Ada banyak orang mengira pekerjaan enumerator itu sederhana. Datang ke rumah warga, membuka kuesioner, bertanya beberapa hal, lalu pulang membawa data. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Di lapangan, seorang enumerator bukan cuma bekerja dengan angka. Ia bekerja dengan budaya, bahasa, kebiasaan, dan rasa hormat. Kadang yang paling menentukan bukan pertanyaan di kuesioner, tapi bagaimana cara mengetuk pintu rumah orang lain. Dan semua itu terasa sangat nyata ketika pertama kali bertugas di Pulau Madura.
Madura bukan tempat yang bisa dipahami hanya lewat peta administratif atau tabel statistik. Ia harus dijalani pelan-pelan. Harus didengar logat bicaranya, dirasakan cara masyarakatnya menerima tamu, dan dipahami aturan-aturan kecil yang mungkin tidak pernah tertulis di buku panduan survei.
Di sanalah saya mulai sadar, kerja lapangan sebenarnya adalah sekolah tentang manusia.
Ketika Bahasa Jadi Tembok Pertama di Lapangan
Tantangan pertama di Madura bahkan muncul sebelum wawancara dimulai. Bahasa. Bagi enumerator yang datang dari luar daerah, terutama dari kota besar, ada keterkejutan yang cukup besar ketika menyadari bahwa bahasa Indonesia tidak selalu menjadi bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.
Di desa-desa pelosok, bahasa Madura hidup sangat kuat. Ia bukan cuma alat komunikasi, tapi bagian dari identitas. Cara orang bercanda, marah, bercakap dengan keluarga, bahkan cara mereka menunjukkan rasa hormat, semua mengalir lewat bahasa itu. Akibatnya, enumerator luar sering merasa seperti orang yang tiba-tiba kehilangan pegangan.
Pertanyaan sederhana bisa menjadi panjang karena harus diterjemahkan pelan-pelan. Kadang warga memahami maksudnya, kadang tidak. Kadang jawaban yang diberikan sangat cepat dalam bahasa Madura, sementara enumerator hanya bisa tersenyum bingung sambil mencoba menangkap arti dari potongan kata yang terdengar asing. Menariknya, perubahan mulai terlihat di tingkat birokrasi.
Kalau dulu banyak aparat desa juga kesulitan berbicara bahasa Indonesia, sekarang kondisinya berbeda. Perangkat desa, pamong, dan staf pemerintahan rata-rata sudah cukup fasih berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Tapi ketika masuk lebih dalam ke kampung-kampung kecil, bahasa Madura tetap menjadi bahasa utama masyarakat.
Dan di situ saya belajar sesuatu yang penting,
Jangan pernah datang ke lapangan dengan asumsi bahwa semua orang harus menyesuaikan diri dengan kita.
Kadang justru kita yang harus belajar menyesuaikan diri dengan cara hidup mereka.
RT 0 RW 0: Saat Alamat Tidak Bisa Dibaca dengan Cara Biasa
Ada satu momen yang hampir selalu membuat enumerator baru kebingungan ketika survei di Madura. Melihat alamat dengan tulisan,
RT 0, RW 0.
Awalnya terdengar seperti kesalahan administrasi. Tapi ternyata itu hal yang sangat biasa di beberapa wilayah pedesaan Madura. Banyak desa di Madura tidak menggunakan struktur RT dan RW secara aktif seperti di kota-kota besar di Jawa. Identitas wilayah lebih melekat pada nama dusun, nama kampung, atau hubungan sosial antarwarga.
Akibatnya, mencari rumah responden tidak bisa mengandalkan nomor RT atau petunjuk administratif formal. Cara paling efektif justru sangat sederhana yakni bertanya pada warga sekitar. Dan biasanya, nama yang paling sering muncul adalah Pak Apel, tokoh informal kampung yang tahu hampir semua orang dan semua rumah.
Di situlah saya mulai memahami bahwa masyarakat Madura lebih mengandalkan hubungan sosial daripada sistem administrasi kaku. Orang mengenal tetangganya bukan lewat nomor rumah, tapi lewat hubungan keluarga dan kedekatan sehari-hari.
