Kediri – Di tengah ramainya pertemuan para pendekar Nahdliyin di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, sebuah pesan yang sarat makna mengemuka. Layaknya pelita yang menjaga arah di tengah gelombang zaman, martabat ulama diingatkan agar tidak direduksi hanya menjadi hitungan kuota wilayah atau kepentingan geopolitik organisasi.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen atau yang akrab disapa Gus Nabil, di sela pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Musyawarah Besar (Mubes) Pagar Nusa di Ponpes Al-Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Sabtu (20/6/2026). Menurutnya, penghormatan terhadap para kiai dan ulama selama ini dibangun oleh keteladanan, kedalaman ilmu, sanad keilmuan yang terjaga, serta akhlak yang istiqamah, bukan berdasarkan asal geografis.
“Seorang kiai tidak pernah meminta dihormati karena berasal dari timur atau barat. Ia dihormati karena ilmu yang dipelajari sepanjang hayat, sanad yang dijaga dengan amanah, dan akhlak yang dirawat dengan istiqamah,” ujar Gus Nabil.
Pandangan tersebut, menurutnya, menjadi dasar lahirnya konsep Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yakni mekanisme yang dirancang untuk menjunjung tinggi keutamaan ilmu dan kebijaksanaan para ulama. Sistem tersebut dibangun agar pemilihan kepemimpinan tetap berpijak pada kapasitas keilmuan serta keteladanan, bukan semata-mata pertimbangan politik maupun keterwakilan wilayah.
Dalam kesempatan itu, Gus Nabil juga menyampaikan kritik terhadap kecenderungan yang mulai berkembang dalam dinamika organisasi. Ia menilai semangat mengakomodasi berbagai daerah tidak boleh sampai menggeser nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi fondasi tradisi pesantren.
“Maka ketika kursi mulai dibagi berdasarkan wilayah, sesungguhnya yang sedang dikurangi bukan hak suatu daerah, melainkan kemuliaan ilmu itu sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, pembagian posisi berdasarkan pertimbangan teritorial berpotensi mengaburkan prinsip meritokrasi keilmuan yang telah lama menjadi ciri khas kalangan pesantren. Padahal, para ulama selama ini dihormati karena dedikasi mereka dalam menjaga tradisi intelektual Islam dan membimbing umat dengan keteladanan.
Pesan yang disampaikan dari arena Munas dan Mubes Pagar Nusa itu sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh kader serta warga Nahdlatul Ulama untuk kembali memperkuat khittah dalam memuliakan ulama. Gus Nabil menegaskan bahwa penghormatan kepada kiai harus didasarkan pada kedalaman ilmu, sanad yang sahih, serta akhlakul karimah yang terus dijaga.
Menurutnya, menjaga marwah ulama bukan hanya soal mempertahankan tradisi, melainkan juga menjaga masa depan peradaban Islam yang moderat dan penuh kesejukan. Sebab, dari para kiai dan ulama itulah lahir nilai-nilai kebijaksanaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Di tengah dinamika organisasi dan perubahan zaman, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang ulama tidak dapat diukur dengan batas wilayah maupun angka representasi. Nilai tertinggi yang diwariskan pesantren tetap bertumpu pada ilmu, amanah, dan keteladanan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
