Sangatta – Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit yang luas di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Ada satu hal yang menjadi keluhan utama para petani yaakni kebutuhan akan bibit sawit berkualitas. Aidil Fitri, Anggota DPRD Kutai Timur menyampaikan pentingnya penyediaan bibit unggul bagi petani untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.
“Mereka ini membutuhkan bibit sawit yang berkualitas,” ungkap Aidil Fitri, politisi PKS ini dalam wawancara di ruang kerjanya, Kamis (22/8/2024).
Pria kelahiran Marah Haloq, 11 Oktober 1977, ini menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan bibit yang sesuai dengan standar kualitas. “Jika bibit berkualitas ini tersedia. Maka potensi lahan yang luas di Kutai Timur dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani,” tambah suami Yuyun ini.
Menurut Aidil, perbandingan antara petani dan perusahaan besar dalam hal kualitas dan kuantitas bibit yang ditanam sangatlah mencolok. Perusahaan besar dapat menanam hingga 5.000 bibit dalam satu kali tanam dengan hasil yang lebih terjamin. Sementara petani kecil sering kali harus berhadapan dengan risiko membeli bibit yang tidak jelas asal-usul dan kualitasnya. “Petani kita tidak bisa bersaing jika bibit yang mereka gunakan kualitasnya rendah,” ujarnya dengan nada prihatin.
Potensi dan Tantangan Kelapa Sawit di Kutai Timur
Kutai Timur adalah salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di Kalimantan Timur, dengan produksi mencapai sekitar 7.942.051 ton per tahun dari lahan seluas 459.543 hektar. Dengan rata-rata produksi sebesar 23,102 ton per hektar, daerah ini memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Namun, potensi besar ini belum dimanfaatkan secara maksimal, terutama karena kurangnya akses petani kecil terhadap bibit sawit yang unggul.
Aidil Fitri menegaskan pemerintah serius ingin meningkatkan kesejahteraan petani dan memaksimalkan potensi kelapa sawit di Kutim. Langkah pertama yang harus diambil adalah memastikan ketersediaan bibit sawit yang berkualitas tinggi. “Bibit berkualitas akan meningkatkan produktivitas lahan dan memberikan hasil yang lebih baik bagi petani. Pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan mereka,” tambahnya.
Kepala Dinas Perkebunan Kutai Timur Peringatkan Petani
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kutai Timur, Sumarjana, juga pernah mengingatkan para petani untuk berhati-hati saat membeli bibit sawit. Menurutnya, ada banyak bibit palsu yang beredar di pasaran. Bibit ini tidak hanya menipu petani tetapi juga berisiko merugikan mereka secara finansial.
“Salah satu ciri bibit sawit unggul adalah anak daunnya yang melebar, tidak kusut, dan tidak menggulung. Jika anak daunnya kusut, menggulung, dan sempit, maka bibit tersebut bisa jadi tidak sempurna,” jelas Sumarjana.
Benih kelapa sawit yang unggul biasanya siap untuk ditanam pada usia 9–18 bulan. Bibit dan akan mulai menghasilkan buah yang bisa dipanen setelah empat tahun. Pohon kelapa sawit yang sehat dapat terus berbuah hingga 30 tahun, memberikan sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi petani. Oleh karena itu, pemilihan bibit yang tepat adalah investasi jangka panjang yang sangat penting bagi petani sawit di Kutim.
Harapan dan Langkah ke Depan
Aidil Fitri berharap bahwa pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk membantu petani mendapatkan bibit sawit berkualitas. Penyediaan bibit unggul bukan hanya akan meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Tetapi juga akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal secara keseluruhan.
“Kami berharap ada tindakan nyata dari pemerintah untuk menyediakan bibit sawit berkualitas bagi petani. Ini bukan hanya soal produktivitas. Tetapi juga soal masa depan pertanian sawit di Kutai Timur,” tutup Aidil Fitri dengan penuh harap.
