Kutim – Tradisi adalah akar yang membuat sebuah bangsa tetap kokoh berdiri di tengah derasnya perubahan zaman. Semangat itu tergambar dalam peringatan Hari Jadi ke-XXVI Paguyuban Seni Reog Margo Kencono yang dirangkai dengan peringatan Malam 1 Suro di kawasan Margo Santoso, Sangatta Utara, Sabtu (20/6/2026). Mengusung tema “Menjaga Tradisi, Menguatkan Identitas Budaya”, kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi sekaligus pengingat pentingnya melestarikan budaya warisan leluhur.
Suasana penuh kebersamaan mewarnai kegiatan yang dihadiri berbagai komunitas seni dan budaya. Turut hadir Paguyuban Margo Singo Joyo, Singo Mudho, Singo Lawu, Pawargo, serta Singo Budoyo. Kehadiran sejumlah paguyuban tersebut memperlihatkan eratnya persaudaraan di antara para pegiat seni tradisional yang selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberagaman budaya di Kabupaten Kutai Timur.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur dari daerah pemilihan Bontang, Kutai Timur, dan Berau, Sulasih, hadir dalam peringatan tersebut. Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kalimantan Timur yang juga merupakan anggota Komisi II DPRD Kaltim itu menyampaikan ucapan selamat atas perjalanan panjang Paguyuban Seni Reog Margo Kencono yang kini telah menginjak usia ke-26 tahun.
“Saya selaku anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur mengucapkan selamat dan sukses untuk Paguyuban Reog Margo Kencono yang ke-26,” ujarnya.

Menurut Sulasih, eksistensi Margo Kencono selama lebih dari dua dekade menunjukkan bahwa seni tradisional masih mendapat tempat di hati masyarakat. Keberadaan paguyuban tersebut dinilai telah berkontribusi dalam menjaga dan merawat warisan budaya bangsa.
“Semoga menjadi pelestari budaya bangsa, menjaga warisan leluhur dan serta terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai seni dan tradisi Indonesia,” katanya.
Politisi PKB itu menegaskan bahwa budaya merupakan identitas bangsa yang harus terus dijaga bersama. Ia berharap generasi muda tidak melupakan akar budayanya di tengah perkembangan teknologi dan pengaruh budaya luar yang semakin masif.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, lalu siapa lagi. Saya berharap anak-anak muda sekarang tidak hanya mengenal budaya modern, tetapi juga mencintai kesenian tradisional yang menjadi warisan para leluhur kita,” ujar Sulasih.
Ia menilai keberadaan paguyuban seni seperti Margo Kencono memiliki peran strategis sebagai ruang pembelajaran sekaligus sarana regenerasi bagi para pelaku seni budaya. Dengan demikian, nilai-nilai tradisi dapat terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Paguyuban seperti ini jangan hanya dipandang sebagai tempat berkesenian, tetapi juga menjadi wadah memperkuat persaudaraan, menanamkan nilai gotong royong, dan menjaga keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia,” tambahnya.
Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur tersebut juga mengapresiasi konsistensi Paguyuban Seni Reog Margo Kencono dalam menjaga eksistensi seni reog selama 26 tahun terakhir. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bahwa semangat melestarikan budaya masih tumbuh di tengah masyarakat.
Peringatan Malam 1 Suro yang dirangkai dengan Hari Jadi Margo Kencono tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpaguyuban dan masyarakat. Nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang tumbuh dalam kegiatan tersebut menjadi modal penting dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Kutai Timur.
Memasuki usia ke-26 tahun, Paguyuban Seni Reog Margo Kencono diharapkan terus berkembang dan menjadi garda terdepan dalam melestarikan seni budaya Nusantara. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, semangat menjaga tradisi menjadi bukti bahwa warisan leluhur tetap hidup dan mampu menjadi sumber inspirasi bagi generasi masa depan.
