Malang – Di tengah meningkatnya tantangan pencemaran lingkungan, mikroorganisme justru hadir bak “pasukan tak kasat mata” yang menyimpan solusi masa depan. Gagasan itu mengemuka dalam kegiatan 3 in 1 Program: Integrated Marine Biotechnology Learning and Research Program yang digelar Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), bersama akademisi dari Malaysia, Norhayati Abdullah, Ph.D., pada 11 dan 13 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 8 FPIK UB tersebut diikuti dosen dan mahasiswa Bioteknologi Laut Program Studi Ilmu Kelautan. Program ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi akademik Universitas Brawijaya dengan menghadirkan perspektif global terkait pemanfaatan mikroorganisme dalam teknologi pengolahan limbah berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Norhayati Abdullah, Ph.D. dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) menjelaskan berbagai inovasi pengolahan limbah berbasis mikroorganisme, mulai dari teknologi microalgae biotechnology, pembentukan bioflocs, aerobic granular sludge, hingga pemanfaatan bakteri dan mikroalga sebagai agen bioremediasi limbah domestik maupun industri. Menurutnya, pengembangan teknologi biologis menjadi langkah penting untuk menghadapi persoalan pencemaran secara lebih ramah lingkungan.
“Microalgae dan bakteri tidak hanya berperan dalam proses pengolahan limbah, tetapi juga memiliki potensi menghasilkan produk bernilai tambah seperti biofuel, pupuk hayati, hingga bahan bioaktif,” ujar Norhayati dalam sesi diskusi ilmiah.

Materi yang disampaikan mendapat sambutan antusias dari mahasiswa Bioteknologi Laut. Selama sesi berlangsung, peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai mekanisme mikroorganisme dalam menyerap polutan, membentuk struktur biologis seperti bioflocs dan bacterial granules, hingga meningkatkan efisiensi sistem pengolahan limbah.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta ialah kemampuan mikroalga dalam membantu menurunkan kandungan nitrogen, fosfor, dan chemical oxygen demand (COD) melalui proses metabolisme biologis. Selain itu, mahasiswa juga mendalami konsep simbiosis mikroalga dan bakteri yang dinilai mampu menciptakan sistem pengolahan limbah modern yang lebih hemat energi dan berkelanjutan.
Norhayati turut memaparkan hasil riset mengenai pengembangan microalgae-bacteria granular sludge untuk pengolahan limbah domestik menggunakan sistem Sequencing Batch Reactor (SBR). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi mikroalga dan bakteri mampu meningkatkan efektivitas pengolahan limbah sekaligus menciptakan sistem biologis yang lebih stabil.
Dosen dan mahasiswa FPIK UB menilai kegiatan ini membuka wawasan baru terkait penerapan bioteknologi kelautan dalam menjawab tantangan lingkungan global, khususnya persoalan pencemaran dan pengelolaan limbah berbasis pendekatan biologis.
“Mahasiswa perlu dikenalkan pada perkembangan riset terkini di bidang bioteknologi laut agar mampu memahami penerapan ilmu kelautan dalam penyelesaian masalah lingkungan secara inovatif dan berkelanjutan,” ujar salah satu dosen pendamping kegiatan.
Pihak Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB menyebut program 3 in 1 menjadi bagian penting dalam memperkuat kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran internasional sekaligus memperluas jejaring akademik lintas negara. Selain memperkaya wawasan ilmiah, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi riset antara Universitas Brawijaya dan Universiti Teknologi Malaysia di bidang bioteknologi laut dan lingkungan.
Melalui program ini, FPIK UB terus mendorong pengembangan atmosfer akademik internasional yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan global. Kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi riset dan pengembangan jejaring akademik antara Universitas Brawijaya dan Universiti Teknologi Malaysia.
Kegiatan tersebut sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta SDG 14 (Ekosistem Laut).
