memastikan ketersediaan pemain berkualitas setiap kali menghadapi agenda kompetisi, baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Melalui sistem tersebut, Bontang diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan daya saing pada ajang Porprov, tetapi juga melahirkan atlet-atlet futsal putri yang dapat mengharumkan nama daerah di berbagai kejuaraan. Kombinasi pembinaan atlet senior dan pengembangan talenta muda dinilai menjadi kunci untuk menjaga prestasi futsal putri tetap berkesinambungan pada masa mendatang. (ADV).
