Malang – Pengembangan industri udang membutuhkan dukungan riset dan inovasi yang mampu menjawab tantangan budidaya sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menyelenggarakan The 2nd International Conference on Shrimp (BICoS) 2026 pada 17 Oktober 2026. Konferensi ini diikuti oleh 42 presenter dari kalangan peneliti, praktisi, dan mahasiswa.
BICoS 2026 menjadi ruang ilmiah bagi para peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian, berbagi pengalaman, serta bertukar gagasan mengenai perkembangan dan tantangan sektor perudangan. Kehadiran peserta dari beragam latar belakang membuka kesempatan bagi dunia akademik dan praktisi untuk saling melengkapi perspektif dalam mendorong pengembangan sektor perikanan, khususnya komoditas udang.
Bagi peneliti, forum ini menjadi kesempatan untuk memperluas diseminasi hasil riset dan membangun jejaring akademik. Sementara itu, keterlibatan praktisi menghadirkan sudut pandang mengenai kebutuhan serta tantangan yang dihadapi industri. Mahasiswa juga memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik, mempresentasikan hasil penelitian, dan membangun jejaring profesional sejak dini.
Pertemuan berbagai perspektif tersebut penting karena pengembangan sektor perudangan menghadapi sejumlah isu strategis, mulai dari pengendalian penyakit, peningkatan produktivitas, pengelolaan kualitas air, efisiensi teknologi budidaya, hingga dampak lingkungan.
Berbagai persoalan tersebut membutuhkan dukungan penelitian dan inovasi yang berkelanjutan agar pengembangan industri tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga memperhatikan daya dukung lingkungan.
Membangun Ekosistem Riset dan Inovasi Perudangan
Penyelenggaraan BICoS 2026 merupakan bagian dari komitmen FPIK UB dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Konferensi ilmiah menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan sektor usaha, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas institusi dan bidang keilmuan.
Penguatan ekosistem riset di bidang perudangan juga memiliki relevansi dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Pengembangan teknologi budidaya yang lebih efektif dan bertanggung jawab dapat mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur.
Di sisi lain, perhatian terhadap pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya perairan secara berkelanjutan sejalan dengan SDG 14: Ekosistem Lautan.
Keterlibatan mahasiswa dalam forum ilmiah ini turut mencerminkan kontribusi FPIK UB terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kapasitas akademik, budaya riset, dan kesempatan pembelajaran berbasis pengalaman ilmiah.
Sementara itu, terbukanya ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi dan praktisi menjadi bagian dari semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Menatap Penyelenggaraan BICoS Berikutnya
Keberhasilan penyelenggaraan BICoS 2026 diharapkan menjadi pijakan untuk menghadirkan konferensi berikutnya dengan jangkauan partisipasi dan kualitas diskusi ilmiah yang semakin luas.
Pengembangan BICoS ke depan diharapkan dapat menarik lebih banyak peneliti, praktisi industri, mahasiswa, serta mitra dari dalam maupun luar negeri.
Lebih dari sekadar forum presentasi, BICoS diharapkan dapat menjadi awal bagi terbangunnya kolaborasi penelitian, pengembangan inovasi teknologi, publikasi ilmiah, hingga peluang penerapan hasil riset di sektor perikanan.
Dengan demikian, gagasan yang lahir dari forum akademik dapat terus dikembangkan dan memberikan kontribusi bagi kemajuan industri perudangan.
Melalui penyelenggaraan BICoS secara berkelanjutan, FPIK UB terus membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, peneliti, praktisi, dan generasi muda.
Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi FPIK UB dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi perikanan yang berdaya saing serta memperhatikan keberlanjutan sumber daya perairan.