Bagi enumerator, kondisi seperti ini memang melelahkan di awal. Tapi setelah dipahami, justru terasa lebih manusiawi. Karena ternyata, ada tempat-tempat di Indonesia yang masih hidup lewat hubungan antarorang, bukan sekadar lewat data kependudukan.
Warga Madura Tidak Banyak Basa-Basi, Tapi Sangat Tulus
Kalau ditanya apa hal paling membekas saat survei di Madura, jawabannya mungkin adalah karakter masyarakatnya. Orang Madura terkenal lugas. Mereka tidak terlalu banyak bertanya berlebihan. Tidak suka memutar-mutar percakapan. Tapi justru di situlah letak kehangatannya.
Kalau mereka menerima tamu, mereka menerima dengan tulus. Kalau mereka membantu, mereka membantu tanpa banyak drama. Saya berkali-kali merasakan bagaimana wawancara bisa berjalan sangat lancar hanya karena warga merasa enumerator datang dengan niat baik.
Tidak ada tatapan curiga berlebihan. Tidak ada sikap dingin yang dibuat-buat. Mereka mendengarkan pertanyaan dengan serius, lalu menjawab apa adanya.
Dan karakter ini bukan hanya ditemukan di Pulau Madura. Komunitas masyarakat Madura yang tersebar di pesisir utara Jawa Timur, seperti Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, sampai Banyuwangi, membawa budaya yang hampir sama.
Enumerator yang datang dengan sopan biasanya diterima dengan baik. Dari sana saya belajar bahwa keramahan tidak selalu ditunjukkan dengan banyak bicara. Kadang ketulusan justru terlihat dari kesederhanaan sikap seseorang.
Dua Kata yang Membuka Semua Pintu
Ada satu pelajaran paling penting yang tidak boleh dilupakan saat bertugas di Madura, Jangan masuk rumah tanpa salam. Sesederhana itu.
“Assalamualaikum” bukan sekadar pembuka percakapan. Di Madura, salam adalah tanda hormat, tanda niat baik, dan tanda bahwa seseorang datang tanpa maksud buruk. Anehnya, dua kata itu benar-benar bisa mengubah suasana.
Pintu yang tadinya tertutup terasa lebih terbuka. Wajah yang tadinya serius berubah lebih hangat. Dan percakapan mulai mengalir lebih mudah. Sering kali setelah salam diucapkan, respons warga hampir selalu mirip.
“Waalaikumsalam. Dari mana, Mas?”
“Mau apa?”
Lalu beberapa menit kemudian, kopi sudah tersedia di meja. Kadang lengkap dengan gorengan atau camilan sederhana. Dan itu bukan pencitraan. Itu memang budaya menerima tamu yang masih hidup kuat di masyarakat Madura.
Bahkan enumerator non-muslim biasanya tetap dianjurkan mengucapkan salam ketika datang. Bukan untuk berpura-pura menjadi bagian dari agama tertentu, tapi sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.
Dan masyarakat Madura sangat memahami niat baik seperti itu. Di situ saya sadar bahwa hal kecil yang sering dianggap formalitas ternyata bisa menjadi jembatan paling kuat antar manusia.
Hal Kecil yang Bisa Menentukan Berhasil atau Gagalnya Wawancara
Lapangan mengajarkan bahwa kesalahan besar sering lahir dari hal-hal kecil yang diremehkan. Di Madura, ada banyak gestur sederhana yang ternyata punya makna penting. Misalnya soal menunjuk.
Menggunakan jari telunjuk dianggap kurang sopan. Kalau ingin menunjukkan arah atau sesuatu, masyarakat lebih nyaman menggunakan ibu jari.
Hal kecil? Mungkin. Tapi masyarakat sangat peka terhadap gestur seperti itu. Lalu soal waktu. Menjelang Maghrib, aktivitas survei sebaiknya dihentikan. Karena waktu itu bukan sekadar pergantian siang ke malam. Itu waktu ibadah, waktu keluarga berkumpul, waktu yang dihormati.
