Kutim – Penanganan stunting ibarat merajut jaring pengaman keluarga yang membutuhkan banyak tangan agar tidak terputus di tengah jalan. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) kembali turun langsung melalui layanan jemput bola penanganan Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Kecamatan Kaliorang pada Rabu (12/8/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Kantor Camat Kaliorang itu menjadi rangkaian keenam setelah layanan serupa sebelumnya dilaksanakan di Kecamatan Sangkulirang dan Kaubun.
Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 242 kepala keluarga yang masuk kategori KRS di Kecamatan Kaliorang dan tersebar pada tujuh desa. Jumlah tersebut terdiri dari 47 KK di Desa Kaliorang, 38 KK di Bukit Makmur, 10 KK di Bukit Harapan, 27 KK di Citra Manunggal Jaya, 62 KK di Bangun Jaya, 41 KK di Bumi Sejahtera, serta 17 KK di Desa Selangkau. Melalui layanan tersebut, DPPKB Kutim berupaya memastikan setiap faktor risiko dapat ditangani secara terpadu bersama instansi terkait, pemerintah kecamatan, desa, fasilitas kesehatan hingga pemangku kepentingan lainnya.
Plh Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah T, menekankan bahwa upaya mengurangi keluarga berisiko stunting tidak dapat dibebankan kepada satu perangkat daerah saja. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak menjadi kunci karena penyebab risiko stunting berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan keluarga.
“Perlukan kolaborasi, kerjasama semua lini, baik dinas kesehatan, ketahanan pangan, perkim, termasuk yang tidak kalah pentingnya adalah kecamatan dan desa,” ujar pria kelahiran 1971 tersebut.
Kolaborasi itu, menurut Yuriansyah, diperlukan untuk menindaklanjuti sejumlah indikator yang masih ditemukan pada keluarga sasaran. Beberapa di antaranya mencakup tingkat kesejahteraan keluarga, kondisi bayi di bawah dua tahun dan balita, akses terhadap air bersih, kepemilikan jamban sehat, kondisi Rumah Layak Huni (RLH), hingga Pasangan Usia Subur (PUS) dengan kondisi 4T, yakni terlalu dekat jarak kelahiran, terlalu banyak anak, terlalu muda, serta terlalu tua. DPPKB Kutim juga terus mendorong edukasi penggunaan metode keluarga berencana modern bagi keluarga berisiko.
Yuriansyah berharap layanan jemput bola tersebut tidak berhenti sebatas pertemuan, tetapi mampu menghasilkan perubahan nyata sekaligus memperkuat kebersamaan seluruh pihak dalam menangani stunting. Ia juga mengingatkan pentingnya penyelarasan data dengan Unit Pelaksana Teknis Puskesmas sehingga kondisi keluarga sasaran dapat dipantau secara akurat dan intervensi yang diberikan lebih tepat.
Selain itu, kontribusi perusahaan dalam program penanganan stunting diharapkan dapat dilaporkan kepada pemerintah desa. Pelaporan tersebut dinilai penting agar berbagai bentuk dukungan yang telah disalurkan kepada masyarakat dapat tercatat dalam basis data penanganan stunting dan tidak terjadi tumpang tindih intervensi.
Sekretaris Camat Kaliorang, Yosep Masan Kredok, turut menegaskan bahwa persoalan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Keberhasilan program, menurutnya, sangat bergantung pada tumbuhnya kesadaran masyarakat serta adanya kesamaan tujuan antara warga, pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat.
“Stunting itu bisa dikurangi apabila ada kesamaan yang baik dan kesadaran dari setiap warga masyarakat. Semua ini sukses apabila pertama kesadaran kita dan keinginan kita semua,” tegasnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, DPPKB Kutim juga menyerahkan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bersumber dari Baznas Kutai Timur secara simbolis kepada sejumlah keluarga berisiko stunting. Penyaluran bantuan untuk periode berikutnya akan dilanjutkan melalui petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di Kecamatan Kaliorang agar dapat menjangkau keluarga sasaran secara berkesinambungan.
Layanan jemput bola juga tidak hanya berfokus pada dukungan makanan tambahan. Pejabat Fungsional Tertentu DPPKB Kutim, Agustina, menyampaikan materi mengenai layanan penanganan KRS. Sementara itu, Tenaga Ahli Tim Percepatan Penurunan Stunting (TA TPPS), Hendrik Cassanova, memaparkan perkembangan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting atau Genting sebagai salah satu upaya memperluas keterlibatan berbagai pihak dalam pencegahan stunting.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Penyuluh KB, Bhabinkamtibmas, para kepala desa serta sejumlah pejabat DPPKB Kutim. Hadir pula Kabid Penyuluhan dan Pergerakan Yunita Ronting, Kabid Ketahanan Kesejahteraan Keluarga Ani Saida, Kabid Keluarga Berencana Mustika, perwakilan Dinas Kesehatan Jemi, perwakilan Perkim, Dikepang, stakeholder serta para pejabat fungsional DPPKB Kutim.
Dengan 242 keluarga berisiko stunting yang masih tercatat di Kaliorang, penguatan kerja bersama menjadi bagian penting dalam memastikan intervensi berjalan tepat sasaran. Layanan jemput bola diharapkan mampu mempertemukan data, program dan dukungan lintas sektor sehingga kebutuhan setiap keluarga dapat ditangani secara lebih terarah dan upaya pencegahan stunting di Kutai Timur semakin efektif.