Enumerator yang memaksa wawancara di jam-jam seperti itu sering membuat suasana menjadi tidak nyaman. Ada juga soal kehadiran di mushola atau masjid. Ketika azan berkumandang dan enumerator sedang berada di lingkungan kampung, ikut datang ke mushola, meski hanya duduk menunggu, sering dianggap sebagai bentuk penghormatan sosial.
Masyarakat Madura sangat memperhatikan sikap seperti ini. Dan jujur saja, dari sana saya belajar bahwa menghormati budaya orang lain tidak selalu harus lewat tindakan besar. Kadang cukup lewat sikap kecil yang dilakukan dengan tulus.
Kampung yang Pintu Rumahnya Masih Terbuka
Ada sesuatu yang terasa menenangkan ketika berjalan di kampung-kampung Madura. Rumah-rumahnya terbuka. Tidak banyak pagar tinggi. Tidak banyak pintu yang dikunci rapat pada siang hari. Orang duduk santai di depan rumah. Anak-anak bermain di jalan kecil. Tetangga saling menyapa tanpa rasa canggung.
Bagi enumerator, suasana seperti ini membuat pendekatan terasa jauh lebih mudah. Metode random sampling yang biasanya terasa kaku berubah lebih cair. Enumerator bisa berjalan kaki sambil menyapa warga satu per satu.
Dan selama sikap yang dibawa adalah sopan santun, wawancara hampir selalu bisa dimulai dengan baik. Lucunya, penampilan juga sangat berpengaruh. Enumerator yang datang terlalu formal kadang justru membuat warga menjaga jarak.
Sebaliknya, tampil sederhana, tanpa sepatu mencolok, tanpa tas besar, tanpa gaya berlebihan, membuat enumerator lebih mudah diterima. Kadang warga bahkan mengira enumerator adalah santri atau kerabat dari kampung sebelah. Dan itu membuat suasana wawancara terasa jauh lebih alami.
Menjaga Jarak Bukan Berarti Tidak Menghormati
Ada satu tantangan lain yang cukup unik di lapangan yakni menjaga etika sosial ketika mewawancarai responden perempuan. Terutama ketika suaminya sedang tidak ada di rumah. Di Madura, norma interaksi antara laki-laki dan perempuan masih dijaga cukup kuat di banyak wilayah.
Enumerator laki-laki biasanya menjaga jarak fisik dan sikap ketika wawancara berlangsung. Akibatnya, fitur rekaman suara di aplikasi survei kadang tidak menangkap suara responden dengan jelas.
Tapi bagi enumerator berpengalaman, menjaga etika jauh lebih penting daripada memaksakan hasil teknis sempurna. Karena data yang baik tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan kenyamanan responden. Dan dari situ saya belajar satu hal penting,
Profesionalisme bukan hanya soal menyelesaikan target kerja.
Tapi juga soal tahu batas dan menghormati ruang hidup orang lain.
Lapangan Selalu Mengajarkan Kerendahan Hati
Semakin lama bekerja sebagai enumerator, semakin saya sadar bahwa lapangan adalah tempat terbaik untuk belajar rendah hati. Kita datang membawa kuesioner, merasa sedang mencari data penting. Tapi di perjalanan, justru masyarakatlah yang mengajari banyak hal tentang hidup.
Tentang kesederhanaan. Tentang menghormati orang lain. Tentang menerima tamu dengan tulus. Tentang bagaimana hubungan manusia kadang jauh lebih penting daripada angka statistik. Madura mengajarkan bahwa pekerjaan lapangan bukan soal siapa yang paling pintar bicara.
Bukan soal siapa yang paling cepat menyelesaikan target. Tapi soal siapa yang paling mampu hadir dengan hormat di tengah kehidupan orang lain. Karena pada akhirnya, data terbaik lahir bukan dari pertanyaan yang paling canggih. Melainkan dari hubungan yang paling tulus antara manusia dengan manusia lainnya.
Sebuah serial dalam buku Jejak-Jejak Perjuangan Para Enumerator dan Wajah Indonesia yang Terlupakan
sebuah perjalanan yang mengubah cara memandang hidup, negeri, dan kemanusiaan.
Disusun Oleh Riyawan S,Hut
